Korban Perkosaan Tak Bisa Melawan karena Tangan Diikat-Mulut Dilakban

KRAKSAAN-Melati, 15 (nama samaran) yang jadi korban perkosaan, tak bisa melawan saat “dikerjai” 5 pemuda di sebuah rumah kosong di kawasan Leces, Kabupaten Probolinggo. Sebab, saat itu tangannya diikat dan mulutnya dilakban.

Kasatreskrim Polres Probolinggo AKP Riyanto mengatakan, penangkapan terhadap empat pelaku, setelah adanya laporan dari keluarga korban. “Kejadian pemerkosaan itu pada Mei 2018. Korban baru melapor pekan kemarin, setelah positif hamil. Bahkan, hasil pemeriksaan, korban kini tengah hamil 6 bulan,” ujarnya.

Riyanto –sapaan akrabnya – menjelaskan, aksi pemerkosaan itu terjadi saat korban pulang sekolah sekitar pukul 12.00. Waktu itu, korban pulang sekolah menggunakan sepeda onthel.

Sesampai di jembatan, korban dihadang oleh pelaku Faisor menggunakan sepeda motor Yamaha Jupiter. Nah, saat itu pelaku Faisol meminta korban untuk ikut karena disuruh jemput oleh M (buron). Korban sendiri baru kenal dengan M. Awalnya korban menolak, tapi dipaksa dan langsung diajak bonceng. Sepeda onthel korban sendiri disembunyikan di tepi jembatan.

“Ternyata, korban diajak di rumah kosong oleh pelaku Faisor. Di TKP itu, sudah ada empat pelaku lain, termasuk M yang menjadi otak pelaku,” katanya. Di rumah kosong itulah, aksi biadab itu dilakukan kelima pelaku.

Diawali dengan M, setelah itu empat pelaku lainnya juga melakukan hal serupa. Yakni, Slamet, Bahul, Faisol, dan Asmari. Bahkan, pelaku M kembali melakukan tindakan biadab itu setelah Faisor atau sebelum Asmari.

“Korban tidak bisa melawan karena mulut ditutup lakban dan tangan diikat,” tutur Riyanto. Setelah diperkosa secara bergilir, korban diantar kembali ke lokasi awal dijemput. Saat itu, korban tidak berani cerita pada orang tuanya karena takut. Sehingga, kejadian itu disimpan rapat-rapat oleh korban sendiri.

Korban sendiri tidak pernah bertemu lagi dengan para pelaku setelah kejadian itu. Hingga akhirnya, korban menyadari perutnya makin membesar layaknya orang hamil. Nah, korban pun cerita pada kakak perempuannya.

“Awalnya korban tes kehamilan sendiri. Tapi, karena tidak muncul hasilnya, akhirnya periksa ke dokter kandungan dan dinyatakan hamil 6 bulan. Setelah itu baru cerita pada orang tua dan langsung melapor ke PPA,” terangnya. (mas/mie)