Sebelum Tabrakan, Sopir Bus Anggun Krida Berulang Kali Minta Maaf

LECES – Iwan, kondektur bus Anggun Krida menjadi saksi saat Kurniawan Wahyudi, adiknya, yang merupakan sopir bus tersebut, meregang nyawa di RSUD dr Mohamad Saleh usai kecelakaan maut di Desa Tigasan Wetan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

Kamar mayat dan IGD RSUD Mohamad Saleh Kota Probolinggo banyak didatangi warga, Rabu (8/5). Mereka adalah keluarga korban kecelakaan maut antara bus Anggun Krida dengan truk muatan buah naga. Tangisan sebagian dari mereka, memenuhi seantero ruangan kamar mayat.

Ada dua jasad yang ada di dalam kamar mayat. Keduanya masing-masing Kurniawan Wahyudi, sopir bus dan Sunarto, sopir truk. Di lain tempat, yakni di IGD, tampak pria berkacamata dengan topi cokelatnya tengah duduk lemas. Di tangannya terdapat bekas darah yang sudah kering.

Pria itu hanya terdiam dan duduk lemas di samping tempat parkir rumah sakit. Sesekali pria itu mengangkat dan menelepon kerabatnya. Pria berkacamata itu bernama Iwan. Pria 37 tahun asal Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang itu merupakan kakak kandung sopir bus yang tewas.

Saat Jawa Pos Radar Bromo mendekati Iwan, ia terdengar tengah berkomunikasi dengan sang ayah melalui telepon. Dalam percakapan itu, Iwan meminta maaf tidak bisa menolong adiknya. Iwan juga meminta sang ayah menjemput istri adiknya ke rumah duka. Rencananya, sang adik akan dimakamkan di Lumajang.

“Pak saya minta maaf tidak bisa nolong adik. Adik sudah meninggal. Bapak ndak usah ke sini. Biar adik sama saya saja langsung pulang ke rumah. Sulis (istri Kurniawan, Red) bapak jemput saja, kasihan dia,” terang Iwan pada sang ayah.

Kepada Jawa Pos Radar Bromo Iwan mengaku, jika adiknya telah menikah dan memiliki anak. Tak banyak yang disampaikan Iwan. Ia masih shock. Sambil memegang kepalanya, Iwan mengaku pusing. “Saat sahur di Lumajang, tak ajak makan dia tidak mau. Dia hanya makan roti saja. Dia mau makan saat di Surabaya saja,” katanya.

Saat di perjalanan, gelagat sang adik juga aneh. Tak seperti biasanya, dia selalu meminta maaf. “Saya sempat khawatir, ada apa dengan adik saya. Saya kan duduk di depan bersamanya. Dia terus meminta maaf jika ada salah. Bahkan, cara mengemudinya tidak biasa. Saya tanya kondisinya, ia bilang tidak apa-apa,” kata Iwan.

Ternyata, permintaan maaf itu menjadi pesan tersirat yang ia ungkapkan sebelum berpisah. Luka menganga di kepala sang adik, menjadi bukti bahwa risiko di jalan sungguh besar.

Iwan mengaku akan membawa adiknya tanpa dimandikan terlebih dahulu. Alasannya, ia tak punya uang membayar biaya memandikan jenazah senilai Rp 550 ribu. (rpd/rf)