Yang Rugikan Persekabpas Ditangkap Polisi, Ini Kata Manajemen dan The Lassak

BANGIL – Manajemen Persekabpas kembali mengacungkan jempol terhadap kinerja Satgas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri. Laporan Persekabpas atas indikasi terjadinya kecurangan yang dilakukan perangkat pertandingan, benar-benar ditindaklanjuti dengan ditangkapnya Amirul Safarid, wasit asal Garut, Jabar.

DICURANGI: Laga leg pertama antara Persekabpas melawan Persibara. Usai menang 3-2, Persekabpas dikalahkan Persibara saat away, dan belakangan diketahui laga away syarat akan kecurangan lantaran skor telah dikondisikan. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Nama terakhir yang disebut adalah wasit yang memimpin laga away antara Persekabpas melawan Persibara Banjarnegara. Laga leg kedua kompetisi Liga 3 zona regional yang digelar 16 Oktober di stadion Soemitro Kolopaking itu, Persekabpas dikalahkan 3 gol tanpa balas. Sehingga Persekabpas gagal melaju ke babak pendahuluan 2 lantaran kalah agregat 5-3.

Dan pada Senin (7/1) lalu, tim Satgas Antimafia Bola membekuk Amirul Safarid. Dia terbukti menerima suap sebesar Rp 45 juta dari mantan anggota Komisi Wasit Priyanto dan anggota Komdis PSSI Dwi Irianto (Mbah Putih). Keduanya juga sudah diamankan kepolisian dan berstatus tersangka. Dalam perannya, oknum wasit itu diminta untuk mengatur jalannya pertandingan dengan tujuan memenangkan Persibara Banjarnegara.

Kontan manajemen Persekabpas senang dengan hasil ungkap kasus tersebut. “Ini artinya dugaan kami bahwa match fixing yang juga melibatkan perangkat pertandingan, memang ada. Kami juga lega, karena Persekabpas disingkirkan bukan karena permainan diatas lapangan. Tetapi memang faktor nonteknis,” beber Suryono Pane, manajer Persekabpas.

Sebagaimana dikutip dari jawapos.com, setelah nama Vigit Waluyo yang terindikasi terlibat jaringan mafia pengaturan skor, Satgas Antimafia Bola kembali menangkap aktor lain bernama Amirul Safarid. Dia merupakan seorang wasit yang memimpin jalannya pertandingan kompetisi Liga 3 antara Persibara Banjarnegara melawan Persekabpas.

Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola, Kombes Pol Argo Yuwono membeberkan, keterlibatan oknum wasit dalam lingkaran pengaturan skor tersebut yaitu dengan cara menentukan kemenangan salah satu tim sebelum pertandingan dimulai. Oknum wasit ini sudah diamankan. Dia terbukti menerima suap sebelum pertandingan dimulai. Tujuannya agar memenangkan tim Persibara.

“Tersangka wasit ini (Nurul) menerima uang suap dari Priyanto dan Dwi Irianto sebesar Rp 45 juta untuk menguntungkan Persibara. Dengan rincian Rp 40 juta cash dan Rp 5 juta transfer. Barang bukti transfernya masih ada,” ujar Argo Yuwono saat dikonfirmasi, Selasa (8/1).

Bukti-bukti lain yang mengarah upaya pengaturan skor di Liga 3 Indonesia itu yakni wasit Amirul Safarid pernah melangsungkan pertemuan pada pertengahan Oktober di Hotel Central Banjarnegara. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah aktor pengaturan skor lain yang sudah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Priyanto, Johar Lin Eng, Dwi Irianto (Mbah Putih), Tika (Anik Yuni Artika Sari), serta wasit Amirul Safarid.

Selain tersangka wasit Amirul Safarid yang hadir dalam pertemuan itu, Argo mengatakan sejumlah perangkat pertandingan pun ikut hadir. Akan tetapi, Amirul Safarid mengaku lupa nama-mana perangkat pertandingan lain yang ikut hadir dalam pertemuan itu. Argo menegaskan, pertemuan itu membahas agar wasit dan perangkat pertandingan lainnya bisa menguntungkan atau memenangkan Persibara dalam laga melawan Persekabpas.

Para tersangka dijerat Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Penipuan, Pasal 5 juncto Pasal 12 huruf a dan b Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Tertangkapnya Amirul Safarid memang tidak akan merubah hasil kompetisi Liga 3. Manajemen Persekabpas pun tak menuntut lebih, selain berharap kepolisian bisa mengusut tuntas tindak pidana ini. Manajemen pun tetap bersedia, apabila keterangannya dibutuhkan untuk mengusut kasus ini.

Hal itu ditegaskan Suryono Pane, manajer Persekabpas. Dia sangat senang dengan ditangkapnya Amirul Safarid oleh Satgas Antimafia Bola. “Sebab, sedari awal, kami memang merasa dicurangi. Dan kami kalah bukan karena skill pemain buruk, namun lebih ke arah nonteknis,” terang Suryono.

Meski tidak bisa mengembalikan hasil, Suryono mengaku, ini akan menjadi catatan bagi manajemen. Bahkan manajemen akan melaporkannya ke Fifa, sebagai induk olahraga sepakbola tertinggi di dunia. “Semata-mata hanya untuk perbaikan kompetisi ke depan,” terang Suryono.

Di sisi lain, Sekjen Asprov PSSI Jatim Amir Burhanuddin menyebutkan, PSSI menyerahkan sepenuhnya terhadap kepolisian. “Ini kan hukuman (pidana) ya. Ada yang dirugikan, maka ini diproses hukum. Sehingga menjadi pembelajaran kedepan,” beber Amir Burhanuddin.

Dalam perkara ini, organisasi PSSI pasti sudah mengambil tindakan, terkait soal sanksinya. “Karena perilaku unfair diatur daii komdis pusat dan sekarang dalam proses pemeriksaan oleh komdis. Sudah masuk ranah kewenangan badan yudicial (kepolisian), jadi tidak ada kewenangan secara organisasi,” pungkas Amir Burhanuddin. (fun)