Dibalik Inisiasi Perda Perlindungan Perempuan dan Anak

Anak yang mengalami putus sekolah, memiliki risiko menjadi anak jalanan (anjal). Karena itu, Pemkot Probolinggo menggagas Perda Perlindungan Perempuan dan Anak. Salah satu isinya, sekolah tidak serta merta bisa memberhentikan peserta didik.

—————

Pemkot Probolinggo menginisiasi Perda Perlindungan Perempuan dan Anak. Perda tersebut dibuat, untuk melindungi hak-hak anak. Terutama soal pendidikan. Bukan tenpa sebab, salah satu penyebab maraknya anak jalanan (anjal), karena pendidikan mereka terbengkalai.

“Perda itu sudah selesai disusun. Sekarang masih menunggu nomor yang diregister. Dalam isi raperda ini diatur bahwa sekolah tidak bisa serta merta memberhentikan siswa begitu saja, tanpa memberikan alternatif pendidikan,” ujar Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPPAKB) Lucia Aries, Jumat (4/1).

Dengan adanya peraturan ini maka siswa ini dipastikan tetap terjaga haknya, untuk memperoleh pendidikan. Meskipun harus dikeluarkan dari sekolah tempat dia belajar. Misalnya hak pendidikan melalui kejar paket. Alternatif seperti ini yang kadang tidak terfasilitasi dengan baik.

“Karena risikonya jelas. Anak putus sekolah berpotensi menjadi anak jalanan,” ujarnya. Lucia belum mendapatkan data terbaru tentang jumlah siswa putus sekolah. Namun, di tahun 2016 lalu, ada 148 siswa yang putus sekolah. “Selain karena putus sekolah, penyebab anak menjadi anjal itu bisa karena pengaruh hubungan pertemanan. Di sisi lain, hubungan keluarga tidak harmonis,” imbuhnya.

Seperti diketahui, remaja pada umumnya membangun solidaritas yang kuat dengan teman-temannya. Sehingga ketika ada temannya ikut mengamen, teman yang lain juga ikut. Karena itu, banyaknya anak-anak yang mengamen, semata-mata bukan alasan terhimpit ekonomi. Karena juga ditemukan, anak yang mengamen berasal dari keluarga cukup.

PNS yang pernah berdinas di Diskominfo ini menjelaskan, ketika anak menjadi anjal, orang tua tidak seharusnya melepas atau membiarkan mereka begitu saja. Ketika orang tua melepas dan membiarkan, malah membuat anak menjadi merasa semakin diabaikan.

“Tetap rangkul mereka, dengarkan mereka. Tidak hanya orang tua saja, namun juga sekolah, badan usaha, dan media tidak memojokkan anak-anak yang seperti ini,” katanya. “Kalau orang tua sudah mengabaikan mereka, lantas bagaimana dengan masa depan anak-anak ini?” terangnya dengan nada bertanya.

Sementara itu, Kasatpol PP Kota Probolinggo Agus Efendi mengungkapkan, bahwa memang ada sebagian anjal asal Kota Probolinggo yang telah putus sekolah. Namun, ada juga yang masih tetap sekolah. “Yang tidak putus sekolah itu rata-rata karena ikut teman-temannya. Mereka ikut ngamen di jalan-jalan,”

Agus –sapaan akrabnya– menjelaskan, anak-anak yang putus sekolah ini bukan hanya karena tidak mampu secara ekonomi, tapi karena kurang mendapatkan perhatian dari orang tua. “Rata-rata mereka cerita kalau tidak dekat dengan keluarganya. Mungkin orang tuanya kerja, sehingga kurang akrab,” ujarnya. (put/rf)