Pendaki Hilang, Penutupan Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Diperpanjang

PRIGEN – Sudah sepekan jalur pendakian Arjuno-Welirang ditutup sementara. Penutupan jalur pendakian itu diperpanjang hingga tahun baru. Ditutupnya jalur pendakian itu buntut dari hilangnya Faiqus Syamsi, 17, pelajar SMKN 5 Surabaya. Penutupan itu berlaku di semua pos pendakian. Baik Pasuruan, Malang, maupun Batu.

Hal itu disampaikan Kasi UPT Tahura R. Soerdjo di Pasuruan Dedi Hadiana. “Kami perpanjang penutupan jalur pendakiannya hingga pergantian tahun. Dan, untuk buka kembali akan dievaluasi lebih lanjut,” terangnya. Saat ini kondisi di pendakian tersebut masih belum aman.

Mengingat intensitas hujan masih tinggi, terutama di puncak gunung. Lalu, kerap kali turun kabut tebal serta sejumlah pertimbangan lainnya. Jika dipaksakan, pihaknya khawatir jika pendaki terkena musibah. Hal itu semata-mata menghindarkan pendaki dari marabahaya.

Sementara itu, Camat Prigen Mujiono yang ditemui media ini di pos izin pendakian Tretes berharap para pendaki bersabar. Ia menyarankan menunda mendaki untuk sementara waktu. Jika terpaksa ingin naik ke puncak gunung, bisa dialihkan ke lokasi pegunungan lain yang lebih aman. Seperti Penanggungan di Trawas, Kabupaten Mojokerto.

“Cuaca saat ini kurang bersahabat, tentunya kami di pemerintahan kecamatan mendukung sepenuhnya UPT Tahura R. Soerdjo menutup sementara jalur pendakian Arjuno-Welirang,” jelasnya.

Sementara itu, hingga hari ke tujuh proses pencarian Faiqus Syamsi yang tinggal di Kelurahan Kendangsari, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya, itu belum membuahkan hasil. Basarnas Jatim bersama potensi SAR lainnya, akhirnya sepakat menghentikan proses pencarian kemarin (26/12).

“Tepat pukul 18.00, sesuai hasil evaluasi dan pertimbangannya, kami putuskan menghentikan proses pencarian korban pendaki yang hilang di Gunung Arjuno ini,” tegas Farid Kurniadi, SMC Basarnas Jatim.

Selama tujuh hari proses pencarian korban, ia katakan melibatkan banyak tim berjumlah puluhan orang dari Basarnas, BPBD, Tagana, Pamhut Tahura R. Soerdjo, dan potensi SAR lainnya.

Dan, selama proses pencarian berlangsung, tim SAR terkendala pada cuaca dan juga medan yang berat. “Keberadaan korban masih belum diketahui, termasuk kondisinya hidup atau meninggal. Dugaan kuat kami dari hasil evaluasi selama tujuh hari pencarian, korban ini jatuh ke jurang,” ungkapnya.

Keputusan untuk menghentikan pencarian korban, selain pertimbangan dan hasil evaluasi di lapangan. Juga mengacu pada UU 29/2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. Tepatnya pasal 34 ayat 1.

Bersamaan dengan dihentikan proses pencarian korban, semua potensi SAR yang di lapangan juga turun dan kembali ke pos izin pendakian. Baik di Tretes ataupun wilayah lainnya.

Sementara itu, Najib, 52, ayah korban asal Kendang Sari, Kota Surabaya, tampak terpukul. Ditemui media ini di pos izin pendakian Tretes, Prigen, ia tampak terdiam. “Saya hanya bisa pasrah dan maaf tidak bisa komentar banyak. Sebagai orang tua sekaligus seorang ayah, tentunya terus berdoa dan optimistis anak saya bertahan juga masih hidup,” tuturnya. (zal/rf)