dr. Darmi Sapti Kurniawati dan Kepeduliannya pada ODHA

Bagi sebagian orang, HIV/AIDS merupakan penyakit yang menakutkan sehingga penderitanya kerap dijauhi dan dikucilkan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Darmi Sapti Kurniawati, dokter Voluntary Counseling and Testing (VCT) dan Care Support Treatment (CST) di RSUD Bangil.

IWAN ANDRIK, Bangil

Ruang VCT mendadak tegang. Seorang perempuan marah-marah setelah mengetahui hasil tesnya positif. Perempuan itu tak menyangka akan terinfeksi HIV/AIDS. Padahal, pihaknya mengklaim dari keluarga orang-orang baik. Termasuk suaminya. Ia yakin tidak berbuat macam-macam.

Salah satu yang jadi sasaran protes perempuan itu adalah dr. Darmi Sapti Kurniawati. “Dimarahi oleh pasien, sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan, ada yang sampai nangis-nangis hingga nyaris pingsan di sini,” kata Darmi -sapaan akrabnya- saat menceritakan pengalaman menjadi dokter VCT dan CST di RSUD Bangil.

Dimarahi pasien hingga mendapati pasien nangis-nangis dan nyaris pingsan, sudah menjadi hal yang biasa. Ia memaklumi karena tidak semua pasien memiliki kekuatan mental yang sama untuk menerima. “Kebanyakan, langsung shock setelah mengetahui hasilnya positif. Upaya kami, terus memberikan motivasi. Jangan sampai pasien semakin drop,” katanya.

Menurut Darmi, terjun menjadi dokter terapis dan konseling bagi ODHA sudah dilakoninya sejak 2012 lalu. Yakni, sejak ditunjuk manajemen untuk mengisi ruang VCT dan CST. Sejak saat itu pula, tidak ada rasa takut baginya dalam berinteraksi dengan ODHA. Karena baginya, penyakit HIV/AIDS tidak mudah menular.

“Malah, saya sangat tertantang. Tidak ada rasa takut untuk menjalankan tugas yang diamanatkan,” terang istri dari Aris Hadi Susanto tersebut. Awal masuk poli VCT, banyak keprihatinan dalam benaknya. Sebab, pasien-pasien yang masuk, rata-rata sudah stadium akhir. Sehingga, penyembuhannya sulit untuk dilakukan.

Ia pun harus telaten karena pasien dengan HIV/AIDS kebanyakan tidak memiliki motivasi untuk bertahan hidup. Terlebih lagi dengan stigma miring masyarakat. Semakin membuat ODHA kerap merasa putus asa. Bukan hanya motivasi untuk hidup yang berkurang. Bahkan, tak jarang dari mereka mencari teman untuk mati.

“Jadi, ada pula yang sampai berpikir tidak ingin mati sendirian. Sebisa mungkin mereka mencari teman. Dengan niatan untuk menularkan penyakitnya,” ulasnya. Hal inilah yang coba dipecahkannya. Penyadaran terus dilakukannya agar fenomena gunung es penyakit mematikan itu bisa diminimalisasi.

Meski tak mudah, pelan tapi pasti banyak ODHA yang mendapatkan manfaat. Mereka yang semula tak yakin bisa bertahan lama, akhirnya bisa sehat. Meski tak bisa sembuh total.

“HIV itu kan ada obatnya. Meski tidak menyembuhkan, setidaknya bisa membendung virusnya tumbuh. Itu, yang terus kami sampaikan, sembari membujuk dan mengancam agar mereka mau minum obat,” sambung dokter yang juga memiliki keahlian di bidang kecantikan dan akupuntur tersebut.

Ia mengaku, tak sedikit dari pasiennya yang akhirnya membaik. Namun, tak sedikit pula yang akhirnya meninggal dunia di depan matanya ketika menjalani perawatan di rumah sakit. “Mereka rata-rata meninggal bukan karena HIV-nya. Melainkan penyakit lain yang diderita,” jelasnya.

Melihat mereka yang meninggal, tentu membuatnya sedih. Apalagi, selama ini mereka sudah dianggap sebagai teman. Berbeda ketika dari penderita itu sehat, Darmi mengaku sangat bahagia. Ada perasaan puas yang dirasakannya. Hal itu pula yang membuatnya memperoleh dukungan dari keluarga untuk menjadi dokter bagi ODHA.

Bahkan, ketika ia memberi perhatian lebih pada ODHA, tak ada penolakan dari keluarga. “Justru keluarga saya memberikan dukungan. Tidak ada rasa takut yang kami rasakan,” tandas Darmi. Karena bagi Darmi, hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain. Dasar itulah yang membuatnya berani menghadapi segala tantangan.

“Mungkin ada yang menganggap HIV/AIDS itu menjijikkan. Tapi, tidak dengan kami,” sampainya. Perjuangan untuk membantu ODHA, tidak hanya di situ. Ia mengaku, menerima layanan pengambilan obat bagi mereka yang tak mau ke RSUD Bangil. Bahkan, tak jarang ia mengantarnya. “Mereka bisa mengambil obat di rumah saya,” urainya.

Ia berharap, stigma miring masyarakat terhadap ODHA bisa dihilangkan. Karena stigma itulah yang bisa membunuh secara pelan-pelan terhadap ODHA. “Kalau tertekan secara terus menerus, kondisinya pasti akan drop. Risiko kematian, justru muncul dari tekanan itu,” ujar dokter yang mendapat reward ke Thailand berkat program ODHALINK itu. (rf)