Seekor Anjing, Penjual Bakso, dan Si Hantu Berwajah Gelap

Oleh: M Faizul Kamal


Sudah menjadi kebiasaan setiap hari, ketika tukang bakso membunyikan mangkuk sambil mendorong gerobaknya, Syatta keluar rumah membawa boneka anjing, menyebut-nyebut perkataan aneh kepada tukang bakso itu. “Awas! Di belakangmu ada hantu berwajah gelap.” Entah apa maksudnya.

*

Wardikun, si penjual bakso, beberapa hari ini berpikir ulang jika melewati jalan depan rumah Pak Irul. Dia merasa terancam atas perkataan-perkataan yang diucapkan gadis kecil itu.

Sesuai rencananya, malam ini dia berniat untuk tidak lewat di jalan depan rumah Pak Irul. Meski di jalan itu, sekitar lima puluh meter dari rumah Pak Irul, ada si Sadikin yang biasa menanti kedatangannya. Tapi ia lebih memilih untuk tidak lewat sana. Dia tidak keberatan kehilangan satu pelanggan.

Malam pukul tujuh. Wardikun mendorong gerobak dari gang depan masjid membelok ke kiri menuju persimpangan jalan. Dia sudah menjual tujuh mangkuk. Sebuah hasil yang membuatnya semringah ketika malam masih jauh dari larut.

Biasanya, dia berjualan sampai jam dua belas malam, keliling kampong, masuk-keluar gang. Satu malam dia dapat menjual 20 sampai 25 mangkuk.

Kabar dari seseorang, Pak Jumari ketua RT 03, akan memesan 20 mangkuk baksonya untuk menjamu masyarakat yang ikut nobar sepakbola Indonesia VS Jepang di poskamling pukul delapan nanti. Dengan dibelinya 20 mangkuk bakso, itu artinya dia bisa pulang lebih awal. Tidur pun lebih awal.

Wardikun terus mendorong gerobaknya. Nyaring suara ketukan mangkuk terdengar di mana-mana. Ia berjalan sambil membayangkan alangkah beruntungnya hari ini baksonya diborong Pak Jumari. Senyumnya pun terkembang.

*

Syatta memeluk boneka anjing berwarna kuning menyala. Kedua kelopak mata kecilnya tampak bening, pertanda ia sudah lama bangun. Padahal, azan subuh baru terdengar 15 menit yang lalu. Tak seperti biasanya, Syatta tiba-tiba terbangun.

Sebuah keanehan terjadi padanya. Ia tampak ketakutan. Tangannya begitu erat mendekap boneka. Bola matanya melirik-lirik seluruh ruang kamar, seperti mengawasi sesuatu. Lalu tiba-tiba, dia beranjak dari ranjang, berlari terbirit-birit menuju dapur dan mendekap erat paha ibunya yang berada di sana.

“Hantu! Hantu! Di kamarku ada hantu, Mah,” terang Syatta.

Ibunya terdiam dan sedikit terperenjat mendengar perkataan aneh anaknya. Ia hentikan menggoreng tempe yang baru setengah matang.

“Itu di sana, anak kecil gundul tidak pakai celana menari-nari membawa pisau.” Tangan Syatta menunjuk-nunjuk ruangan tempat perkakas dapur.

Ketakutan Syatta kini tidak segarang tadi. Dia mulai terlihat kegirangan. Barangkali terhibur oleh anak kecil gundul yang dilihatnya. Sedangkan ibunya terperengah tak karuan.

“Jangan berkata yang enggak-enggak Syatta. Kamu ini, sana tidur lagi!” bentak ibunya. Meski aslinya ia merasa takut sendiri, lebih takut dari anaknya.

Syatta menangis. Dia tidak mau ke kamarnya lagi. Ia akhirnya berjalan perlahan-lahan menuju kamar mandi, tempat favoritnya.

Syatta cukup lama berada di kamar mandi. Tetapi ibunya tidak mencurigai hal tersebut. Paling-paling, bocah itu menggambar di dinding kamar mandi, seperti yang biasa ia lakukan, begitu pikir ibunya.

Di kamar mandi yang mulanya bercat putih bersih, kini ia sulap menjadi gambar penuh hewan. Syatta memang menyukai hewan. Hal itu terlihat dari beberapa mainan, boneka, dan tentu coretan-coretannya di kamar mandi. Semenjak ia bercerita kepada ayahnya bahwa dalam mimpinya sering ditemui hewan yang begitu dekat dengannya, semenjak itu pula ia menyukai hewan.

Sekitar 15 menitan dia berada di kamar mandi, tiba-tiba suara teriakan cukup kencang terdengar dari sana. Pak Irul yang masih terlelap, seketika terbangun mendengar teriakan putri kecilnya. Ia bergegas keluar kamar. Demikian juga istrinya yang berada di dapur, segera menuju kamar mandi.

Ketika dipergoki ayah dan ibunya, Syatta nangis terceguk dengan pensil warna yang masih dibawanya. Gambar belepotan terlihat di dinding kamar mandi.

Sebuah gambar berbentuk hewan ada di mana-mana. Dan, gambar penjual bakso gerobak yang di belakangnya terdapat perempuan berpakaian serba putih, berambut panjang, berwajah gelap, diikuti seekor anjing hitam di belakangnya terdapat di sela-sela gambar hewan lainnya.

Sebuah gambar yang buruk. Garis dan kemiringannya tak karuan, tapi masih bisa dipahami. Ia kemudian digendong ayahnya keluar menuju taman depan rumah.

Pagi masih cukup gelap. Suara kokok ayam bersahutan. Bunga-bunga di taman yang masih berembun seolah membantu Pak Irul untuk menghibur anaknya yang terisak. Ia menurunkan Syatta dari gendongannya. Syatta menghela sisa air mata yang mengucur sampai pipi. Ia kemudian berkata pada ayahnya.

“Yah, kenapa penjual bakso yang biasa lewat di depan rumah, tadi malam tidak ada? Apa iya dia libur? Dan, si hantu yang biasa membuntutinya dari belakang juga libur?”

Pak Irul diam dan memikirkan jawaban pertanyaan aneh anaknya. Jika ia jawab panjang lebar, pasti anaknya akan semakin banyak tanya, dan membuatnya berpikir lagi karena pertanyaan yang teramat ganjil.

“Iya. Mereka semua libur,” jawab Pak Irul singkat. Wajahnya risau seperti sedang menampik sebuah ketakutan.

*

“Wardikun, oh, Wardikun. Beri aku semangkuk baksomu. Awas kalau tidak, anjing ini akan mencabikmu. Dan suatu hari nanti, ada seseorang yang membuatmu terancam.”

Suara-suara itu menolak hilang dari ingatannya. Suara sayup di tengah guyuran hujan yang dingin.

Di dalam mimpinya barusan, ia menjumpai perempuan yang tidak asing baginya, dan barangkali bagi gerobak baksonya. Seorang perempuan dengan anjing hitam yang mengikutinya. Anjing itulah yang mencabik-cabik Wardikun dalam mimpi.

*

Wardikun mengingat kejadian yang sudah jadi cerita suram baginya. Satu malam sehabis dari jualan bakso keliling kampung, di dekat kuburan yang gelap dan mencekam, seorang perempuan amat kurus, berwajah gelap, berambut panjang, tidak memakai sandal, dan baju putih renyuk tak karuan rupa, melangkah terseok membuntuti Wardikun. Di belakang perempuan itu, seekor anjing hitam tampak kelaparan tapi masih setia berjalan mengikutinya.

Perempuan itu selalu meminta-minta bakso pada Wardikun. Tapi ia abai. Malam itu, dia hanya bisa menjual tujuh mangkuk bakso. Rugi! Dia sungguh rugi jika memberi semangkuk bakso untuknya.

Wardikun pun tetap berjalan mendorong gerobak baksonya. Dan perempuan aneh tersebut, masih ngotot berjalan membuntuti Wardikun.

Lama terus dibuntuti, Wardikun pun jengkel. Memang sudah dari awal ia jengkel. Tetapi kejengkelannya kali ini lebih besar. Di sebuah jembatan penghubung kampung yang tak begitu tinggi, pula airnya yang tak begitu deras dan dalam, Wardikun menggeret tangan perempuan tersebut, lalu mendorongnya sampai jatuh terlempar dari pagar jembatan yang pendek.

*

Keesokan hari, seorang petani menemukan jasad perempuan sudah meninggal. Di dekat jasadnya, terlihat seekor anjing duduk dengan keadaan kuyu. Tak ada yang tahu, siapa yang membunuh si perempuan itu. Petani yang menemukan mayat pertamakali dan beberapa warga yang tahu, menganggap ia bunuh diri, lompat dari atas jembatan.

*

Wardikun tak bisa menampik kesalahannya. Mimpi-mimpi semalam telah membuka hatinya untuk mengakui kekhilafannya. Pagi ini, dia akan menemui anak Pak Irul, bisakah ia memohonkan maaf kepada si perempuan berwajah gelap, bertampang seperti orang gila, dengan seekor anjing yang mengikutinya.

Di depan Pak Irul, Syatta, dan ibunya, Wardikun berbicara panjang lebar. Tentu dengan bahasa yang ia rencanakan untuk menyembunyikan kisah pilunya.

“Apa yang kamu lakukan pada ibuku? Jahat kamu!” tukas Syatta, tak lama setelah mendengar penjelasan Wardikun.

Mereka terperenjat mendengar perkataan tersebut. (*)

 

Yogya, 9 Nopember 2018