Curhat Sebagian Anjal, Tetap Pulang ke Rumah, Ngamen Hanya Iseng

Ada banyak alasan yang membuat anak-anak terjun menjadi anak jalanan (anjal). Selain solidaritas antar teman, faktor uang juga menjadi penyebabnya. Apalagi, jika mereka tak lagi sekolah.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Sebuah bus melaju pelan ketika mendekati simpang tiga traffic light Mayangan. Beberapa saat kemudian, muncul 3 remaja keluar dari bus sambil membawa sejumlah alat musik. Seperti ukulele, ketipung yang terbuat dari paralon, serta sebuah alat musik sejenis tamborin, yang dibuat dari tutup botol minuman soda.

Mereka tampak semringah ketika melihat kantong bekas permen yang dibawanya, terisi dengan recehan rupiah. Ternyata tak hanya receh, ada juga lembaran uang kertas dengan nominal Rp 1.000. Media ini lantas menghampiri ketiganya. Mereka adalah AG, NA dan RI.

“Jangan difoto ya, namanya jangan ditulis juga. Saya takut ketahuan orangtua,” kata anak-anak itu. Rupanya mereka baru saja mengamen di bus yang akan menuju ke arah Banyuwangi. “Lumayan hasilnya dapat Rp 50 ribu. Sekarang ke Alun-alun. Malam minggu nanti pasti ramai,” ujar remaja berkaus merah dan bersandalkan jepit.

Sebelum beranjak dari bangunan semi permanen bekas warung itu, harian ini berbincang dengan 3 remaja tersebut. Meskipun usia mereka sama, yaitu 15 tahun, hanya 2 orang saja yang masih bersekolah. Sedangkan satu orang lainnya mengaku sudah setahun ini tidak sekolah. Dia lebih memilih mengamen dari bus ke bus.

“Sudah 1 tahun ndak sekolah. Ya ndak papa saya memang ndak mau,” ujar AG,15, remaja asal Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Sebelum memutuskan berhenti, guru-guru sudah mendatanginya dan meminta untuk terus sekolah. Bahkan berjanji akan dibantu jika kekurangan biaya.

Tapi, AG mengaku sudah tak minat sekolah. Ia memilih mencari uang dengan cara mengamen. Kalau pagi ia ngamen sendiri. Baru sore hari, ia bersama NA dan RI. Saat ditanya apakah orang tuanya tidak melarang keinginannya untuk berhenti sekolah, AG mengaku bahwa orang tuanya sudah berpisah sejak 5 tahun lalu. Ayahnya menikah lagi dan tinggal di Pasuruan dengan keluarganya.

“Saya sama Mbah (nenek, Red). Ibu kerja di Surabaya,” ujarnya sambil menghisap rokok. AG sendiri mengaku tidak rindu atau tidak ingin sekolah. Menurutnya lebih enak buat cari uang sendiri. “Kalau ngamen sendiri saya dapat Rp 50-60 ribu per hari. Itu dari jam 07.00 sampai 15.00. Kadang kalau sepi Cuma dapat Rp 30 ribu,” ujarnya.

AG hanya mengajak 2 temannya ngamen saat Sabtu sore. Dengan 2 temannya yang tinggal di Triwung Kidul itu, mereka menumpang bus menuju Kota Probolinggo. “Biasanya nyegat didepan toko dekat batas kota. Bus dari Jember,” ujar RI, 15, salah satu teman AG yang ikut sore itu.

AG bersama RI dan NA menumpang bus jurusan Jember sampai terminal. Di atas bus mereka ngamen. Sekali ngamen, bertiga bisa dapat Rp 8 ribu. Dari terminal, mereka menumpang bus dari depan terminal sampai simpang tiga traffic light Ketapang. Disana mereka numpang bus tujuan Banyuwangi. Baru, kemudian mereka bertiga turun di simpag tiga Mayangan dan jalan kaki menuju Alun-alun.

Sepanjang jalan tersebut, tidak jarang mereka mengamen di depan rumah warga. “Sabtu malam minggu bisa dapat Rp 300 ribu pernah. Kalau pas libur Lebaran, malah sampai Rp 600 ribu. Terus dibagi 3,” ujar RI sumringah.

RI kemudian bercerita bahwa dia dan NA masih sama-sama sekolah di madrasah. Kegiatan ngamen ini pun hanya dilakukan saat Sabtu sore dan Minggu pagi. “Bapak ibu ndak tahu. Saya bilangnya main sama teman, pulang agak malam. Gitu pamitnya. Bapak ibu ya percaya. Pokoknya jangan sampai ndak pulang,” ujarnya.

Saat libur sekolah, RI dan NA pun ikut ngamen di bus. Tidak hanya bus yang ada di seputaran kota saja, bahkan pernah sampai ikut keluar kota. “Ke Pasuruan juga pernah. Pulangnya ya gratis sambil ngamen,” ujarnya sambil tertawa. RI mengaku tidak pernah ketahuan orang tuanya, namun pernah kedapatan ngamen sama tetangga.

Tetangga itu kemudian mengadu pada ibunya. Akhirnya dimarahi juga. Sanksinya, ia tak boleh keluar saat malam Minggu. Kemarahan orang tua ternyata tidak membuat RI menjadi kapok. Meskipun malam Minggu dilarang, pelajar yang bercita-cita jadi guru ini tetap ikut ngamen di hari Minggu.

Sama halnya dengan RI, NA berasal dari keluarga baik-baik. Keluarganya terbilang harmonis, meskipun ayahnya sudah meninggal dunia 2 tahun lalu. “Saya tinggal sama ibu. Dua kakak laki-laki saya, sudah kerja semua,” ujar NA, 15, saat menceritakan keluarganya.

Keluarga NA bukan termasuk keluarga kaya, namun cukup dari segi ekonomi. Termasuk untuk menyekolahkan NA sampai SMA. “Saya ikut teman saja ngamen awalnya. Ternyata dapat uang kok asyik ya. Biasanya saya dapat uang saku dari kakak. Sekarang punya uang sendiri,” akunya.

Sampai saat ini, NA belum pernah ketahuan keluarga maupun tetangga. Namun sang kakak yang bekerja di kota, sempat curiga dengan aktivitas NA yang selalu keluar saat Sabtu sore sampai malam.

“Sempat ditanya-tanya kok setiap Sabtu keluar terus. Keluar sama siapa? Sudah punya pacar kok setiap Sabtu Minggu ngelayap,” ujar NA menirukan ucapan kakaknya. Sama halnya dengan RI, ia tak punya cita-cita jadi pengamen. Baginya, mengamen hanya mengisi waktu luang saja. (rf)