RSUD Waluyo Jati Kraksaan Tambah 4 Alkes dari DBHCT

MAKIN LENGKAP: Salah satu alkes berupa HEPA Filter sudah terpasang di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Sejauh ini, masih banyak ruangan yang butuh alkes ini. (Kominfo Pemkab Probolinggo For Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KRAKSAANManajemen RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menambah sejumlah alat kesehatan (alkes) untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.

Empat alkes itu dibeli dengan menggunakan dana bantuan Pemerintah Pusat berupa Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2018.

Humas RSUD Waluyo Jati Kraksaan Sugianto mengatakan, kemampuan alkes memang sangat perlu di-upgrade. Dengan harapan bisa memenuhi standar rumah sakit sekaligus mengikuti perkembangan rumah sakit dalam melayani masyarakat secara prima.

“Kami tambah alat kesehatan HEPA (High Efficiency Particulate Air) Filter, emergency stretcher, bedside cabinet, mesin anastesi dan termometer digital. Semua itu Alhamdulillah sudah siap di rumah sakit ini (Waluyo Jati),” ujarnya, kemarin.

Sugianto mengatakan, HEPA Filter merupakan suatu alat yang dipasang di ruang operasi untuk menyaring udara di ruang pembedahan. Karena di ruang pembedahan juga diperlukan standar tertentu yang harus dipenuhi untuk mencegah terjadinya infeksi saat pasien dibedah.

“Standarnya semua ruang operasi harus memiliki HEPA Filter. Sementara, dari 6 ruang operasi yang efektif masih dua yang mempunyai HEPA filter. Ke depan tidak hanya ruang operasi saja, nanti juga untuk ruang emergency dan ruang intensif juga harus ada,” ujarnya.

Alkes yang tak kalah penting dikatakan Sugianto, mesin anastesi. Mesin ini berguna untuk membantu dokter spesialis anastesi dalam proses pembiusan pasien sebelum proses operasi dilakukan. Alat ini untuk menjamin pada saat pembedahan atau operasi pasien tidak merasakan kesakitan yang berlebihan.

“Alat ini sudah dilengkapi fitur lengkap. Mulai proses pembiusan sampai untuk mengontrol fungsi napas dan jantung, serta informasi lainnya. Sehingga, jika ada sesuatu dan indikator tertentu dokter bisa mengambil tindakan sesuai sinyal dan informasi saat dalam proses pembiusan yang diberikan oleh alat ini,” jelasnya. (mas/rud)