Sebut NU Kelompok Radikal, Buku Tematik Kelas 5 SD Tak Ditarik

MAYANGAN – Polres Probolinggo Kota memutuskan tidak menarik buku tematik 7 kelas 5 SD/MI yang mengategorikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kelompok radikal. Tujuannya, agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar siswa.

Hal ini diungkapkan Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal, Jumat (8/2) saat bertemu dengan guru-guru kelas 5 SD/MI se-Kota Probolinggo. Menurutnya, buku tematik terbitan Kemendikbud RI itu sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar siswa kelas 5.

“Karena vitalnya buku tematik ini adalah tugas kepolisian untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat,” ujarnya.

Alfian mengungkapkan, pihaknya telah berdiskusi dengan Disdikpora, Kemenag, dan PC NU Kota Probolinggo tentang buku tematik yang menimbulkan polemik itu. Hasilnya, buku itu tidak akan ditarik.

“Buku yang menjadi bahan perbincangan itu tidak akan ditarik dari siswa. Belajar dari peristiwa sebelumnya, buku itu tidak akan ditarik. Sebelumnya, buku yang mencantumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, akan ditarik. Ternyata mengganggu aktivitas belajar,” katanya.

Sebab kemudian, pihak penerbit tidak mengirimkan buku pengganti. Sehingga, akibatnya, siswa kesulitan untuk belajar.

Alfian kemudian menjelaskan pengertian tulisan dalam buku yang menyebutkan tentang NU sebagai kelompok radikal. Menurutnya, makna radikal adalah keras atau kekerasan.

Ini untuk menunjukkan kondisi NU dalam penjelasan di buku. Di buku itu disebutkan, pada awal Abad ke 20, perhimpunan Budi Utomo, NU, dan PKI melakukan cara kekerasan untuk melawan Belanda. PKI ikut masuk dalam gerakan perlawanan Belanda.

“Pada saat perang kemerdekaan, PKI juga termasuk kelompok yang keras melawan penjajah Belanda. Namun, hal ini berubah ketika tahun 1948 dan 1965, partai politik ini melawan ideologi Pancasila,” ujarnya.

Karena itu, Alfian minta agar para guru menjelaskan dengan benar isi buku tersebut pada siswa. Terutama pada bagian pencantuman organisasi NU, Budi Utomo, serta PKI sebagai organisasi radikal.

Sementara itu, Kepala Disdikpora Kota Probolinggo Moch Maskur menyebut, Kemendikbud RI telah memerintahkan untuk menarik buku tersebut. Namun, pihaknya khawatir siswa tidak dapat buku pengganti. Karena itu, buku diputuskan untuk tidak ditarik.

“Pengalaman kemarin, anak-anak tidak pegang buku untuk pelajaran saat buku ditarik. Jika sekarang ditarik, apakah ada yang bisa digunakan?” Ujar Maskur.

Budi Wahyu Rianto, Kabid Pendidikan Dasar menjelaskan, buku tematik itu adalah buku untuk semua mata pelajaran. ”Beda dengan buku paket zaman dulu yang sifatnya khusus. Jika buku ini ditarik sekarang, maka akan sulit untuk melakukan pembelajaran,” ujarnya.

Kepala Kemenag Kota Probolinggo Mufi Imron Rosyadi menegaskan hal serupa. Menurutnya, penting bagi guru untuk juga memperhatikan isi buku yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

“Setiap buku yang digunakan, perlu diperiksa. Siapa tahu ada kesamaan yang bisa dihubung-hubungkan dengan politik,” ujarnya.

Sehingga, kesalahan yang mungkin ada pada buku, didapat dari guru sendiri. Bukan dari sumber lain. Misalnya medsos. (put/hn)