Serunya Ngabuburit dengan Mencari Kerang ala Warga Randutatah Paiton

Ngabuburit atau menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa, sudah menjadi kebiasaan warga saat Ramadan. Namun, tradisi ngabuburit warga berbeda-beda di tiap daerah. Di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, warga ngabuburit dengan cara mencari kerang.

MUKHAMAD ROSYIDI, Paiton

Selasa sore (7/5), puluhan orang memadati bibir pantai Duta di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Dengan berjongkok atau duduk di pasir, tangan mereka sibuk mengais pasir.

Itulah kegiatan warga sekitar pantai menjelang magrib. Mereka ngabuburit dengan cara mencari kerang. Selain menunggu waktu magrib, mereka mencari kerang untuk dimasak. Ada juga yang untuk dijual dan hasilnya disimpan untuk kebutuhan Lebaran.

Riska, juga tak ketinggalan. Warga asli Blitar yang sedang berkunjung ke rumah saudaranya itu, ikut-ikutan mencari kerang. Selain menikmati keindahan pantai, ia sekaligus membantu saudaranya mencari kerang.

“Ini ngabuburit, sekaligus bantu saudara. Jadi, untuk mengisi waktu luang, saya dan saudara mencari kerang. Sekaligus menikmati keindahan pantai menjelang sore,” ujarnya.

Riska yang masih belajar mencari kerang, mengaku sedikit kesulitan. Tetapi, ia cepat beradaptasi. Dengan melihat cara orang-orang di sekitarnya mencari kerang, Riska pun langsung bisa. Memang, belum banyak yang didapat. Hanya sekantung tas plastik ukuran satu kilogram.

“Ini sudah cukup untuk lauk berbuka nanti. Kan ditambah lagi kerang yang didapat saudara saya,” katanya.

Memang menikmati suasana pantai di sore hari, sangat mengasyikkan. Apalagi bisa melihat terbenamnya matahari, bagi Riska sangat istimewa.

“Kalau di rumah saya di Blitar kan jauh dari pantai. Jadi, jarang melihat pantai saat sore. Apalagi melihat matahari terbenam. Kalau di sini bisa, bagus sekali,” katanya.

Berbeda lagi dengan Sumiati, warga setempat. Dia mencari kerang bukan untuk dikonsumsi. Namun, untuk dijual. Katanya, uang yang didapat dari mencari kerang itu cukup besar. Tiap satu kilogram kerang bisa dijual Rp 20 ribu.

“Daripada diam di rumah mending di sini (pantai, Red.) mencari kerang. Selain ngabuburit, juga mencari rezeki,” katanya.

Sum -sapaan akrabnya- berhasil mengumpulkan kerang sekitar dua plastik besar. Kira-kira jika ditimbang beratnya 3-4 kilogram. Dia datang tidak sendiri. Namun, bersama anaknya yang baru berumur 7 tahun.

Selanjutnya, semua kerang yang didapat itu akan dijual. “Hasil jualan, ditabung. Buat tambahan biaya persiapan Lebaran. Selain mengandalkan dari suami kan juga harus bisa mencari sendiri,” ungkapnya.

Tidak hanya perempuan dewasa. Ngabuburit mencari kerang di Pantai Duta juga dilakukan laki-laki dan anak-anak. Mereka mencari kerang sembari menikmati angin semilir di bibir pantai.

Mereka langsung menghentikan aktivitas, begitu berkumandang salawat Tarhim dari pengeras suara masjid di desa setempat. Tarhim sebagai pertanda akan datangnya waktu magrib, membuat mereka semua bergegas pulang.

Anang, salah satu bocah yang juga mencari kerang mengaku, kerang yang didapatnya untuk dimasak. Menurutnya, menu buka puasa dengan kerang adalah favoritnya.

“Kalau saya cari kerang biar bisa dimasak. Mulai ayah, ibu, dan keluarga lain suka kerang. Daripada main di jalan, mending mencari kerang,” katanya.

Bocah yang baru berusia 13 tahun itu mencari kerang bersama lima temanya. Hasilnya, kata Anang, akan dibagi rata.

“Nanti ini dibagi. Kan kami mencari bersama-sama. Memang setiap sore kami bermain di pantai sambil mencari kerang. Kebetulan puasa, jadi sambil menunggu berbuka puasa,” ujarnya.

Sama seperti yang lain, Anang menghentikan kegiatannya mencari kerang begitu salawat Tarhim terdengar. Setelah membagi kerang sama rata dengan teman-temannya, Anang berlari pulang. Di benaknya, terbayang gurihnya kerang sebagai lauk berbuka. Hmm lezat. (hn)