Sudah Tersesat Lama, Ini Kemungkinan yang Dihadapi Siswa yang Hilang di Gunung Arjuno

PRIGEN – Pencarian Faiqus Syamsi, 17, pelajar asal Kendang Sari, Kota Surabaya yang dinyatakan hilang tersesat saat mendaki Gunung Arjuno, terus dilakukan. Jumlah personel juga ditambah untuk meningkatkan kekuatan tim dalam operasi SAR tersebut.

LUAS: Kawasan Gunung Arjuno dipotret dari kejauhan. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Meski begitu, Faiq -panggilan Faiqus Syamsi- belum berhasil ditemukan hingga memasuki hari ketiga Sabtu (22/12). Bahkan, hasil pencarian di hari ketiga itu belum ada tanda-tanda keberadaan Faiq di kawasan puncak Gunung Arjuno.

SAR Mission Coordinator (SMC), Farid Kurnadi mengatakan, pihaknya memang terus menambah personel dalam operasi SAR tersebut. Sebelumnya, sudah ada empat tim yang sudah dikerahkan di lapangan. Mereka bermukim di posko selama operasi masih berlangsung.

“Tadi malam pukul 00.00, ada tim yang berangkat untuk mengirim dorlog (dorongan logistik). Jumlahnya ada lima orang. Tim tersebut langsung menuju ke Posko OSC,” kata Farid saat ditemui di Pos Jaga Taman Wisata Alam, Tretes, Prigen.

Berselang sejam kemudian, dua tim juga diberangkatkan menuju puncak melalui jalur pendakian di kawasan Kaliandra. Pagi harinya, tiga tim diberangkatkan dari jalur berbeda. Penyisiran yang dilakukan melalui berbagai pintu masuk itu, diharapkan dapat memaksimalkan operasi SAR yang tengah berlangsung.

Tim pertama bergerak dari jalur Srumpat, Cangar, Kota Batu menuju ke Posko OSC (On Scene Commander). “Sedangkan tim lainnya melalui jalur pendakian Purwosari. Lalu juga ada tim yang berangkat dari jalur pendakian via Karangploso, Malang,” imbuh Farid.

Sejauh ini, penyisiran dilakukan di area yang tak jauh dari lokasi jujukan Faiq dan sejumlah temannya. Seluruh tim masih berfokus di titik saat Faiq dinyatakan lost contact dengan rombongannya. Yakni di Puncak Bayangan Gunung Arjuno.

“Tim juga menganalisa kemungkinan-kemungkinan yang terjadi disana. Pencarian dalam radius 1 karfak atau 925 meter persegi,” ujarnya.

Selain itu, operasi SAR juga dilakukan dengan cara menganalisa dokumentasi foto maupun video rombongan pelajar SMKN itu selama di kawasan puncak. Kata Farid, dokumentasi itu akan dijadikan petunjuk dalam melakukan pencarian.

“Mereka pernah menuju lokasi mana saja nanti akan di cek titik koordinatnya melalui Google Earth. Sehingga kami ada gambaran untuk tim di lapangan,” jelasnya.

Ia pun berharap operasi SAR itu segera membuahkan hasil. Selain 10 tim yang sudah dikerahkan, tidak menutup kemungkinan akan diputuskan untuk menambah tim lagi. Operasi SAR itu, kata Farid, akan dilanjutkan hingga tujuh hari usai kejadian.

Batas waktu pencarian itu sesuai dalam UU Nomor 29/2014 tentang Pencarian dan Pertolongan. “Namun ketika ada informasi baru ataupun tanda-tanda ditemukannya korban bisa dibuka lagi. Kami harap bisa ditemukan secepatnya,” tandasnya.

Bagaimana kemungkinan korban bisa bertahan selama beberapa hari? Sebab diketahui, saat tersesat, korban tak membawa bekal yang cukup. Bahkan hanya pakaian yang melekat di tubuh.

Soal itu, Farid mengungkap beberapa hal yang memungkinkan korban tetap bisa selamat. Di antaranya ketersediaan jenis tumbuhan yang bisa dimakan. “Ada, kalau tumbuh-tumbuhan ada. Begitupun dengan sumber air juga ada,” ungkapnya.

Dengan begitu, besar kemungkinan korban bisa bertahan hidup di belantara hutan Gunung Arjuno. “Karena jarak antara lokasi kejadian dengan Lembah Kijang kan tidak terlalu jauh. Jarak tempuhnya sekitar 3 jam,” paparnya.

Sedangkan terkait dengan keberadaan binatang liar yang bisa menjadi ancaman, cukup minim. Farid membeberkan, di kawasan tersebut sangat jarang ditemukan binatang buas. Apalagi, dalam cuaca dingin saat ini. Kalaupun ada binatang, kata Farid, paling banyak ditemukan yakni kijang.

Namun kijang bukan ancaman yang akan membahayakan nyawa manusia karena tidak termasuk binatang buas. “Pada umumnya, kijang akan lari ketika tahu ada manusia. Sedangkan macan kumbang, kemungkinan tetap ada. Namun tidak banyak di area sana,” bebernya.

Satu-satunya yang perlu diwaspadai yakni cuaca ekstrem. Menurut Farid, musim hujan seperti saat ini kerap berakibat cuaca kabut diatas gunung.

“Belakangan ini kabut turun diatas pukul 14.00. Jarak pandang akan terganggu. Nah, visibility manusia hanya 5 sampai 8 meter. Tapi kami tetap sangat berharap korban bisa survive,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Faiqus Syamsi bersama keenam kawannya yang merupakan siswa SMKN 5 Surabaya, mendaki Gunung Arjuno pada Minggu (16/12) lalu. Hingga Selasa (18/12) lalu, rombongan ini turun. Di tengah perjalanan, ada dua orang yang terpisah. Faiqus Syamsi berinisiatif untuk menyusul kedua kawannya.

Tapi, justru Faiqus Syamsi yang tersesat. Dan hingga Sabtu (22/12) belum ditemukan. (tom/fun)