Kondisi Pasar Gotong Royong yang Kini Kian Sepi, Toko Berubah jadi Warkop

Pasar Gotong Royong dahulu pernah menjadi pusat konfeksi di Kota Probolinggo. Pasar ini jadi tempat para pedagang untuk kulakan baju. Kondisi itu kini telah berubah.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Hujan rintik-rintik yang sore itu turun di Kota Probolinggo, membuat hawa sedikit sejuk. Usai hujan mendera, sejumlah wanita yang tengah membuka lapaknya di pasar Gotong-Royong, membersihkan sisa-sisa air hujan yang masuk ke dalam.

Sore itu, suasana pasar terlihat lengang. Bahkan bisa dibilang, sangat sepi. Kondisi itu dimanfaatkan para pemilik lapak untuk bercerengkrama. Sebuah kebiasaan yang mereka lakukan, untuk mengusir kebosanan. Itupun jika pemilik toko ada yang buka.

Dan jika ada pembeli yang datang, para pemilik lapak ini, akan ramah menyapa. Dengan segala cara, mereka memakai bahasa persuasif. Menggiring calon pembeli, agar mau membeli produk yang dipajang. Jika beruntung, calon pembeli akan membayar. Saat itulah mereka meraih rupiah.

Sejak beberapa tahun ini, pembeli yang datang ke pasar Gotong Royong, terbilang minim. Sebab itulah, lapak atau toko yang tutup, selalu banyak. “Tokonya tutup karena sepi pembeli. Akhirnya memilih keluar dari sini,” ujar salah satu pedagang yang enggan namanya disebutkan.

Pedagang tersebut mengaku, perkembangan teknologi yang semakin cepat, ikut mempengaruhi penjualan di pasar ini. Begitu juga dengan munculnya toko-toko pakaian dengan gaya kekinian. Pedagang di pasar Gotong Royong harus bersaing berat.

Padahal pasar ini sejak dahulu telah dikenal sebagai salah satu sentra fashion di Kota Probolinggo. Bahkan pedagang kecil dari luar Kota Probolinggo, menjadikan pasar ini sebagai sentral kulakan.

Lantaran sepinya toko, ada beberapa kios yang memilih merubah jualannya. Sebelumnya berjualan baju akhirnya diganti warung kopi.

Sepinya pasar diungkapkan oleh Wati, 20, salah satu penjaga kios. “Hanya waktu lebaran lumayan rame. Selain itu kondisinya sepi,” ujarnya.

Wati sehari-hari berjaga di toko yang menjual produk alas kaki. Dia mulai membuka toko sejak pukul 08.00. “Siang istirahat. Dilanjut sore dan malam. Itu yang beli sehari ada 2-3 orang sudah Alhamdulillah,” ujarnya.

Menurut Wati, orang-orang memilih membeli baju di internet. Tinggal pilih gambar, transfer, barang dikirim lewat ekspedisi. “Tidak perlu cari-cari lagi ke toko atau ke pasar seperti disini,” ujarnya.

Lain cerita Wati, lain pula cerita Syahrul, salah satu pedagang setempat. Menurutnya cerita Pasar Gotong Royong sepi sudah lama terjadi. “Sudah beberapa tahun ini memang sepi. Dulu karena kalah saing dengan toko-toko besar seperti GM, KDS, sekarang online,” ujarnya.

Dengan penjualan online membuat konsumen tidak harus bersusah payah mencari barang yang diinginkan. Asalkan sudah mengetahui ukuran baju atau alas kaki yang digunakan.

“Tapi risikonya online kalo barangnya tidak sesuai harapan. Seperti bahan bajunya tidak nyaman atau ternyata alas kaki bahannya jelek. Keuntungan kalau belanja langsung disini ya konsumen bisa tahu bahan bajunya,” ujarnya.

Meskipun nampak lengang, masih ada 1-2 orang konsumen yang datang ke Pasar Gotong Royong. Seperti sore itu. Ada yang datang ke Pasar ini untuk mencari seprei. Pembeli itu langsung datang ke salah satu toko.

“Disini masih lebih murah dibandingkan di toko-toko. Selisihnya bisa Rp 5000 untuk seprei merk yang sama dengan di toko,” ujar Tuti Aulia,35, warga Dringu.

Selain seprei, Tuti kadang juga masih ke Pasar Gotong Royong untuk mencari kerudung. “Harganya memang hampir sama dengan toko-toko kecil, tapi macam-macam warnanya kadang lebih banyak disini,” ujarnya.

Namun untuk membeli busana untuk anak-anak dan keluarganya, Tuti tidak membeli di pasar Gotong Royong. Menurutnya model busananya relatif tidak banyak berubah dibandingkan tahun-tahun lalu.

“Padahal sekarang ini kan model cepat berganti. Tapi kalau di Gotong Royong modelnya seperti itu. Saya lebih milih di toko modern kalau belanja baju,” ujarnya.

Ibu 2 orang anak ini enggan untuk membeli baju secara online. Pertimbangannya dia tidak bisa mengetahui ukuran dan bahan baju.

Sementara itu Rano Cahyono, pedagang pasar Gotong Royong sekaligus anggota paguyuban pedagang di Pasar Gotong Royong mengungkapkan, pedagang tidak bisa lagi hanya mengandalkan kunjungan konsumen ke pasar. Karena itulah pedagang harus mengganti konsep pemasarannya.

“Karena memang kondisinya saat ini sistem online sudah berjalan global. Itu tidak bisa dipungkiri. Kalau dulu, konsumen kulakan ke Pasar Gotong Royong, sekarang kami menggunakan sales masuk ke kecamatan-kecamatan untuk memasarkan barang,” ujarnya.

Sepertike Pasuruan di Nguling, kemudian juga ke Maron, Leces, maupun tempat lain di Kabupaten Probolinggo. Selain itu juga ada beberapa pedagang yang mulai merambah ke pemasaran online.

“Tidak semua merambah online karena SDM setiap pedagang juga berbeda-beda. Kalau pedagang yang masih muda-muda biasanya sudah merambah ke online,” ujarnya.

Rano sendiri juga telah merambah pemasaran online. Termasuk menjalain kerjasama dengan salah satu Marketplace yaitu Bukalapak. “Melalui online ini pemasaran meluas. Memang masih dalam batasan wilayah Jawa Timur,” ujar lelaki yang juga legislator di DPRD Kota Probolinggo tersebut.

Selain itu Rano juga tidak lagi membatasi berjualan secara grosir. Saat ini pun ada pembelian secara eceran juga dilayani.

Sementara itu Gatot Wahyudi, kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo beberapa waktu lalu membenarkan jika situasi di pasar Gotong Royong memang jauh berubah dibandingkan tahun-tahun lalu.

“Kondisinya memang seperti itu sepi. Bahkan karena sepinya pembeli itu, pedagang juga mengalami kesulitan untuk melakukan pembayaran retribusi pasar,” ujarnya. (fun)