Dulu Dikenal Kampung Dextro, Kini Jadi Taman Baca Tambaan

Puluhan bocah tampak memegang buku di atas dermaga bercat biru muda. Kedua bola mata mereka tampak berkeliaran. Seolah berirama, mengikuti susunan kalimat yang tertuang di atas kertas-kertas itu.

MUHAMAD BUSTHOMI, Panggungrejo

Sejumlah bocah tampak berkerumun, membentuk lingkaran kecil. Raut ceria tergambar di wajah mereka. Kelompok ini tengah beradu cerita mengenai bacaan yang baru saja dituntaskannya. Aktivitas semacam itu berlangsung setiap pekan. Tepatnya di hari Minggu.

Ketika hari mulai menjelang senja. Dari sudut kampungnya, mereka berduyun-duyun datang ke dermaga di kawasan pesisir pantai utara. Sebuah dermaga sepanjang 27 meter yang berada di Kelurahan Tambaan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, bocah-bocah itu semakin terbelalak.

Begitu mendapati ratusan buku terpampang, berjajar rapi diatas dermaga. Mereka lantas memilih satu buku ke buku lainnya. Setelah menemukan buku yang dirasa cocok, bocah-bocah itu mencari tempat duduk. Kemudian mulai membaca. Bocah-bocah bisa menikmati taman bacaan itu sejak setahun terakhir.

Dulunya, dermaga itu nyaris mangkrak. Kondisinya pun tak terawat. Kayu-kayu yang tersusun, kusam. Namun sejumlah kumpulan pemuda setempat mengubahnya menjadi taman bacaan yang disukai anak-anak. Para pemuda itu kini mendaulat dirinya dalam Komunitas Arek-Arek Tambaan. Komunitas yang baru dibentuk akhir 2017 lalu itu merangkul seluruh pemuda. Khususnya pemuda Tambaan.

Mulanya mereka hanya disatukan dalam grup WhatsApp. Obrolan dalam aplikasi itu nampaknya diseriusi. Beberapa kali mereka berkumpul. Jumlahnya hanya sekitar enam orang. Mereka mulai membicarakan kondisi lingkungan di kampungnya.

Maraknya peredaran sediaan farmasi ilegal di Tambaan menjadi salah satu topik yang didiskusikan. Keenam pemuda tersebut memiliki keresahan yang sama mengenai hal itu. Mereka resah, sekaligus malu image kampungnya hanya dikenal dari sisi negatif saja. “Tujuan besarnya memang itu. Maka kami berpikir untuk mengubah image buruk di kampung kita, maka harus ada sisi positif yang ditonjolkan,” kata Abdul Wahab, sekretaris Komunitas Arek-arek Tambaan.

Pertemuan itu pun berlanjut di lapangan. Mereka lantas melirik keberadaan dermaga yang selama ini tak terurus. Inisiatif untuk menyulap dermaga menjadi ikon baru pun muncul. “Ada warga yang memberikan sumbangan sisa-sisa catnya. Waktu itu terkumpul 25 kilogram,” kata Wahab.

Namun kebanyakan cat yang diberikan warga warnanya putih. Untuk menarik perhatian, tak mungkin sebuah dermaga diwarnai putih polos. Karena itu mereka membeli cat warna lain. Yang dipilih kala itu warna biru. “Agar lebih terlihat adem,” ujarnya.

Duit untuk membeli cat itu pun dari hasil patungan. Ya mereka rela menyisihkan sejumlah uang dari kantong pribadi. Selanjutnya dimulailah pengecatan. Di hari pertama, banyak cibiran yang didapat. “Banyak isu yang kami terima. Dikiranya kami dapat proyek besar. Padahal semuanya swadaya, duitnya urunan,” kelakar Wahab.

Namun hal itu tak menyurutkan langkah Wahab dan temannya yang lain. Mereka melanjutkan pengecatan di hari kedua. Saat itulah warga mulai simpatik. Pengecatan pun lebih cepat lantaran banyak warga yang membantu.

Nah, setelah kondisi dermaga lebih cantik, para pemuda itu kembali mengasah otak. Mereka sibuk menyusun kegiatan apa yang cocok dilakukan diatas dermaga tersebut. Salah satu anggota komunitas mengusulkan agar dermaga itu dijadikan taman bacaan. “Kebetulan kuliah jurusan bahasa dan memang suka literasi. Makanya teman-teman yang punya buku dibawa kesana,” kata Wahab.

Aktivitas yang berlangsung di taman bacaan itu didokumentasikan. Kemudian diunggah di akun media sosial. Unggahan foto-foto itu juga yang mengundang simpati banyak orang untuk mendonasikan buku-buku. “Sekarang sudah terkumpul 190 buku,” ujar Wahab.

Bocah yang singgah di taman bacaan itu pun semakin banyak. Setiap minggunya tak luput dari 20 anak yang bermain ke sana. “Dari situ kemudian berkembang. Tak hanya baca buku. Tapi kita kasih game, siapa yang bisa mendongeng di depan teman-temannya dari buku yang telah dibaca, kita kasih hadiah kecil-kecilan,” ungkap Wahab.

Setali tiga uang, rutinitas yang digeluti komunitas itu sampai didengar pemerintah setempat. Mereka pun menyampaikan keinginan komunitasnya agar Tambaan bisa berkembang. Tentunya dengan potensi yang dimiliki saat ini. “Rencananya memang edukasi wisata. Di Kota Pasuruan, mangrove kami mungkin yang terbaik. Meskipun sekarang belum begitu lebat ya,” terang Wahab.

Kendati demikian, belum lama ini Tambaan menjadi jujukan bagi mahasiswa. Khususnya yang ingin mengetahui pemanfaatan hutan mangrove di kawasan pesisir. Wahab menyebut, pihaknya pun melayani kunjungan itu. “Kami juga ajak petani mangrove untuk menjelaskan kepada pengunjung. Mereka bawa bibit mangrove untuk ditanam bersama-sama,” tuturnya.

Selain hutan mangrove, kata Wahab, kemunculan hiu tutul di musim tertentu juga tak kalah menarik. Disamping itu, banyak kuliner khas Tambaan yang bisa menjadi daya tawar bagi pengunjung yang berminat. Seperti olahan kerang, kupang, hingga rawon ikan.

Wahab mengaku, hal itu akan menumbuhkan sektor perekonomian masyarakat setempat. Meski tujuan awalnya ingin memerangi peredaran sediaan farmasi di kampung tersebut. “Sekarang sudah lumayan reda. Karena banyak aktivitas, sering dikunjungi kepolisian juga, jadi pil-pilan tidak semarak dulu,” pungkasnya. (tom/rf)