Slamet Juhanto, Guru di SMPN 3 yang Aktif Membuat Karya Seni

Kecintaan Slamet Juhanto pada seni tidak perlu dipertanyakan lagi. Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemkot Pasuruan ini aktif menciptakan karya seni saban tahun. Tidak terhitung jumlah karya seni yang dihasilkan dari tangan dinginnya.

FAHRIZAL FIRMANI, Gadingrejo

Nyata Tenan Kondhange Kutho Pasuruan
Snadyan Cilik Tlatahe Ngayomi
Ora Kalah Nyatane Karo Liyane
Njaga Moto Pasuruan Kota Bhakti

Penggalan bait pertama lagu “Pasuruan Kondhang” itu dinyanyikan dengan merdu oleh Slamet Juhanto. Dia membawakan tembang jawa tersebut dengan penuh penghayatan. Penonton yang menyaksikan seakan terbius mendengarkan bait demi bait dari lagu itu.

Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Slamet Juhanto. Pria asal Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur ini memang dikenal sangat piawai dalam menciptakan lagu. Lagu “Pasuruan Kondhang” itu sendiri merupakan salah satu hasil karyanya.

“Saya memang sangat mencintai seni. Entah itu seni tari, seni musik hingga seni rupa,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela kesibukannya mengajar.

Slamet-sapaan akrabnya mengungkapkan darah seni yang dimilikinya tidak terlepas dari ayahnya yang dikenal sebagai pembuat wayang kulit di Kabupaten Nganjuk. Alhasil, sejak masih duduk di bangku SMP, rasa cinta pada seni semakin kuat.

Tak jarang, prestasi pun berhasil ia dapatkan. Seperti juara II menyanyikan lagu nasional tingkat SD dan SMP. Saat ia memutuskan untuk bersekolah di SMKN I Kota Surabaya, ia berhasil menjadi juara II untuk kategori lagu daerah tingkat SMK.

Usai lulus dari bangku kuliah, ia memilih mengabdi sebagai staf di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan pada 1998. Saat itulah, bakat seninya pun semakin terasah. Ia berhasil menciptakan dua karya untuk festival lagu daerah dan iringan. Yakni, Tari Rancak Pasuruan dan Tari Kidung Pasuruan.

“Pada 2003 saya memilih menjadi tenaga kontrak karena rasa cinta saya pada Kota Pasuruan. Saya berharap diri saya ini bisa bermanfaat bagi Kota Pasuruan,” sebutnya.

Anak ketiga dari enam bersaudara ini menyebut tidak terhitung karya yang diciptakannya untuk Kota Pasuruan. Salah satunya, dirinya menggagas senam daerah khas Kota Pasuruan yang diberi nama “Pasuruan Kondhang” pada 2017 lalu.

Senam ini diberi nama “Pasuruan Kondhang” tidak terlepas dari iringan lagu yang berjudul “Pasuruan Kondhang” yang diciptakan pada 2012. Senam daerah khas Kota Pasuruan ini berdurasi selama 6,3 menit. Dan pertama kali ditampilkan saat acara tahun baru pada 2018 di GOR Untung Surapati Kota Pasuruan.

Saat itu, tidak kurang dari 20 peserta membawakan serta menyanyikan senam dan lagu “Pasuruan Kondhang”. Kini, lagu dan senam daerah “Pasuruan Kondhang” ini rutin ditampilkan saat acara Pemkot maupun kegiatan senam di SD dan SMP setiap hari Jumat.

“Pasuruan Kondhang ini menceritakan tentang sejarah dan budaya di Kota Pasuruan. Ide penciptaannya sendiri agar masyarakat semakin mencintai Kota Pasuruan,” jelasnya.

Pria yang kesehariannya menjadi guru kesenian di SMAN 3 Pasuruan ini mengaku dirinya sudah menghasilkan puluhan karya baik lagu maupun tari. Di antaranya, 40 karya lagu campur sari seperti lagu Iling Biyen, Kidung Pasuruan dan lagu Pasuruan Kondhang.

Dari karya tersebut, sejumlah prestasi berhasil diperoleh. Yaitu, 10 penyanyi dan 5 penata musik terbaik di festival karawitan Jawa Timur, 10 terbaik Gatra Madura Tapal Kuda tingkat Jawa Timur pada 2011 dan diundang mengikuti parade seni gamelan Cak Durasim di Kota Surabaya pada 2018.

Ketua Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Pasuruan ini mengaku karya-karyanya memiliki pesan moral tentang kecintaan pada alam, sosial dan bakti pada daerah. Agar tidak kehabisan ide, dirinya kerap mendengarkan musik dan melihat tari saat waktu luang.

“Ide itu biasanya muncul tiba-tiba. Kalau sudah begitu, langsung saja saya tulis di kertas kosong agar tidak lupa,” pungkas Sarjana Tari dan Musik di Universitas Surabaya (Unesa). (fun)