Sumarto, Olah Kulit Kupang Jadi Pakan Ternak Berbentuk Sentrat yang Diburu Pembeli

Bagi kebanyakan orang, kulit kupang kerap dibuang. Namun, tidak bagi Sumarto, 45. Di tangan warga Dusun Krajan Barat, Desa Semendusari, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan tersebut, kulit kupang ini justru diolah untuk menjadi pakan ternak.

FAHRIZAL FIRMANI, Lekok

Sejumlah pria tampak menurunkan ribuan kulit kupang dari atas bak mobil pikap. Kulit kupang itu diletakkan di sebuah tanah lapang berukuran 6×8 meter. Mereka lantas menyebarkannya ke setiap sudut tanah lapang itu dengan menggunakan sekop untuk dikeringkan.

ALIH PROFESI: Sumarto sebelumnya adalah nelayan di Lekok. Tapi kini dia sukses membuat pakan ternak dari kulit kupang. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Pemandangan ini rutin terlihat di halaman rumah miliki Sumarto. Maklum, pria paruh baya ini memang dikenal sebagai satu-satunya pengolah kulit kupang di wilayah Pasuruan. Hasil olahannya pun dijual sampai ke luar wilayah Pasuruan.

Sumarto mengungkapkan, ia tidak pernah berpikir jika dirinya akan menjadi pengolah kulit kupang. Sebab, awalnya dirinya hanyalah seorang nelayan. Olahan kulit kupang yang kini ditekuninya, juga berawal dari ketidaksengajaan.

“Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya menjadi nelayan. Walaupun hasilnya tidak banyak, namun Alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya dan keluarga. Menjadi seorang pengolah kulit kupang pun tidak pernah terpikirkan dalam benak saya,” katanya.

Disebutkannya, pada awal 2001, temannya asal Sidoarjo bertanya apakah ada yang memasak kupang di daerahnya. Ia pun langsung mengiyakan. Kebetulan, pekerjaannya sebagai nelayan membuat dirinya kerap mendapat tangkapan kupang.

Dari situ, temannya tersebut mendatangi kediamannya di Dusun Krajan Barat, Desa Semendusari, Kecamatan Lekok. Temannya tersebut lantas bertanya kulit kupang yang dibuang. Rencananya, kulit kupang ini digunakan untuk pakan ternak.

“Untungnya, waktu itu saya tidak membuang kulit kupang usai dimasak. Teman saya itu lantas membeli kulitnya saja dalam bentuk belum diolah. Kalau tidak salah waktu itu, saya menjual sekitar dua kilogram kulit kupang,” jelasnya.

Rupanya, permintaan temannya itu memunculkan ide dalam benaknya. Ia pun langsung banting setir menjadi seorang pengolah kulit kupang. Kulit kupang ini didapatkannya dari para nelayan setempat. Ia biasanya membeli dengan harga Rp 2.500 untuk setiap saknya.

Kulit kupang yang masih basah ini lantas dikeringkan di tanah lapang di depan rumahnya. Usai dikeringkan, kulit kupang ini dihancurkan dengan menggunakan mesin selep. Saat diselep, ia ikut menambahkan ikan-ikan murah untuk dihancurkan bersama kulit kupang.

Selanjutnya, kulit kupang yang sudah hancur ini dijadikan dalam bentuk plastik kiloan untuk sentrat pakan ternak. Setiap kilogramnya ia jual sekitar Rp 700. Dari sini, ia mendapatkan keuntungan bersih Rp 500. Dalam seminggu, ia bisa menjual kurang lebih tujuh ton.

Hasil olahan kulit kupang ini tidak hanya dijual di wilayah Pasuruan saja. Namun, juga sampai ke luar pulau Jawa, seperti Kalimantan dan Bali. Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari harga sentrat pakan ternak dari kulit kupang yang lebih terjangkau dan hasilnya bagus.

Sentrat pakan ternak dari kulit kupang ini bisa digunakan untuk segala jenis ternak. Untuk satu sak kulit kupang yang saya beli dari nelayan, bisa diolah menjadi 70 kilogram sentrat kulit kupang. Dalam sebulan, saya bisa menjual sampai 15 ton, tapi ini bergantung permintaan,” jelas Sumarto. (fun)