Sawan

Oleh: M. Arif Budiman


JAMAIN masih kelimpungan di atas dipan. Kedua kaki dan tangannya dipasung menggunakan kain sampur. Matanya membelalak menghadap langit-langit. Sesekali hidungnya mengendus-endus ketiaknya sendiri, menggeram, kemudian menjulurkan lidahnya dan meneteskan air liur seperti anjing.

Sementara bapaknya, Suparjo, mengelus kening Jamain sembari membaca ayat-ayat suci. Sesekali Sarmi, kakak Jamain juga membantu bapaknya dengan memencet jempol Jamain sambil berulangkali membaca ayat kursi.

“Apa tidak sebaiknya Jamain kita bawa ke orang pintar, Pak?” tanya Bu Parjo dengan nada khawatir melihat Jamain mengerang di atas dipan. “Katanya di Desa Jepangpakis ada seorang Kiai yang sanggup mengobati penyakit semacam ini.”

“Sebaiknya kita sabar dulu, Bu. Sementara biar Ustad Tori yang menangani. Kalau Ustad Tori sudah tidak sanggup, baru kita bawa ke sana.”

“Aku hanya tidak ingin ini berlarut-larut, Pak. Kasihan Jamain setiap menjelang magrib selalu begini,” Bu Parjo mengurai air mata saembari mengelus tangan Jamain. “Aku takut dia jadi gila, Pak.”

“Sudah Bu. Jangan berpikir yang macam-macam. Kita doakan saja Jamain cepat sembuh,” ujar Sarmi.

***

“Gus, habis ini kamu mau kemana?” tanya Jamain di Langgar Pinggir milik Ustad Tori selepas mengaji.

“Aku mau pulang, In. Bapakku tadi berpesan, setelah mengaji aku disuruh langsung pulang.”

“Ah, mbok main dulu. Ayo main gasing di latar Rumah Kongsi,” ajak Jamain. “Sudar, Sulamin dan Idris tadi sudah saya ajak dan mereka mau.”

“Wah, emoh In. Tidak mau. Aku tidak berani sore-sore begini main di sana.”

“Lho kenapa?”

“Aku takut. Kata Bapakku di sana ada asuajag.”

“Asuajag? Hewan apa itu Gus?”

“Kata bapakku sejenis asu lelembut. Asu itu badannya bisa membesar hingga lebih besar dari badan kambing. Bahkan bisa sebesar kerbau!”

“Ah, bapakmu bohong Gus. Takhayul itu. Hari gini tidak usah percaya dengan hal semacam itu,” tukas Sudar ikut nimbrung, kemudian disusul Sulamin dan Idris.

“Beneran, Dar. Aku tidak bohong. Bapakku berkata demikian karena pernah melihatnya sendiri. Apalagi kita ini berlima, berarti ganjil. Konon makhluk-makhluk seperti itu suka terhadap hal-hal yang ganjil.

“Takhayul kamu, Gus,” timpal Jamain. “Apa kamu lupa dengan perkataan Ustad Tori? Dulu beliau pernah berkata bahwa hal-hal semacam itu termasuk takhayul dan kita jangan terlalu percaya.”

“Aku sedang tidak bertakhayul!” bantah Agus. “Apa kalian juga lupa bahwa Allah, Malaikat, dan Jin adalah gaib?”

“Ya aku percaya, In. Tapi dengan Jin dan sejenisnya, kita tidak boleh takut. Memang mereka sudah bersumpah sejak Nabi Adam dan Siti Hawa dibuang ke dunia. Mereka akan menggoda anak cucu Adam-Hawa hingga akhir zaman!” jawab Jamain.

“Ah, aku tidak mau. Emoh. Aku mau pulang saja!”

“Ah, penakut kamu, Gus,” ujar Idris.

“Wis, ayo kita bawa saja Si Agus kesana,” ajak Sulamin sembari menggapit lengan Agus.

Agus pasrah dan tidak bisa menolak. Ia terpaksa menuruti kemauan teman-temannya. Padahal di dalam hatinya tebersit rasa khawatir. Ia takut perkataan bapaknya benar-benar terbukti. Apalagi rumah kongsi peninggalan Belanda yang sudah lama kosong itu terlihat menyeramkan meski di siang hari.

Sesampai di Rumah Kongsi, mereka langsung memainkan gasing. Satu-satu gasing diputar dengan tali sepanjang rentangan tangan. Kemudian permainan dilanjutkan dengan adu bidik. Setelah mereka melakukan hompimpa, gasing Jamain mendapat giliran pertama untuk dibidik. Kemudian Agus membidik gasing Jamain, disusul Sulamin membidik gasing Agus, lalu Sudar membidik gasing Sulamin dan Idris mendapat giliran terakhir.

“Nas! Aku mau pipis dulu,” Jamain berlari ke belakang Rumah Kongsi.

“Eh, In. Tunggu! Jangan kesana,” sergah Agus, namun tidak diindahkan Jamain.

Di belakang Rumah Kongsi, Jamain segera buang air kecil. Kantung kemih dalam perutnya sudah tidak kuat menampung volume air kencingnya. Ditumpahkan seluruh isinya didekat semak-semak.

Selepas berhajat, tiba-tiba Jamain dikagetkan dengan seekor anjing hitam sebesar kambing yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Matanya merah nyalang menatap Jamain. Keempat taringnya panjang menyembul diantara belahan moncongnya.

Tubuh Jamain membatu. Namun perlahan mulutnya masih bisa membaca ayat kursi.

“Aku tidak takut dengan ayat-ayatmu! Teruslah merapal. Aku tidak takut!”

Seketika Lidah Jamain menjadi kelu ketika anjing dihadapannya itu dapat berbicara layaknya manusia. Keringat dingin mengucur disekujur tubuh Jamain. Matanya tidak berkedip menatap anjing dihadapannya itu. Tiba-tiba tubuh anjing hitam itu perlahan membesar hingga sebesar kerbau, lalu membesar lagi hingga hampir mencapai langit- langit rumah.

“Dasar anak manusia keji! Busuk!” bentak anjing itu disertai geraman. “Kau telah berbuat kurang ajar di rumahku. Sudah untung kau kuperbolehkan main di sini. Kini kau malah buang air sembarangan. Dasar manusia biadab! Tidakkah kau diajarkan tentang tata krama dan sopan santun, hah?!” perlahan anjing itu menundukkan kepalanya hingga bersehadap dengan Jamain. Hembusan napasnya seolah menyiratkan kemarahan yang teramat sangat.

Anjing itu kemudian menggeram seperti hendak menerkam Jamain. Kuku-kukunya yang runcing seakan siap mencabik-cabik tubuh Jamain dan gigi-giginya yang sebesar buah mentimun tampak tajam seolah siap mengunyah tubuh Jamain mentah-mentah.

“Kali ini kau kuampuni. Sampaikan pada orang-orang. Jangan pernah berbuat kurang ajar ditempat ini. Atau mereka akan celaka!”

Jamain hanya tertegun. Mulutnya tidak dapat dibuka. Hanya kelopak matanya yang terlihat berkedip menyiratkan kesanggupan. Kemudian anjing itu menghilang. Sejak saat itu, tubuh Jamain demam dan setiap menjelang magrib ia kehilangan kesadaran.

***

“Bagaimana Ustad, apa Jamain bisa disembuhkan?”

Ustad Tori mengernyitkan dahi. Ia kembali memegang kening Jamain sembari komat-kamit membaca ayat-ayat suci, “Maaf Pak Parjo, sepertinya saya sudah tidak sanggup lagi berikhtiar. Sebaiknya Bapak cari orang lain yang dapat mengatasi Jamain.”

“Iya Ustad. Saya akan segera cari. Hanya saja saya penasaran. Sebenarnya anak saya ini bertemu makhluk macam apa ya, kok tingkah lakunya seperti anjing.”

“Saya sendiri kurang tahu, Pak. Keahlian yang saya miliki belum sampai pada penerawangan, sehingga saya tidak dapat menyimpulkan Jamain bertemu makhluk apa.”

Suparjo memahami penyakit anaknya bukanlah penyakit yang dianggap remeh. Sawan yang menempel pada tubuh anaknya pun bukan sawan sembarangan. Ia harus segera mencari pertolongan. Namun malam sudah terlalu larut, ia pun memutuskan untuk besok pagi.

Purnama beringsut. Kalender Jawa menunjukkan malam Jumat Kliwon di bulan Sura. Gerimis tipis menambah aroma wingit suasana kampung. Suparjo masih terjaga menunggui Jamain yang tertidur pulas di atas dipan. Diambilnya sebatang rokok, ia nyalakan, lalu diisapnya perlahan sambil memikirkan keadaan. Namun, ketenangan malam tiba-tiba terusik setelah Jamain mengigau. Ia mohon ampun dan meminta maaf untuk tidak dimakan. Segera Suparjo menghampiri Jamain. Ditepuknya pipi Jamain keras-keras.

“Bangun, In. Bangun. Sadar!”

“Ada apa Pak?” tanya Bu Parjo terjaga dari tidurnya.

Jamain terbangun, namun kedua matanya terbelalak sembari nenunjuk ke langit-langit, “Asu… Asuajag! Hus! Sana pergi! Jangan ganggu aku. Ampun. Aku minta ampun!” Jamain terkulai lemas lalu tidak sadarkan diri.

***

“Setelah beberapa malam, baru tadi malam anak saya berbicara, Yai. Itu pun dalam keadaan tidak sadar. Anehnya di dalam igauannya, dia mohon ampun pada seekor anjing. Setelah saya tanya pada beberapa teman mainnya, dua hari yang lalu mereka memang bermain di sebuah rumah kosong peninggalan Belanda. Memang beberapa orang di kampung kami mengatakan bahwa rumah tersebut berpenghuni makhluk halus.”

Kiai Sabar hanya diam dan mengangguk-angguk. Diisap rokok kreteknya dalam-dalam. Dahinya mengernyit seolah memikirkan sesuatu. “Ya, sekarang aku mengerti” jawab Kiai Sabar.”

“Maksud Yai?” Suparjo sedikit bingung.

“Sekarang giliran sampean yang bekerja ya.”

“Saya yang bekerja? Maksud Yai?”

“Ya, giliran sampean yang menyembuhkan anak sampean sendiri. Datanglah ke rumah itu. Ajaklah makhluk itu untuk berdamai, sebab anak sampean ini telah berlaku kurang ajar dengan mengencingi rumahnya. Dan ini,” Kiai Sabar mengulurkan sebotol air mineral “Siramkan tempat dimana anak sampean kencing. Air itu untuk membersihkan air kencing anak sampean. Jangan lupa sebelum menyiram, sampean bacakan surat Al- Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Setelah itu sampean ngomong saja, sampean ingin berdamai. Suruh makhluk itu jangan ganggu anak sampean lagi.”

Suparjo mengangguk. Ia pun minta pamit pada Kiai Sabar.

Sesampai di rumah kongsi, Suparjo melaksanakan seluruh perintah Kiai Sabar dari awal hingga akhir. Setelah itu ia bergegas pergi. Namun, sejenak langkahnya terhenti setelah seekor anak anjing berwarna hitam melintas dihadapannya. Mereka saling beradu pandang. Kemudian anak anjing itu berlari ke arah semak-semak. Suparjo mencoba mengejar anak anjing itu hingga menerobos semak-semak. Tetapi langkahnya terhenti oleh tembok pagar pembatas rumah. Anehnya, anak anjing itu hilang tidak berbekas.

Dalam suasana keheranan, Suparjo memutuskan untuk pulang. Selang beberapa saat kemudian, suara ponsel dalam saku celana Suparjo berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk.

“Pak, Jamain sudah sadar. Dia bingung apa yang barusan terjadi!” tutup Sarmi.

 

Kota Kretek, Maret 2018