Mengaku Tak Dapat Ganti Rugi, Warga Sumberasih Pagari Lahan Rest Area Tol Paspro

WUJUD KEKECEWAAN: Sutiha di lokasi tanah yang dipagarinya. Wanita ini mengaku tak mendapat ganti rugi atas pembebasan lahan untuk rest area tol Paspro. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

SUMBERASIH – Mengaku tidak mendapat uang ganti rugi dari jalan tol, Sutiha, 42, memagar tanah warisan dari neneknya. Tanah warisan itu berada di areal rest area, Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Rabu (30/1), tanah waris itu dipagar dengan bambu. Perempuan yang tinggal tak jauh dari lokasi rest area ini menancapkan banner bertuliskan, “Tanah Ini Milik Bu Sutiha Dalam Pengawasan Kuasa Hukum atau Advokat Nurul Huda.”

Sutiha mengaku, terpaksa memagar tanah warisan dari neneknya. Sebab, sudah lebih setahun dia belum mendapat uang ganti rugi dari pihak tol Paspro. Karena itu, Sutiha menegaskan tidak akan menjual lahan yang sudah diratakan oleh pihak tol Paspro itu.

“Ya, enggak saya jual dah. Saya tempati sendiri. Selama dua tahun saya direpotkan ke sana ke sini untuk mengurusinya,” tandasnya ke sejumlah wartawan.

Menurutnya, lahan seluas 420 meter persegi itu akan ditanami pisang dan sengon. Sutiha tidak akan membangun rumah di lahan yang awalnya berdiri rumahnya itu. Sebab, ia sudah memiliki rumah di lokasi yang tak jauh dari rest area.

“Di sini dulu berdiri rumah saya. Terus diratakan karena kena tol. Saya bangun rumah di tanah pekarangan dengan uang saya sendiri,” imbuhnya.

Sutiha berterus terang, pihak tol sudah membayar ganti rugi atau sudah membeli lahan milik neneknya. Termasuk tanah yang diwariskan ke dirinya yang kini dipagar. Hanya saja, sudah lebih dari setahun, ia tidak menerima uangnya.

“Saya tidak nerima uangnya. Uang bagian saya diambil dan diterima seseorang. Tanda tangan saya dipalsu,” katanya.

Suliha telah melaporkan kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan tanda tangannya itu ke Polda Jatim dan Polres Probolinggo Kota. Hanya saja, hingga kini kasus yang dilaporkan belum selesai. Pihaknya pun meminta penegak hukum segera menyelesaikan kasus itu.

“Sekarang sedang proses, kami minta segera diselesaikan. Karena lama kasus ini tidak jalan,” pintanya.

Sutiha bercerita, lahan milik neneknya itu seluas 2.531 meter persegi. Dia mendapat bagian 420 meter persegi. Lahan milik neneknya itu dibeli pihak tol atau diganti rugi sekitar Rp 1 miliar. Dari lima saudara yang mendapat waris, Sutiha menerima bagian Rp 150 juta.

“Tapi, kami nggak dapat sama sekali. Saya dapat Rp 73 juta, tapi itu ganti rugi rumah saya yang dibongkar. Bukan ganti rugi tanah ini,” tandasnya. (rpd/hn/fun)