Bangun Jalan Alternatif demi Kerek Perekonomian di Desa Gunting

Akses jalan menjadi alat sarana dan prasarana yang paling utama bagi desa. Hal ini disadari betul oleh pemdes Gunting. Dalam memfasilitasi warganya agar dapat membantu kelancaran segala aktivitas yang dikerjakan sehari-harinya, desa membangun infrastruktur. Tujuannya agar perekonomian masyarakat terkerek.

DESA Gunting yang dipimpin Imam Suwadi ini memang menitikberatkan infrastruktur, khususnya jalan. Sebab, keberadaan jalan mempunyai pengaruh penting untuk membantu kelancaran segala aktivitas warganya. Sehingga kendala jalan rusak setiap tahunnya, diprioritaskan untuk dibangun. Tahun2017 lalu misalnya. Hampir setiap jalan rusak yang berada di pemukiman warga disetiap dusunya kita bangun secara merata mesesuaikan kebutuhan yang ada.

Begitu juga dengan jalan alternatif seperti di Dusun Betiting yang menghubungkan jalan antar desa. Yakni antara Gunting menuju ke Desa Bulukandang, Kecamatan Prigen. Dibangun dengan pavingisasi. Dulunya hanya berupa tanah sehingga menjadi kendala bagi warga sekitar yang hendak beraktivitas setiap harinya.

“Setelah dibangun, aktivitas menjadi lancar. Jarak menjadi dekat, dan waktu yang ditempuh semakin efisien sehingga akan mempermudah warga jika menggunakan jalan ini,” terang Imam Suwadi

Tak hanya infrastuktur jalan. Pendukung jalan juga dilengkapinya seperti bangunan drainase juga dibangun untuk mengatasi luberan air jika musim hujan tiba. Jika tak ada drainase, air hujan banyak yang meluber ke jalan. Akibatnya selain becek juga akan merusak semakin parah kondisi bangunan jalan.

Selain ditahun lalu, ditahun ini 2018 juga dilanjutkan pembangunan serupa paving dan drainase dengan menyentuh titik yang berbeda di semua dusun. Sedangkan akses jalan ke pertanian juga ada yang dibangun berada di Dusun Genitri dan Betiting juga dibangun. Sehingga mempermudah para petani untuk mengakses menuju ke lahan pertanian.

Sebelumnya petani kesulitan karena akses jalan belum ada karena masih berupa setapak. Sehingga tak bisa optimal saat bekerja. “Kalau akses jalanya sudah ada dan mendukung maka akan bisa mendongkrak hasil produksi. Termasuk memenimalisisr biaya pengeluaran sehingga semakin hemat biaya operasional yang dikeluarkan. Jalan kini bisa diakses dengan kendaraan yang tadinya kesulitan mengangkut hasil pertanian kini bisa dengan mudah menjangkaunya,” beber Imam Suwadi.

Selain itu juga ada pembangunan kios yang turut dibangun tahun 2017 untuk menunjang peningkatan ekonomi warga yang membuka usaha dagang. Kios yang dijadikan sebagai pasar desa dilengkapi sekitar 6 lapak. Tak cukup hanya itu ditahun selanjutnya 2018 ini pihaknya juga mendapat bantuan dari pemerintah daerah untuk emmbangun pasar desa yang berada di dusun betiting yang dilengkapi sekitar 15 lapak kios yang bersumber dari APBD.

JADI IKON: Batik matoa yang sudah banyak diminati konsumen. (Foto: Edwan Abdi Wiratama / Jawa Pos Radar Bromo)

 

Kembangkan Batik Matoa

DESA gunting memang dikenal akan kesuburan tanahnya sebagai desa lumbung padi. Sehingga potensi pertanian menjadi sumber pendapatan warga sekitar. Selain padi desa ini juga dikenal akan potensi buah matoa yang sudah menjadi ikon kecamatan.

Tak hanya sekedar penghasil buah matoa. Kades Gunting Imam Suwadi mengatakan, oleh warga sekitar, matoa ini juga dikembangkan menjadi peluang usaha baru seperti batik bermotif matoa yang berbahan baku dari tanaman matoa. Selain itu juga corak batik lebih dominan dengan karakter matoa sebagai daya tariknya. Inovasi ini dilakukan untuk mengenalkan potensi ke masyarakat luas. Sehingga hasilnya mampu mendongkarak perekonomian warga sekitar.

Alam Batik Kijoyo yang dikelola oleh Feri, mampu menarik perhatian kalangan luas karena pembuatanya memang alami dan berbahan baku dari alam natural. Pewarna dari daun matoa, sehingga ramah lingkungan. Hasil inovasi yang dilakukan berhasil mendapat prestasi juara 1 tingkat nasional lomba batik seluruh indonesia tahun 2018 kemarin.

Agar hasil produknya bisa dikenal di pasran, pihaknya juga sering mengikuti pameran. Bahkan hasil produk ini dipakai sebagai seragam kerja bagi perangkat desa dengan corak batik matoa. Tak hanya itu, pihak pemerintah desa juga ikuit mempromosikan agar ASN Pemkab Pasuruan juga ikut memakai memakai batik matoa ini sehingga kelestarian batik alami ini bisa semakin berkembang dan juga bisa memberi pekerjaan bagi warga sekitar yang ikut membantu membuat batik.

“Sementara ini masih memasarkan sebatas pesanan. Selain batik tulis juga ada batik cap. Tapi yang paling disenangi batik tulis harganya terjangkau kualitasnya sangat bagus,” beber Imam Suwadi.

Dia menambahkan, sementara ini memang masih butuh pengembangan untuk memajukan potensi desa. Sehingga masih membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah agar produknya bisa semakin optimal.
(ed/fun)

 

Tentang Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo

  • Jumlah Penduduk : 5811 Jiwa
  • Luas Wilayah : 534 Hektare
  • Jumlah RT/RW : 3 / 15
  • Jumlah Dusun : 3 yaitu;  Pajaran, Genitri, Betiting.
  • Potensi Desa :
  1. Pertanian = Padi, Jagung, ketela, singkong, Durian, Mangga, Nangka, Pisang, Jeruk Kepruk, Matoa.
  2. Pertenakan =Ayam petelur dan ayam potong, Kambing Sapi
  3. Perikanan = lele
  4. UKM = Batik Matoa, Kripik Gadung, Kripik Pohong, Kripik Telo, pengrajin tas dan dompet.
  5. Wisata Desa = kolam renang sumber dinawan