Qosidah Almawaddah, Senandungkan Salawat-Lagu Islami untuk Dakwah

Kegiatan diba’an dengan lantuan salawat Nabi Muhammad SAW, menjadi rutinitas setiap malam Jumat di Pondok Pesantren Putri K.H. A. Wahid Hasyim, Kecamatan Bangil. Semula hanya kegiatan rutin tanpa iringan alat musik religi. Seiring perkembangannya, kegiatan ini menjadi sarana dakwah dan media lomba kegiatan kasidah.

————————————- 

DIBENTUK pada 2010, grub Qosidah Almawaddah, telah merambah sejumlah daerah. Tidak hanya Kabupaten dan Kota Pasuruan. Karena grub yang dilahirkan dari Ponpes Putri K.H. A. Wahid Hasyim Bangil ini kerap tampil di luar kota seperti Surabaya dan Malang.

Baik sebagai undangan dalam sebuah acara untuk kegiatan dakwah ataupun kegiatan lomba-lomba yang tak jarang berbuah prestasi. Tidak hanya di tingkat Jawa Timur, tapi juga di ajang nasional.

GIGIH: Personel grub Qosidah Almawaddah saat berlatih. (Istimewa)

Pengasuh Ponpes Putri K.H. A. Wahid Hasyim Bangil Hj. Siti Aisyah mengatakan, di balik seabrek prestasi Qosidah Almawaddah, grub ini awalnya hanya kegiatan rutin pondok. Setiap Kamis malam atau malam Jumat di pondok ini selalu digelar kegiatan salawatan, seperti diba’an. Kegiatan diba’an itu dimulai sejak 1995. “Awalnya hanya diba’an dengan nada-nada biasa, tanpa iringan alat musik,” ujarnya.

Hingga suatu saat, terpikir agar membuat diba’an lebih semangat, digunakanlah instrumen musik. Awalnya belum menggunakan alat musik sungguhan seperti gamelan, orgen, dan lainnya. Melainkan hanya memakai alat-alat dapur. Seperti,  gayung dan timba. “Dulu alat-alat seadanya yang digunakan karena untuk membeli alat-alat musik kan mahal,” ujarnya.

Pada 2005, penggunaan alat untuk mengiringi salawatan dan diba’an ini ditingkatkan. Bukan menggunakan alat dapur, tapi menggunakan hadrah. Dari sana, dikembangkan untuk memanfaatkan sejumlah instrumen musik lain. Agar membuat lantunan salawatan yang dikumandangkan lebih merdu.  “Baik yang melantunkan maupun yang mendengarkan bisa lebih semangat. Maka, pelan-pelan terbentuklah grub Qosidah Almawaddah,” ujarnya.

Pada 2010, terbentuklah grup Qosidah Almawaddah. Sesuai perkembangan zaman, peralatan yang digunakan semakin beragam. Ada angklung, orgen, rebana, dan berbagai alat musik lainnya. Melalui cara itulah, dakwah bisa lebih berwarna dan meriah. “Kami ingin mengikuti dakwah seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga, yakni dengan kesenian seperti gamelan,” ujar Siti Aisyah.

Melalui itu pula, syiar dakwah yang direalisasikan makin berkembang. Karena tidak hanya di lingkungan pondok, tapi juga merambah luar kota. “Karena banyak undangan yang kami dapatkan di luar kota. Kami juga sering mengikuti lomba-lomba,” ujarnya. (one/rud)