Istri Cantik-Cantik Jarang Dibelai, Malah Sering Dianiaya

MAYANGAN – Rumah tangga yang dibangun Minthul (nama samaran) dengan Tole (juga nama samaran), warga Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, akhirnya kandas. Menikah muda di usia 16 tahun, Minthul akhirnya tak tahan dengan perlakuan sang suami. Pasalnya, Tole yang usianya baru genap 17 tahun itu ringan tangan. Selain itu, Tole lebih suka keluyuran daripada bermesraan dengan istrinya.

Sebelumnya, Minthul tak pernah membayangkan menikah di usia muda. Ia mengaku menikah karena mengikuti kemauan orang tua. Hingga kemudian, Minthul harus mengalami pahitnya hidup berumah tangga. Apalagi kalau bukan karena dia jarang dibelai sang suami.

Perempuan muda yang suka membiarkan rambutnya terurai itu mengatakan, Tole kerap pulang larut malam dan meninggalkannya seorang diri di kamar indekos. “Dia (Tole, Red) selalu saja pulang larut malam, saya kerap kali ditinggalkan seorang diri. Masa mau tidur sendiri terus,” curhatnya pada wartawan media ini.

Saat curhat, matanya terlihat sembab. Minthul memang kelihatan lebih dewasa dibandingkan usianya. Sejatinya, bukan hanya karena jarang dibelai, Minthul nekat menggugat cerai karena sang suami ringan tangan. Tak jarang tubuhnya yang putih mulus terlihat lebam.

“Ini, Mas, baru dua hari lalu dia mukul saya pakai tangannya,” kata Minthul seraya menunjukkan luka di punggungnya. “Kalau hanya dibiarkan tidur sendiri, mungkin saya masih bisa nahan. Tapi, ketika suami pulang malam dan sering marah-marah sampai mukul, coba wanita mana yang tahan?” imbuhnya.

Hal ini yang membuatnya semakin terlihat kurus karena tertekan dengan perlakuan suaminya. “Saya memendam sendiri rasa sakit itu, tanpa berbagi ke orang lain. Hanya sama Mas ini saya mau curhat,” keluh perempuan yang kini usianya genap 19 tahun itu.

Dari pernikahannya ini, Minthul dan Tole memang belum dikaruniai seorang anak. Hal ini juga yang membuat dirinya membulatkan tekad untuk mengajukan gugatan cerai kepada suaminya.

Minthul kemudian mengenang awal proses pernikahannya. Kala itu, dirinya masih berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA. Namun, karena desakan perjodohan dari keluarganya, ia tak bisa membantah. Padahal, ia sama sekali tidak kenal dengan calon suaminya ini.

Kawin dulu, cinta belakangan, itu mungkin yang melintas di benaknya kala itu untuk menghibur diri. “Setelah tiga hari menikah, saya dan suami sudah cekcok. Sudah berkelahi hanya karena persoalan sepele saja. Memang pada intinya kami tidak sehati, tidak sejalan. Hanya karena menuruti kemauan keluarga, ya jadinya seperti ini. Sedikit-sedikit cekcok, ya sudah, saya gugat saja. Lagian kami juga sudah lama pisah ranjang,” curhatnya.

Minthul sangat ingin proses perceraian ini bisa cepat tuntas. Ia ingin sekali bisa menikah dengan orang yang benar-benar dicintai dan mencintainya. “Andai ada pria yang bisa sesuai dengan keinginan saya, saya mau segera dinikahi,” katanya sembari menyeka air matanya. (sid/rf)