Ratusan Rumah di Sidogiri Kebanjiran, Akses Sempat Putus

KRATON-Banjir masih mengancam warga Pasuruan. Senin (18/3) malam, puluhan rumah di Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan kembali terendam.

Sedikitnya, 825 kepala keluarga (KK) terdampak banjir. Banjir ini mulai datang sekitar pukul 17.00. Petang itu, hujan melanda sejumlah wilayah Pasuruan dengan cukup deras.

Akibat tingginya curah hujan ini, air sungai Sumber Penang yang melewati Desa Sidogiri meluap. Luapan air itu menggenangi rumah penduduk di Dusun Sidogiri dan Dusun Wangkal.

Ketinggian air yang masuk ke permukiman warga pun berbeda-beda. Untuk Dusun Sidogiri, ketinggian air mencapai 55 sentimeter dan mengakibatkan 800 KK di dusun tersebut terendam banjir. Sementara di Dusun Wangkal, ketinggian air mencapai 30 sentimeter dan 25 KK terendam banjir.

Ketinggian air mencapai puncaknya selama dua jam mulai pukul 18.00 sampai pukul 20.00. Akibatnya, akses utama menuju Desa Sidogiri dari arah Kecamatan Pohjentrek di sisi selatan dan Kecamatan Wonorejo di sisi barat, terputus selama beberapa jam. Sebab, banjir baru surut sekitar pukul 22.00.

Kapolsek Kraton AKP Masroni menerangkan, banjir kali ini merupakan kali ketiga selama 2019. Sebelumnya, banjir terjadi pada Januari dan Februari lalu.

“Tidak ada korban jiwa. Hanya kerugian meteri sekitar Rp 175 juta. Kami sudah koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan. Termasuk membantu evakuasi warga yang terendam banjir,” jelas perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu.

Sementara Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana menyebut, penyebab utama banjir di Desa Sidogiri ini karena faktor alam dan nonalam.

Curah hujan di wilayah sekitar seperti Rembang dan Sukorejo tercatat di atas 50 mm per jam. Akibatnya, anak sungai Welang dan Sumber Pinang tidak mampu menampung volume air.

Sementara faktor nonalam perlu dilakukan normalisasi berupa pendalaman dan pelebaran. Pihaknya pun sudah mengusulkan hal ini ke Provinsi, namun karena keterbatasan anggaran, belum ada penanganan.

“Perbaikan drainase perlu dilakukan seperti selokan dan sistem pembuangan air. Ke depannya perlu direncanakan jalan inspeksi di sempadan anak sungai welang. Hal ini mengingat jarak antara permukiman dan sungai sangat dekat. Fungsinya, untuk jalur alat berat dan meletakkan material lumpur,” jelasnya. (riz/mie)