Kota Pasuruan Targetkan Raih Level Madya Kota Layak Anak, Ini Upayanya

NIKMATI TAMAN: Sejumlah bocah berada di taman di Kelurahan Purutrejo. Kota Pasuruan saat ini berupaya meningkatkan hak pemenuhan atas anak. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PURWOREJO – Menaikkan status Kota Pasuruan sebagai Kota Layak Anak (KLA) level Madya menjadi target Pemkot Pasuruan tahun ini. Karena itu, Pemkot Pasuruan terus berupaya meningkatkan pemenuhan hak anak di Kota Pasuruan. Salah satunya dengan melibatkan peran kelurahan.

Kabid Perlindungan Anak (PA) pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Ani Harini menyebut, seluruh kelurahan di Kota Pasuruan sudah menjadi kelurahan layak anak. Deklarasi ini diwujudkan pada 2018.

Kendati demikian, Pemkot masih terus berupaya meningkatkan pemenuhan hak anak di tiap kelurahan. Sebab, Pemkot menargetkan mampu mencapai level Madya tahun ini usai memperoleh level Pratama dalam tiga tahun terakhir.

“Sebanyak 34 kelurahan di empat kecamatan memang sudah masuk kelurahan layak anak. Namun, tim gugus tugas KLA di masing-masing kelurahan masih terus bekerja,” jelasnya.

Untuk memenuhi target tersebut, kata Ani, Pemkot bakal melibatkan peran setiap kelurahan untuk meningkatkan pemenuhan hak anak dan memfasilitasi segala haknya. Baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan.

Ia lantas menjelaskan jika di sebuah kelurahan terjadi kasus kekerasan pada anak, tidak lantas membuat status kelurahan layak anak dicabut. Yang terpenting adalah bagaimana peran dari kelurahan tersebut dalam penanganannya.

Selain itu, pihaknya rutin membina anak. Dari pembinaan diharapkan agar anak ikut berperan sebagai pelopor dan pelapor. Pelopor yaitu mereka dituntut menggerakkan anak lainnya untuk ikut tindakan kebaikan. Misalnya, menjadi siswa yang berprestasi.

Sementara pelapor yaitu mereka diharapkan dapat berperan serta dalam perlindungan anak di Kota Pasuruan. Misalnya dengan segera melaporkan pada pihak yang berwenang jika ada tindakan kekerasan pada anak. Misalnya, melapor ke sekolah, guru, orang tua, ataupun polisi.

“Kami rutin melakukan sosialisasi melalui guru pada siswa untuk memberikan pemahaman tentang hak anak dan kekerasan pada anak,” pungkasnya. (riz/fun)