Saat Pecinta Lovebird dari Berbagai Daerah “Menyerbu” Kota Probolinggo

Beberapa tahun lalu Lovebird sempat booming di Kota Probolinggo. Meskipun tidak se-booming dulu lagi, namun Lovebird masih mempunyai tempat di hati penggemar burung hias. Hal ini terlihat dalam beauty contest dan singing yang digelar Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) Probolinggo, Minggu (24/2).

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Sekitar puluhan sangkar Lovebird ditempatkan di tengah lapangan GOR Mastrip, Kedopok. Sangkar-sangkar ini ditata rapi tepat di atas podium setinggi 30 cm.

Beberapa orang mengenakan seragam oranye naik ke atas podium. Dengan membawa sebuah papan kecil, mereka sibuk memperhatikan burung-burung cantik berwarna-warni tersebut.

Mereka adalah juri dalam beauty contest yang berlangsung Minggu (24/2). Total ada 550 ekor burung yang ikut serta dalam 15 kategori. “Masing-misng kategori ada 3 sampai 4 juri yang akan menilai,” ujar Nanto Waskito, ketua pelaksana beauty contest.

Nanto menjelaskan, ada beberapa unsur penilaian dalam beauty contest ini. Namun, satu hal yang wajib dipatuhi peserta adalah Lovebird yang dilombakan tidak boleh cacat. “Kalau ada cacat, ikut lomba boleh. Tapi, tidak mendapatkan nilai,” ujarnya.

Lantas apa saja yang menjadi unsur penilaian dalam beauty contest ini? Nanto memastikan bahwa penampilan fisik serta kemampuan Lovebird untuk ‘showing’ kepada juri yang dinilai.

Harus dilihat juga posisi warna di kepala, dada, punggung, ekor. Juga kemampuan showing Lovebird. “Lovebird ini merupakan burung yang memiliki kemampuan alami untuk melakukan showing,” ujar Nanto.

Nanto menambahkan, bahwa yang dimaksudkan dengan showing ini adalah kemampuan Lovebird menampilkan sosoknya di depan juri.

“Seperti memperlihatkan bentuk kepalanya, warnanya. Lovebird punya kemampuan alami seperti itu,” ujarnya.

Lovebird memiliki perpaduan warna yang menarik. Ketika melakukan showing, Lovebird menunjukkan penampilannya yang unik dengan beragam warna.

Sementara itu, Zainal Arifin, salah satu penghobi Lovebird mengungkapkan, Lovebird sudah lama booming di Indonesia. Bahkan, sudah ada sejak tahun 1990-an.

“Warna yang menarik itu menjadi daya tarik Lovebird. Ada beragam jenis Lovebird yang populer di kalangan penghobi. Beda jenis, maka posisi warnanya juga berbeda,” ujarnya.

Seperti Lovebird jenis Biola, kepala berwarna oranye dan badan hijau. Sedangkan Park Blue , kepalanya berwarna kuning.

“Tapi, yang paling mahal adalah Lovebird jenis Pale Fallow. Jenis ini jarang di kalangan penghobi. Harganya bisa sampai Rp 150 juta,” ujarnya.

Mengenai perawatan, Arif –biasa disapa- menjelaskan, bahwa Lovebird untuk diternakkan dengan Lovebird untuk kontes berbeda. Lebih rumit perawatan untuk Lovebird yang akan ikut kontes.

“”Kalau makannya sama yaitu millet. Tapi, untuk Lovebird yang akan ikut kontes mendapat asupan vitamin yang beragam,” ujarnya.

Vitamin ini yang akan mempengaruhi warna Lovebird. Selain itu, setiap hari Lovebird juga harus disemprot dengan air dan dijemur.

“Disemprot dan dijemur ini fungsinya untuk mengendalikan birahi Lovebird,” terangnya. (hn)