Sekuriti Ini Seorang Barista, Racikan Kopinya Digemari Pejabat

Berawal dari sales kopi, Mohammad Erwin, warga Jalan Tawes, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, mampu mengembangkan dirinya menjadi seorang barista. Kopi kreasi lelaki yang juga sekuriti sebuah bank ini, bahkan digemari pejabat hingga tokoh-tokoh agama.

IWAN ANDRIK, Bangil

Membuat secangkir kopi murni, tak semudah menyeduh kopi sasetan. Sebelum digiling, biji kopi harus ditimbang agar mendapatkan ukuran yang sesuai. Jangan terlalu banyak ataupun kurang. Itu jika penikmat kopi ingin memiliki cita rasa yang sesuai. Usai digiling, kopi dimasukkan ke tupper. Kopi kemudian dimasukkan ke dalam alat, sesuai dengan keinginan.

Bila ingin membuat kopi presso, tinggal memprosesnya ke rock presso. Baru kemudian dituangkan air matang. “Air pun tidak boleh 100 derajat Celsius. Karena kalau sampai 100 derajat Celsius, cita rasa kopi bisa hilang dan bisa membuat perut kembung. Idealnya 85 sampai 90 derajat Celsius,” ungkap Mohammad Erwin.

Saat ditemui di kafe tempatnya berbisnis kopi, Erwin memang tengah meracik kopi presso. Di kafe miliknya itu, tampak sejumlah alat untuk meracik kopi. Dengan cekatan, ia menimbang biji kopi. Tak hanya kopi siap seduh, kopi yang sudah dikemas juga tersedia.

Erwin mengungkapkan, membuat kopi menurutnya bagian dari seni. Ada proses dalam pembuatannya, yang harus dilalui tahapan demi tahapan. Tidak bisa sembarangan. Karena berkaitan dengan cita rasa kopi itu sendiri. “Sentuhan yang pas, akan tercipta cita rasa kopi yang Mantul (mantap betul, Red),” katanya sambil tertawa.

Seni itulah, yang membuatnya nyaman menjadi seorang barista. Karena ia bisa berkreasi membuat kopi murni sesuai dengan seleranya. Dan, tentu saja nikmat. Maklum, penikmat kopi selama ini tidak memedulikan soal takaran kopi dan gula, sampai suhu air panas yang digunakan.

“Banyak masyarakat yang lebih menyukai kopi sasetan. Selain murah, juga mudah dalam membuatnya. Tapi sebenarnya, ada dampak kesehatan di kemudian hari,” imbuhnya.

Erwin mengatakan, menjadi seorang barista mulai ditekuninya sejak 2017. Mulanya, ia hanya sebagai sales kopi asli Kabupaten Pasuruan pada 2016. Kopi itu diedarkannya di wilayah Kabupaten Pasuruan serta ke kota-kota tetangga. Seperti Sidoarjo hingga Surabaya.

Dari situ, ia banyak ketemu pelanggan. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang tanya-tanya basecamp. Sampai akhirnya, ia membuka kedai kopi, di bekas garasi rumahnya. Ia pun semakin semangat ketika ada kenalan almarhum ayahnya yang bernama Mustakim. Kenalan ayahnya itu, mengira ia meneruskan jualan kopi ayahnya.

“Dari situ saya semangat untuk lebih jauh terjun di dunia kopi. Saya kemudian sekolah barista di Malang tahun 2017,” kenangnya. Dari sekolah itu pula, ia iseng-iseng ikut lomba cita rasa kopi di Aceh tahun 2017. Siapa sangka, kopi kreasinya diminati dewan juri. Hingga membuatnya diganjar juara ke dua. Usai dapat penghargaan, motivasinya makin berlipat.

Ia pun semakin gencar memasarkan kopi murni buatannya. Erwin memilih sistem antar jemput untuk kopi murni racikannya tersebut. Meski sejatinya, ia sudah punya kedai kopi yang dinamai Garasi Kopi Shop. Namun, pelanggannya tak serta merta datang ke tempatnya.

Maklum, mereka rata-rata pejabat. Mulai dari anggota dewan hingga kalangan gus-gus. “Saya memang lebih suka ngantar ketimbang melayani gus-gus atau pejabat di kedai saya,” aku suami dari Tri Fajar Wati ini. Meski sibuk menjadi seorang barista, ia tak melupakan tugasnya. Yakni, sebagai sekuriti di salah satu bank daerah di Bangil.

Baginya, barista merupakan hobi yang bisa menambah penghasilan. “Rasa capek usai bekerja, bisa lenyap setelah berbaur dengan kopi,” kelakar bapak dua anak ini. Walaupun tampak mudah, jalan sebagai barista tak selalu mulus. Karena tak jarang, cemoohan datang. Apalagi, ketika orang tersebut belum mengenal kopi murni.

Rasa pahit atau asam yang khas memang berbeda dengan kopi-kopi sasetan. “Tapi, justru manfaatnya bagi kesehatan lebih terasa. Baik untuk jantung dan masalah kesehatan lainnya,” katanya. (rf)