18 Tahun, 526 Warga Probolinggo Meninggal karena HIV/AIDS

Probolinggo mendapat kado kurang mengenakkan di peringatan hari HIV/AIDS sedunia pada 1 Desember 2018. Jumlah kasus di kota dan kabupaten Probolinggo terus meningkat.

————

Suasana Alun-alun Kraksaan Jumat (30/11) lebih ramai dari biasanya. Ternyata, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar pemeriksaan HIV/AIDS untuk masyarakat umum. Sedikitnya, ada 150 orang lebih yang berani tes HIV/AIDS di Alun-alun Kota Kraksaan.

Kasi Pencegahan dan Penangulangan Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan, angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo masih tinggi.

Salah satu upaya untuk menekan angka itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk tidak takut tes HIV/AIDS. Hal itu penting untuk memastikan, bahwa mereka bebas dari HIV/AIDS.

“Dengan mengajak masyarakat tes HIV/AIDS, kita akan mengetahui lebih luas yang positif HIV/AIDS atau negatif. Dengan begitu, lebih mudah pengobatannya dan pencegahan penularannya,” kata dr. Veronica pada Jawa Pos Radar Bromo.

Nah, dalam memeringati Hari Anti HIV/AIDS Sedunia, dikatakan Dewi, pihaknya ingin mengenalkan pada masyarakat soal penularan virus mematikan tersebut. Dengan begitu, masyarakat memiliki kesadaran untuk menjahui pergaulan bebas, pemakaian narkoba, ataupun hal-hal yang mengakibatkan terkena HIV/AIDS.

“Ada sekitar 150 orang yang ikut tes HIV/AIDS. Mulai dari pelajar, petugas, maupun masyarakat umum,” tuturnya.

Disinggung soal angka kasus HIV/AIDS di Kabupaten Probolinggo, Dewi mengatakan, dalam setahun ini telah ditemukan 122 kasus HIV/AIDS. Bahkan, dari angka itu sebanyak 11 penderita HIV/AIDS telah meninggal dunia.

Sedangkan, 111 penderita HIV/AIDS masih hidup dan terus dalam proses pengobatan. Belum ditambah tiga PSK yang terjaring razia dan dinyatakan positif HIV/AIDS. Sebab, ketiga PSK itu merupakan penderita baru yang ditemukan.

“Kalau kasus HIV/AIDS mulai ditemukan dan dilakukan pendataan sejak tahun 2000 lalu. Ditemukan 1.699 penderita HIV/AIDS. Dari angka penemuan itu, sebanyak 1.173 penderita masih hidup dan sebanyak 526 penderita meninggal karena virus HIV/AIDS,” terangnya.

Namun terpenting, kata Dewi, pihaknya berupaya memberikan pelayanan kesehatan bagi ODHA. Sebab, HIV/AIDS merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Probolinggo yang memerlukan penanganan secara komprehensif.

Namun sayang, fasilitas pelayanan ARV dan PDP yang disiapkan pemkab tidak dimanfaatkan seluruhnya oleh ODHA. Terbukti, hanya sekitar 63 persen ODHA yang memanfaatkan layanan inisiasi ARV dan PDP.

”Tahun 2017 didapatkan data dari 8.174 orang yang dites HIV, 259 orang dinyatakan positif mengidap HIV. Dan hanya 190 pasien atau 73 persen yang masuk perawatan PDP. Sedangkan yang menerima ARV hanya 116 pasien atau 61 persen,” terangnya.

 

Pentingnya Pendekatan pada ODHA

Pencegahan yang paling efektif terhadap perkembangan penderita HIV/AIDS adalah pemahaman dari kematangan pendamping atau manajer kasus (MK). Mengingat yang memberikan semangat serta pemahaman kepada penderita adalah MK.

Seperti yang diungkapkan oleh Badrut Tamam selaku Pengelola Program (PP) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Probolinggo. Menurutnya, untuk mencegah penularan, memberikan pemahaman yang matang kepada penderita.

Sayangnya, banyak MK yang tidak matang. Di sinilah peran pemerintah seharusnya yang memberikan pematangan kepada setiap MK. “Untuk mencegah penularan, sebetulnya kuncinya yakni pemahaman konseler, yang ke dua yakni kematangan pendampingan,” terangnya.

Menurutnya, harus ada suplemen khusus untuk memberikan kematangan terhadap MK. Namun, selama ini yang terjadi, pihak pemerintah mengatakan bahwa pematangan yang dilakukan dengan cara sosialisasi dan seminar sudah dilakukan.

“Meski dalam setahun sekali, pemerintah bilangnya sudah. Padahal, tidak cukup jika hanya dilakukan sekali saja dalam setahun,” bebernya. Dengan kehadiran MK, maka tak peduli orang yang menderita pejabat ataupun bukan.

Badrut memastikan, pemkot akan memantau dan memberikan pengertiannya kepada penderita agar tidak melakukan hal tersebut.

“Semisal yang tertular adalah pejabat. MK kadang sungkan untuk memberikan pengertian kepada pejabat tersebut. Kalau sudah matang, paling tidak MK langsung menegur secara perlahan kepada pejabat tersebut agar tidak terus-terusan berganti pacar. Sehingga, kasihan pacarnya juga jika tertular,” ujarnya.

“Itu, baru yang terdata. Sedangkan yang tak terdata atau yang malu dan tak ingin penyakitnya diketahui diperkirakan lebih dari itu,” terang pria yang akrab dipanggil Badrut. (mas/rpd/rf/mie)