Puluhan Jamaah Umrah yang Telantar Terpaksa Tidur di Depan Hotel

Ulah biro travel nakal membuat puluhan jamaah umrah asal Kabupaten Probolinggo, telantar selama di Mekkah-Madinah. Bahkan, sebelum terbang ke tanah suci, jamaah harus tertahan selama 14 hari. Selama itu, mereka tinggal di tempat penampungan kantor travel umrah di Sidoarjo.

—————

Semua umat Muslim pasti ingin bisa ke tanah suci Makkah. Baik itu haji ataupun umrah. Hal itupula yang ada di benak Hartono, warga Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih. Saat mendapat tawaran paket umrah yang murah, tanpa ada rasa curiga, Hartono pun ikut paket umrah 9 hari.

IBADAH TAK NYAMAN: Puluhan jamaah umrah asal Kabupaten Probolinggo yang sempat telantar di tanah suci. (Istimewa)

Singkat cerita, Hartono bersama keluarga dan rombongan calon jamaah umrah lainnya dijadwalkan berangkat tanggal 22 April lalu. Layaknya masyarakat pada umumnya, keluarga Hartono mengadakan tasyakuran atau selametan pemberangkatan di rumahnya. Hingga akhirya, tanggal 22 April, rombongan calon jamaah umrah berangkat ke Juanda, dengan titik kumpul di Masjid Tongas.

”Kami adakan tasyakuran selamaten pemberangkatan mas. Supaya ibadah umrah-nya lancar dan mabrur,” kata Badrus Sholeh, putra pasangan suami istri jamaah umrah Hartono-Fatimatus Zahro pada Jawa Pos Radar Bromo Senin (13/5).

Badrus menceritakan, saat rombongan jamaah umrah berangkat naik bus, awalnya dirinya lega dan tenang. Namun anehnya, beberapa hari tidak ada kabar dari keluarganya setelah pemberangkatan. Hingga akhirnya, empat hari setelah pemberangkatan dapat kabar dari tetangga kalau jamaah umrah ada di tempat penampungan.

”Saya bingung, karena handphone bapak dan adik tidak aktif semua. Kemudian, saya minta suami teman untuk melacaknya lokasinya. Ternyata benar, dari nomor handphone adik saya, posisinya ada di wilayah Sidoarjo,” terangnya.

Badrus melanjutkan, dihari ke delapan pasca pemberangkatan, dirinya bersama dua orang keluarga jamaah umrah datang ke Sidoarjo. Beruntung share lokasi yang dikirim suami temannya itu benar tiba di kantor PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour. Akhirnya, dirinya masuk dan langsung menemui keluarganya di ruang aula. Disitulah, keluarganya dan jamaah umrah lainnya ditampung.

Ruangan itu ada tumpukan koper-koper para jamaah umrah . Mereka selama berada di tempat penampungan itu diberi makan. Tapi harus bayar, tiap kali makan. ”Para jamaah umrah waktu itu sepakat untuk menjalani dan menunggu pemberangkatan. Saya pun diminta untuk pulang. Sebelum pulang, saya menemui Sholehah Madjid pemilik travel itu untuk meminta kepastian pemberangkatannya,” ungkapnya.

Hingga akhirnya dikatakan Badrus, ada janji pemberangkatan tanggal 2 Mei. Lagi-lagi, pihak PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour tidak tepat janji. Sesampai di Bandara Juanda, rupanya tiket yang disiapkan hanya separo. Sehingga, sebagian jamaah berangkat ke Madinah dan sebagian lagi terpaksa kembali ke tempat penampungan.

”Yang tidak habis saya pikir, adik saya dan orang tua terpisah kloter. Adik saya terima tiket lebih dulu, jadi harus berangkat duluan. Sedangkan orang tua saya, tidak dapat tiket,” terangnya.

Sesampai di tempat penampungan, dikatakan Badrus, dirinya kembali mendesak pada pemilik travel. Hingga akhirnya, mereka dijanjikan berangkat ke tanah suci Makkah tanggal 6 Mei. Sesuai janji, tanggal 6 Mei rombongan kloter dua berangkat.

”Waktu tanggal 6 Mei di Bandara itu, ada sebagian rombongan dari luar daerah yang tidak dapat tiket. Tapi dari Probolinggo semuanya dapat tiket,” terangnya.

Cerita perjuangan jamaah umrah tidak berhenti disitu. Badrus menceritakan, adiknya yang menjadi rombongan kloter pertama tiba di Madinah, bisa langsung dapat hotel. Meskipun, kamar hotel itu belum dibayar oleh pihak PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour.

Sementara orang tuanya bersama jamaah umrah kloter kedua, tiba di Madinah lebih sengsara. Mereka tidak mendapatkan kamar hotel seperti yang dijanjikan. Sehingga, semalam itu keluarga dan rombongan terpaksa tidur di depan hotel.

”Sampai akhirnya, bertemu dengan pihak travel umrah dari Medan. Pria itu membantu untuk menyediakan penginapan lebih dulu. Nanti soal biaya, dibayar setelah pulang ke Indonesia. Jadi, orang tua saya dan rombongan kloter dua tidak dapat hotel dari PT Shabilla Ebaldo Utama Rabat Tour,” terangnya.

Badrus menceritakan, sesuai rekaman video yang dikirim adiknya, Minggu sore (12/5), ternyata, adiknya bersama rombongan jamaah kloter dua ada di Madinah. Mereka berada di penginapan yang berjarak sekitar 3 kilometer dari masjid Nabawi di Madinah. Nah, untuk makan saja mereka ke masjid untuk dapat takjil gratis.

”Kalau orang tua saya dan kloter dua, masih ada di Makkah. Mereka mau ke Madinah saja, tidak bisa. Karena semua bus, tidak ada yang mau angkut jamaah Rabat Tour. Meski mereka bayar sendiri-sendiri langsung,” terangya.

Sutima, salah satu keluarga jamaah umrah lainnya mengaku, dirinya ingin ibunya bisa segera pulang. Cukup sudah penderitaan yang dialami ibunya dan jamaah umrah lainnya. Mulai dari pemberangkatan yang ditunda-tunda sampai ditampung di Sidoarjo selama 14 hari.

”Sesuai jadwal, besok (14/5, Red) ibu saya harusnya pulang ke rumah. Jadi, saya minta pada pihak travel, untuk siapkan tiket pemulangan ibu dan jamaah umrah lainnya,” harapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 32 jamaah umrah asal Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih, telantar di Madinah. Mereka kini tertahan di Madinah lantaran biro travel yang memberangkatkan tidak tanggung jawab atas kepulangan para jamaah. Selain itu, mereka pun akhirnya harus menyewa sendiri hotel yang digunakan selama ini. (mas/fun)