Setahun, Ini Progres Kasus Pemalsuan Tanda Tangan Ganti Rugi Tol Paspro

MAYANGAN – Pelapor kasus dugaan pemalsuan tanda tangan pencairan dana tol, kembali diperiksa penyidik Satreskrim Polres Probolinggo Kota, Jumat (30/11). Dalam pemeriksaan tersebut, mereka kembali memberikan keterangan mengenai kasus tersebut. Mereka berharap kasusnya segera selesai dan mendapat haknya.

Ada tiga orang yang diketahui melaporkan dugaan pemalsuan tanda tangan ini. Meski bidang tanahnya berbeda, namun nasib mereka sama. Tidak mendapat hak sesuai pertimbangannya.

Salah satunya adalah Misnoto, 64, warga Dusun Krajan 1, RT 7/RW 1, Desa Sumberbendo, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Dalam laporan yang dibuat, Misnoto melaporkan kerabatnya yang diduga membuat surat palsu. Termasuk penggelapan uang.

Sehingga, Misnoto tak mendapatkan pembagian dari pencairan dana terdampak tol sebesar Rp 1,5 miliar itu. Ia mengatakan, seharusnya uang itu dibagi sama rata.

“Seharusnya jika ada pencairan, saya harus dilibatkan. Namun, ini tidak. Sehingga, sampai saat ini saya tidak menerima sepeser pun. Oleh karena itu, pada 15 Agustus 2017, saya melapor ke Mapolresta dan sudah menerima bukti laporan,” terangnya

Hanya saja, sudah satu tahun kasusnya tak ada kejelasan. Karena itu, pada 17 Oktober 2018 ia melapor kejadian tersebut langsung pada Polda Jawa Timur. Barulah setelah mendapatkan bukti laporan, kasus itu diproses kembali di Mapolres Probolinggo Kota.

Selanjutnya, Jumat (30/11) ia juga dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan lebih lanjut atas perkara setahun lalu itu. Tak hanya itu, hal yang sama juga dialami oleh Sutiha, 42, asal Dusun Timur, RT 15/RW 4, Kelurahan Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih. Tanda tangan Sutiha juga dipalsukan.

Tanah seluas 2.531 meter persegi dengan pencairan sekitar Rp 1 miliar, harusnya dibagikan pada keenam ahli warisnya. Namun, hanya dibagi beberapa aja.

“Saya hanya dapat ganti rugi uang bangunan sebesar Rp 73 juta. Padahal, tanah itu kan tanah bersama. Sehingga, harusnya uang tanah juga dibagi. Jika dihitung masing-masing ahli waris mendapatkan sekitar Rp 150 juta,” terangnya.

Selanjutnya, ia melaporkan pada Polda pada 18 Desember 2017. Kemudian pada tanggal 3 Januari, kasusnya dilimpahkan ke polresta. Sekitar bulan April 2018 lalu sudah diproses di Mapolresta.

Kasus serupa juga dialami oleh Sunarso, 49, warga Jalan Brantas, Kelurahan/Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Ia melaporkan penggelapan, lantaran tanah warisnya berada di Desa Muneng.

Tanah terdampak tol seluas 720 meter persegi setelah pencairan, mendapatkan Rp 1,5 miliar. Namun, nyatanya setelah cair, dana itu tidak dibagikan kepada ahli waris lainnya. Karena itu pula, ia melaporkan kasus ini ke polisi. Bahkan, ia juga melaporkan kasus ini ke Polda Jatim, sebelum kemudian dilimpahkan ke polres.

“Kami berharap kasus tersebut terus berlanjut dan ditangani dengan tuntas. Kami punya hak atas ganti rugi lahan,” katanya.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota AKP Nanang Fendy Dwi Susanto mengatakan bahwa penanganan kasus itu masih terus berlanjut. “Kasusnya terus kami tangani. Semuanya itu ada tahapannya. Saat ini masih tahap pemeriksaan,” jelasnya. (rpd/rf)