Bangun Sumur Artesis di Setiap Dusun, Langkah Desa Gading Cukupi Kebutuhan Air

Partisipasi warga memang mempunyai peran penting dalam memberikan sumbangan saran dan masukan untuk kebijakan pemerintah desa. Apalagi jika untuk pembangunan. Dengan begitu, pembangunan yang dilakukan desa benar-benar dirasakan manfaatnya pada lapisan paling bawah.

——————

Desa Gading yang dipimpin Agus Salim ini, memang mengutamakan pembangunan yang muaranya ada di Musrenbang desa. Di kegiatan inilah desa bisa menyerap aspirasi masyarakat karena semua elemen terlibat. Mulai dari pemuda, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Bahkan, lapisan struktur paling bawah seperti RT/RW, kasun, ikut aktif.

“Partisipasi masyarakat cukup tinggi. Mereka sangat kompak dan aktif untuk bersama dalam membangun desa, sehingga sebelum menentuhkan arah kebijakan pembangunan di tahun berikutnya, seluruh lapisan elemen masyarakat ikut terlibat. Maka, manfaatnya pun benar-benar menyentuh dan dirasakan secara merata dan bersama,” terangnya.

Adapun hasil pembangunan yang paling dirasakan di tahun 2018 yakni keberadaan sumber air bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk memebuhi kebutuhan cuci, mandi, minum sehari-hari. Sumber itu kini bisa dimanfaatkan setelah ada pembangunan sumur artesis. Tidak main-main, desa membuatkan sumur ini di semua dusun, sehingga manfaatnya bisa dirasakan merata.

Sumur bor yang dibangun dilengkapi dengan pipanisasi sebagai jalur induk sumber air bersih yang ada di setiap dusun. Setelah jadi, kini warga menjadi lebih mudah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi yang berbeda dengan dulu, dimana warga harus mengambil air bersih ke sumur resapan. Bahkan untuk kebutuhan cuci-mandi, warga juga kerap kali ke sungai.

“Kebutuhan air bersih kini tercukupi dengan baik, berkat adanya sumur bor artesis yang dibangun,” jelas Agus Salim yang juga sebagai ketua Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Winongan tersebut.

Selain untuk kebutuhan warga sekitar, keberadaan sumur ini juga dimanfaatkan untuk kebutuhan tempat ibadah. Karena memang titik bangunan sumur berada berdekatan dengan musala. Aliran air bersih juga mengalir ke musala yang dimanfaatkan untuk wudu warga yang hendak menjalankan ibadah.

“Warga yang mengambil air bersih tidak dipungut biaya sama sekali. Tetapi, warga berinisiatif sendiri secara suka rela menyumbangkannya langsung ke musala, sehingga hasilnya juga bisa digunakan untuk kebutuhan tempat ibadah,” ujarnya

Perhatian desa yang diberikan tak hanya itu, Pemdes setempat juga memberikan perhatian pada kelancaran kebutuhan air untuk irigasi petani, misalnya dibangunkan plengsengan saluran irigasi di dusun kurban. Dengan adanya bangunan ini, maka kebutuhan air untuk lahan pertanian warga terjaga dengan baik. Air tak banyak yang bocor. Desa juga membangun tembok penahan tanah di Dusun Balun dan drainase di Dusun Gading. Sehingga menjadi infrastruktur pendukung akses transportasi warga sekitar.

 

Menjaga Tradisi dengan Selamatan Desa 

JAGA TRADISI: Penampilan karnaval yang diwakili oleh setiap RT di lingkungan Desa Gading. Karnaval yang digelar saat selamatan desa ini bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal. (Pemdes Gading for Jawa Pos Radar Bromo)

Tradisi dan budaya harus dijaga oleh generasi penerus. Sehingga, sejarah peradaban tak hilang tergerus oleh arus globalisasi yang kini sudah menjadi gaya hidup anak muda zaman sekarang. Nah, untuk membuat filter agar kearifan lokal tetap bertahan dan terjaga dengan baik, maka Pemdes Gading mengemasnya dengan kegiatan selamatan desa yang diselenggarakan di setiap tahunnya.

“Selamatan desa sudah menjadi agenta rutin, bahkan sudah menjadi ikon wisata tahunan desa. Kegiatan ini juga untuk menjaga dan melestarikan potensi kearifan lokal desa yang dikemas dalam selamatan desa,” terang Agus Salim, kades Gading.

Berbagai rangkaian kegiatan selamatan desa digelar selama 3 hari 3 malam berturut-turut yang dilakukan sejak Jumat Legi di bulan Sura penanggalan Jawa. Adapun rangkaian acara yang diselenggarakan yakni pengajian malam Jumat, khataman Quran, pertunjukan Terbang Wedar yakni kesenian khas Desa Gading, karnaval, dan drama kolosal yang dipertunjukkan oleh perwakilan setiap RT.

Rangkaian lain dari selamatan desa ini adalah lomba tumpeng hasil bumi yang ikut diarak keliling desa. Sebagai puncak acaranya adalah pengajian akbar dan sentunan anak yatim dan janda serta pembagian hadiah dan penghargaan setelah itu dilanjut acara Ishari dan Habsyi.

“Rangkaian acara ini dipusatkan di balai desa. Selamatan desa adalah wujud rasa syukur warga, partisipasi dan kebersamaan warga cukup aktif terlibat dalam suksesnya acara. Alhamdulillah warga di sini sangat kompak karena semua terlibat membantu menyukseskan,” jelas Agus.

Berbagai rangkaian acara yang dilakukan menjadi daya magnet yang menyedot animo masyarakat luas untuk ikut meramaikan acara. Warga luar desa banyak yang ikut menikmati rangkaian acara ini. “Ribuan warga pasti tumplek blek menanti rangkaian acara selamatan desa yang diselenggarakan setiap tahunnya terpusat di pendapa desa,” ujarnya

Perputaran ekonomi pun cukup besar, sehingga memberi dampak keuntungan bagi pelaku usaha warga sekitar. Hal ini juga sebagai sesuai slogan desa yakni Gading Hebat yang artinya harmonis, edukasi, bersih, aman, dan tenteram. Ke depan akan dikemas sebaik mungkin, sehingga tetap istiqamah berjalan tiap tahunnya. (ed/fun)

Tentang Desa gading, Kecamatan Winongan
Jumlah Penduduk: 4900 Jiwa
Luas Wilayah: 157,762 Hektare
Jumlah RT/RW: 25/9
Jumlah Dusun: 4; Gading, Balun, Kurban, Wedar.

Potensi Desa:
Pertanian: Padi, Tebu
Peternakan: Ayam Potong dan Petelur
Perikanan: Lele, Gurami, Mujaer Nila
UKM: Mebel, Batako, Paving, Kue Kering, Keripik Pisang dan Gayam, Cor Logam Pembuatan Spare Part Kompor.