Angin Kencang, BPBD Minta Nelayan Waspada

MENEPI: Sejumlah perahu nelayan di pesisir Pantai Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Sabtu (26/1). BPBD mengimbau nelayan lebih waspada ketika melaut karena angin kencang. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak, Surabaya memperkirakan selama tiga hari ke depan angin akan berembus cukup kencang. Mencapai capai 30 kilometer per jam. Adanya prakiraan ini diikuti dengan imbauan waspada kepada para nelayan.

Imbauan itu disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo, Prijo Djatmiko. Menurutnya, karena angin cukup kencang dan gelombang tinggi, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada. “Saat ini angin di Probolinggo kencang, kami imbau untuk nelayan agar waspada,” ujarnya.

Menurutnya terpaan angin kencang bisa menyebabkan kerusakan, bahkan dikawatirkan membalikkan kapal. Ia juga meminta nelayan yang hendak melaut, memeriksa kondisi kapal dulu demi meminimalisir bencana. “Untuk nelayan paling tidak periksa dulu kondisi kapal sebelum berangkat. Hal itu untuk mengantisipasi agar pulang dan datang tetap selamat,” ujarnya.

Namun, Sabtu (26/1) sejumlah awak kapal penyeberangan dari Kota Probolinggo menuju Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, belum terpengaruh dengan angin. Sol, 42, salah satu awak kapal penyeberangan asal Pulau Gili mengatakan, angin dan ombak belum mempengaruhi kapal penyeberangan. “Kalau angin memang kencang, tapi untuk penyeberangan tidak masalah,” ujarnya.

Hal berbeda diungkapkan anak buah kapal (ABK) asal Sumatera, Adzam Muhammad, 29. Pria yang berdomisili di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, itu mengatakan angin menjadi masalah tersendiri bagi aktivitas nelayan.

Menurutnya, jika angin kencang, ombak di tengah laut dan laju kapal akan terpengaruh. Apalagi memasuki musim hujan. Karenanya, ketika berlayar para ABK mempersiapakan segala sesuatunya dengan lebih baik. Seperti, mengecek pelampung dan peralatan lainnya.

“Untuk berangkatnya kapal, kami di kapal jonggrang ini mengikuti kapten. Jika kaptenya mengintruksikan berangkat, kami berangkat. Sebab, kaptenlah yang berkoordinasi dan mengetahui cuaca di laut melalui beberapa informasi yang diterimanya,” ujarnya. (rpd/rud)