Beli Komputer, Siswa SMAN 3 Probolinggo Ditarik Rp 1,5 Juta

LAB BAHASA: Nurul Amalia, wakil kepala SMAN 3 bagian kurikulum menunjukkan lab bahasa yang berisi komputer baru. Dana untuk pembelian komputer ini berasal dari iuran siswa yang terkumpul sementara. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PROBOLINGGO – Berdalih untuk kelancaran pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), SMAN 3 Kota Probolinggo memungut iuran pada wali siswa. Jumlahnya cukup besar, yaitu Rp 1,5 juta per siswa. Iuran itu pun kini dikeluhkan wali siswa karena dinilai memberatkan.

Keluhan itu seperti yang disampaikan salah satu orang tua siswa, SR, 47, warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. SR mengaku, anaknya diminta iuran Rp 1,5 juta untuk membeli komputer. Nantinya, komputer itu akan menjadi aset sekolah.

SR pun mengaku keberatan, sebab jumlah iuran cukup besar. Sementara komputer nantinya menjadi aset sekolah. SR pun menyayangkan pembelian komputer untuk sekolah dibebankan pada siswa.

Jika memang komputer menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi untuk pelaksanaan UNBK, mestinya menurut SR, pihak sekolah meminta bantuan ke pemerintah. Atau bisa saja menggunakan dana BOS untuk pengadaannya.

“UNBK itu kan yang buat pemerintah. Mestinya untuk fasilitasnya juga harus minta ke pemerintah. Masa dibebankan pada kami. Apalagi, jumlah iurannya cukup tinggi. Yakni, Rp 1,5 juta untuk tiap siswa,” bebernya saat dikonfirmasi media ini, Rabu (16/1) siang.

SR berterus terang, saat diundang sekolah dirinya tidak hadir. Sebab, dia sibuk dengan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Karenanya, ia tidak tahu jelas untuk apa komputer yang dibeli dari iuran siswa tersebut.

“Katanya untuk aset sekolah agar ujian yang pakai komputer (UNBK, Red.) berjalan lancar. Nah, kalau saya beli komputer untuk anak saya, saya mau meski kantong menipis. Tapi, kalau untuk sekolah saya keberatan,” terangnya.

Saat dikonfirmasi, Nurul Amalia, wakil kepala SMAN 3 bagian kurikulum membenarkan sekolahnya memungut iuran untuk pengadaan komputer. Tujuannya, untuk kelancaran pelaksanaan UNBK.

Sebab, menurutnya, komputer yang dimiliki sekolah saat ini hanya 40 unit. Sedang untuk UNBK dibutuhkan 207 komputer. Sesuai dengan jumlah siswa kelas 12 yang ikut UNBK tahun ini.

Menurutnya, sebagian siswa sudah ada yang membayar iuran tersebut. Bahkan, hasil iuran yang terkumpul sementara, sudah dibelikan 38 komputer yang ditempatkan di ruang lab bahasa.

Nurul berterus terang, pihaknya sudah mengajukan pengadaan komputer ke pemprov, dua tahun lalu. “Sudah tiga kali kami mengirim proposal bantuan komputer. Namun tahun ini baru turun, itu pun hanya dapat lima komputer. Ya, masih kurang,” ujarnya.

 

Dinilai Sesuai Aturan

SMAN 3 Kota Probolinggo memastikan, iuran pembelian komputer yang dilakukan sekolah sudah sesuai aturan. Seperti yang disampaikan Nurul Amalia, wakil kepala SMAN 3 bagian kurikulum.

Nurul mengatakan, sebelum memutuskan untuk menarik iuran, sekolah sudah rapat dengan komite dan seluruh wali siswa. Mulai kelas X sampai XII.

Dan hasilnya, mereka semua menyepakati iuran Rp1,5 juta untuk setiap siswa. “Kalau ada yang tidak setuju, kami memaklumi. Tapi, saat rapat mereka diam semua,” tambahnya.

Meski demikian, menurut Nurul, pihaknya tidak memaksa siswa yang tidak mampu membayar. Namun, ia berharap wali siswa mendukung program sekolah. Sebab, apa yang dilakukan sekolah untuk kepentingan siswa dan kemajuan sekolah.

“Kami kan tidak ingin pelaksanaan UNBK seperti dua tahun sebelumnya. Kami harus meminjam komputer milik siswa dan guru. Kalau sekolah punya kan enak,” ujarnya.

Hal ini juga diungkap Humas SMAN 3 Kota Probolinggo, Hari Wibowo. Ia membenarkan sekolahnya mendapat bantuan lima komputer dari pemprov dan komputer tersebut saat ini dikandangkan karena tidak bisa dioperasikan.

“Memang seperti itu, kalau komputer tidak membeli sendiri, speknya rendah. Jadi, kalau dipakai untuk ujian lambat. Kasihan yang ujian. Makanya, kelima komputer bantuan pemprov itu tidak kami pakai. Kalau komputer hasil iuran siswa ini, kami jamin. Karena kami sendiri yang membeli,” tambahnya.

Saat ini, jumlah siswa di SMAN 3 ada 558, mulai kelas X sampai XII. Dengan iuran Rp 1,5 juta per siswa, maka akan didapat uang iuran total Rp 837 juta.

Hari mengatakan, pengadaan tiap unit komputer lengkap dengan mejanya, mencapai sekitar Rp 6 juta. Artinya, jika dikalikan 167 unit komputer, maka dibutuhkan anggaran sebesar Rp 1,002 miliar.

Meski demikian, sekolah menurut Hari, tidak memaksa siswa yang kurang mampu untuk membayar lunas iuran. Iuran bisa dicicil sesuai kemampuan. Namun, jika betul-betul tidak mampu, maka pihak sekolah tidak bisa memaksa.

“Kami tidak bisa ambil dana tersebut dari BOS ataupun Bosda, makanya kami iuran. Namun, jika memang ada yang benar-benar tidak mampu, sekolah tidak memaksa. Yang jelas, usaha ini untuk kebaikan bersama,” bebernya. (rpd/mie)