Banyak yang Busuk, Petani Cabai di Probolinggo Panen Dini

DARIPADA MERUGI: Petani di Desa Randumerak, Paiton, memanen dini tanaman cabainya, Jumat (18/1). Langkah itu diambil lantaran petani khawatir tanamannya rusak, sehingga merugi terlalu banyak. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PAITON – Musim hujan yang intensitasnya sudah mulai tinggi, ikut mempengaruhi lahan petani cabai di Kabupaten Probolinggo. Banyak petani yang mengaku, tanamannya diserang penyakit hingga membuat cabai cepat busuk.

Petani yang tak mau ambil risiko, akhirnya memilih panen dini. Langkah itu diambil lantaran petani khawatir merugi terlalu banyak.

Sejumlah petani cabai yang memilih panen dini itu diantaranya ditemui di Desa Randumerak, Kecamatan Paiton. Tak hanya cepat busuk. Sebagian lahan disana bahkan banyak yang mati.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo dilokasi, ada puluhan petani yang melakukan penen dini terhadap lahannya. Padahal, kondisi cabai belum cukup umur yakni masih berwarna hijau. Mereka terpaksa melakukan hal itu, dengan alasan petimbangan ekonomi.

Panen tersebut dilakukan juga agar penyakit atau hama yang menyrang tanaman cabai itu tidak menyebar. Sebab, jika terlanjur menyebar maka para petani tidak akan menikmati apa yang mereka tanam. Kondisi tersebut juga diperparah dengan harga obat-obatan yang mahal.

“Kalau dibilang (panen) ya bukan waktunya. Ini kan masih hijau. Kami melakukan panen ini karena terserang hama. Sebab, jika dibiarkan nantinya akan meluas dan kami gagal panen,” kata Yanto, salah seorang petani cabai setempat, Jumat (18/1).

Menurut Yanto, selain hama yang menyerang para petani juga dibebankan dengan harga yang murah. Sejauh ini, kata Yanto, harga jual cabai hijau perkilogramnya di kisaran Rp 2.000. Padahal sebelumnya harganya kisaran Rp 8.000 hingga Rp 10.000 perkilogram. Sedangkan untuk cabai yang merah, saat ini hanya Rp 5.000 per kilo gram. Padahal harga sebelumnya berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu perkilogram.

“Kami berharap kepada pemerintah daerah. yaitu untuk membantu supaya harga obat-obatan tidak begitu mahal. Sehingga, kami bisa mengatasi cabai yang terserang penyakit itu,” terangnya.

Sumiati, salah seorang petani lain juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, kondisi itu membuat banyak petani kebingungan. Bahkan sudah menyerah karena kondisi itu. “Mau bagaimana lagi. Kami sudah menyerah karena kondisi ini. Sebab, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan,”tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) setempat Ahmad Hasyim Asyari mengatakan, seharusnya para petani tidak menanam cabai di penghujan. Karena pada dasarnya tamanan cabai adalah tamanan musim kemarau. Sehingga, jika dipaksakan ditanam di penghujan, akan rentan terhadap penyakit.

“Ini namanya out season (keluar dari musim, Red). Sehingga tanaman terserang penyakit. Caranya yaitu dengan cara melakukan perawatan yang benar jika sudah terlanjur menanam. Tetapi tentunya cost-nya akan besar jika demikian,” katanya.

Pihaknya berharap para petani tidak melakukan penanaman. Hal itu agar tidak merugikan . “Jangan tanam dulu solusinya. Jika nanti sudah musim kemarau baru boleh melakukan tanam lagi,” kata pria yang akrab disapa Hasyim itu. (sid/fun)