Lagi, Warga 3 Desa di Beji Unras, Protes Pabrik Cemari Sungai

PROTES: Warga dari 3 desa di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan berunjuk rasa di 5 perusahaan yang limbahnya mencemari Kali Basin. Mereka juga melakukan aksi damai dengan menggalang bertanda tangan di kain putih sepanjang 500 meter. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

BEJI-Tak kunjung ada perbaikan efek limbah di Kali Basin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, ratusan warga dari tiga desa di Kecamatan Beji, menggelar unjuk rasa, Senin (7/1). Ratusan warga Desa Cangkringmalang, Wonokoyo, dan Gununggangsir itu berunjuk rasa di depan lima perusahaan yang disebut-sebut mencemari sungai sekitar.

Dalam aksinya mereka juga membentangkan kain putih sepanjang 500 meter sebagai media tanda tangan. Dalam aksinya, warga meminta segera ada tindakan tegas terkait pembuangan limbah ilegal.

Perwakilan ratusan warga dan Ansor Bangil, itu memulai berorasi di Jalan Randupitu-Gununggangsir. Warga membentangkan poster-poster bernada protes. Di antaranya bertuliskan; Tutup saluran Limbah Kali Basin serta Jangan korbankan kesehatan kami demi bisnismu. Kalimat ini ditulis di kertas karton sebagai bentuk protes.

Perwakilan dari warga juga berorasi. Mereka meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan segera menindak dan memberikan sanksi tegas. Ini karena sudah bertahun-tahun warga di tiga desa itu merasa sengsara karena harus mencium bau tidak sedap. Termasuk, air yang dikonsumsi di sekitar sungai menjadi tidak layak.

Ketua PC GP Ansor Bangil Saad Muafi mengatakan, dari DLH sudah memberikan batas akhir sampai 31 Desember 2018 untuk segera menutup saluran pembuangan limbah. Namun, sampai Senin (7/1), warga masih mencium bau limbah yang terus mengganggu.

“Sehingga hari ini (kemarin) kami meminta dengan tegas kepada perusahaan dalam waktu 30 kali 24 jam segera menutup saluran limbahnya. Kalau tidak, warga yang akan menutup paksa,” ujarnya.

Saad mengatakan, permasalahan dengan lima perusahaan itu sudah berlangsung selama 10 tahun. Pernyataan ini diamini oleh warga Desa Wonokoyo, Khoirul Anam.

Menurutnya, perusahaan memiliki saluran pembuangan limbah siluman. “Limbahnya dibuang pagi, siang, sore, malam, bahkan saat warga sedang tidur. Kami yang tersiksa dengan bau dan efek negatifnya,” ujarnya.

Suaib, 36, warga Desa Cangkringmalang mengatakan, tidak hanya bau, warna sungai juga menjadi kotor. “Dulu air sungai bisa dikonsumsi sampai untuk cuci dan masak. Akibat limbah, warga yang menggunakan sumur bor di pinggir sungai airnya juga jelek dan tidak layak konsumsi,” ujarnya.

Unjuk rasa dan orasi juga dilakukan di depan masing-masing perusahaan yang membuang limbah. Selain itu, juga membentangkan kain putih sepanjang 500 meter yang kemudian ditandatangani warga agar perusahaan segera menyelesaikan permasalahan limbahnya.

Plt Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan Anang Saiful Wijaya mengatakan, tim DLH sudah datang ke lapangan dan sudah ada langkah dari DLH terkait permasalan ini.

“Yang pasti akan ada peringatan dan surat, termasuk sanksi yang diberikan. Kami lihat dulu hasil tim DLH di lapangan” ujarnya.

Permasalahan limbah ini, bukan perkara baru bagi warga tiga desa itu. Sebelumnya, juga sudah digelar pertemuan antara warga, DLH, dan perusahaan di kantor Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, 26 Desember 2018. Sebab, lima perusahaan sudah sering membuang limbah ke sungai.

Lima perusahaan yang disebut-sebut membuang limbah ke sungai itu di antaranya PT Mega Marine Pride; PT Universal Jasa Kemas; PT Wonokoyo Jaya Corporindo; PT Marine Cipta Agung; dan PT Baramuda Bahari.

Usai pertemuan itu, pihak perusahaan mengaku sudah berusaha melakukan instruksi pemerintah. Salah satunya membangun IPAL tambahan. Serta, kegiatan restorasi sungai.

“Kami memiliki komitmen mengatasi persoalan limbah. Semuanya sedang diproses dan membutuhkan waktu,” ujar koordinator lima perusahaan, Subagio kala itu. (eka/rud)