Mucikari yang Terjaring Razia di Besuk Bisa Dipidana, Satpol PP Dalami Perannya

DIDATA: Para PSK yang terjaring Satpol PP di warung remang-remang yang ada di Besuk, didata petugas di markas. Selain PSK, petugas juga mengamankan dua orang yang diduga menjadi mucikari. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAAN – Satpol PP tak hanya menjaring 9 PSK saat razia di beberapa warung remang-remang yang ada di wilayah Besuk, Selasa siang (5/2). Selain PSK, ada pula pria hidung belang dan dua mucikari. Jika memang terbukti, mereka bisa dipidanakan.

Hal itu diungkapkan Kasi Opsdal Satpol PP Mashudi. Dia mengatakan, sejatinya razia yang dilakukan itu tak lain untuk menertibkan penyakit masyarakat. “Penertiban penyakit masyarakat itu kami upayakan rutin. Sehingga kabupaten probolinggo benas dari penyakit masyarakat,” ujarnya.

Dari hasil tangkapan razia itu, sementara diinapkan di Markas Satpol PP. Hal itu, tak lain karena hari ini mereka akan dilakukan pemeriksaan kesehatan dan dilimpahkan kepada Dinas Kesehatan.

“Malam ini (Selasa malam) biar menginap di kantor. Nanti kami akan limpahkan ke Dinsos. Setalah itu mungkin oleh Dinsos akan dilimpahkan ke Kediri untuk mengikuti pembinaan,” terangnya.

Begitu juga dengan status Ri dan Sam, yang diduga menjadi mucikari. Sejauh ini, Satpol PP masih mendalami peran mereka. Jika memang mengarah kuat bahwa Ri dan Sam adalah mucikari, Satpol PP akan melimpahkan ke kepolisian.

Adapun dua orang yang diduga mucikari tersebut ialah Ri dan Sam. Kepada petugas, mereka tak mengaku jika sebagai mucikari, Mereka menyebut hanya menyediakan kamar.

Seperti yang dijelaskan Ri. Dia berdalih menjadi mucikari. Dirinya hanya sebatas menyewakan tempat, dan dia menerima sewa kamar saja. “Saya beri tarif hanya 10 ribu saja per kamar. Jadi kalau wanita itu main, kamarnya sepuluh ribu,” ungkapnya.

Hal berbeda diungkap Sam. Mucikari lain yang turut diamankan. Menurutnya, setiap kali dua anak buahnya main, ia hanya mendapatkan dua puluh ribu. Lebih besar sepuluh ribu dari pada Ri.”Kalau saya Rp 20 ribu. Saya sudah tujuh bulan ini bisnis ini. Sebab, jika hanya jual kopi biasa, ndak laku kalau tidak ada ceweknya,” tutur pria asal pulau garam itu. (sid/fun)