M. Yudistira Fahmi Hidayat, Atlet Tenis Meja Tuna Rungu Wicara yang Punya Banyak Prestasi

Sejak kecil M Yudhistira Fahmi Hidayat, 17, mengalami tuna rungu wicara. Dengan kekurangannya itu, M Yudhistira tidak pernah menjadikannya sebagai alasan untuk menyerah lantaran keadaan. Dia bahkan bisa membuktikan prestasi melalui tenis meja.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwosari

Yudis adalah panggilan akrab M. Yudistira Fahmi Hidayat. Dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan suami istri (pasutri) Samsul Arifin, 51 dan Awaliyah Pebriana, 42, asal di Dusun Krajan, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari.

BUKTIKAN DENGAN PRESTASI: M. Yudistira Fahmi Hidayat (kanan) bersama Samsul Arifin dengan sederet medali dan piagam prestasinya di olahraga tenis meja. (Rizal Fahmi Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Dia terlahir dengan kondisi tuna rungu wicara. Tapi dengan kekurangannya itu, bukan menjadi kelemahan. Bahkan kini menjadi atlet tenis meja andalan Kabupaten Pasuruan dan Jawa Timur. Karena sederet prestasi dicabor tenis meja telah berhasil diraihnya, dari tingkat local, regional hingga nasional.

Sebut saja juara II paralympic 2012 se-Jatim di Surabaya, juara I paralympic 2013 se-Jatim di Surabaya. Kemudian juara II Peparnas tingkat nasional tingkat nasional di Surakarta, Jateng, juara I Peparnas 2015 di Bandung. Lalu, meraih perak Peparnas 2016 di Bandung, Jabar. Terakhir, juara I tenis meja kategori umum pada POR Kabupaten Pasuruan Oktober 2018.

Sederet prestasi yang diraihnya ini, tampil di kelas tunggal. Meskipun itu, ia juga kerap tampil dan bermain di nomer ganda.

“Yudis kebanggaan keluarga kami, meskipun sejak lahir terlahir sebagai tuna rungu wicara. Ternyata berprestasi dalam olahraga, yakni cabor tenis meja. Kemampuannya tak kalah dengan orang normal pada umumnya,” kata Samsul Arifin, ayah Yudis saat mendampingi pelajar SMALB di Bedali, Lawang, Kabupaten Malang tersebut yang ditemui media ini dirumahnya, Minggu (11/11).

Sejak kecil, Samsul menyebutkan bahwa Yudis suka berolahraga. Diantaranya renang, sepak bola dan bulu tangkis. Namun, dilapangan sulit berkembang karena terbentur komunikasi.

Akhirnya saat usia Yudis memasuki 10 tahun, dia mulai menggeluti tenis meja. Cabang olahraga itu bertahan hingga sekarang. Dalam perjalanan karirnya, ternyata berprestasi baik tingkat daerah hingga nasional. Bahkan tahun depan, tepatnya 27 April-3 Mei, Yudis akan mewakili Indonesia tampil di ASEAN Deaf Games, yang digelar di Bangkok, Thailand.

“Bakatnya terlihat, saat beralih ke tenis meja. Ia lebih nyaman, karena tidak terkendala seperti bunyi peluit. Sebaliknya, bisa baca atau mengerti skors dengan baik,” ungkapnya.

Samsul, menyebut kesuksesan atau segudang prestasi telah diraih putra pertamanya tersebut tidak didapat secara instan. Melainkan ditempuhnya dari bawah. Selain rajin latihan, Yudis tidak pernyerah.

Kejuaraan seperti turnamen, sering diikutinya sejak dari kecil hingga sekarang. Maka tak heran, jika kemudian mampu menjawabnya dengan prestasi.

“Semangat dan keinginan untuk meraih kemenangan dalam tenis meja sangatlah kuat. Bahkan tak mudah menyerah. Meskipun disisi lain masih banyak terdapat kelemahan,” cetusnya.

Yudis memang rajin berlatih, meski harus berpindah-pindah tempat. Diantaranya di Pandaan, Sukorejo, Purwosari hingga Malang. Termasuk saat berada di rumah, ia juga tak lupa latihan. Mengingat dirumahnya terdapat fasilitas meja untuk berlatih tenis meja. Sekali berlatih, rata-rata menempuh waktu 2-3 jam lamanya dengan diselingi istirahat.

Samsul masih ingat saat Yudis dulu bermain tenis meja. Awalnya, ia dilatihnya sendiri. Samsul mengingat, Yudis punya keinginan kuat. Dia bahkan mencoba melupakan rasa lelah, demi bisa menguasai teknik.

Pun begitui saat dilatih dari PTMSI Kabupaten Pasuruan. Kemampuan serta skillnya terus meningkat.

“Melatihnya butuh kesabaran ekstra. Pelatih mengutamakan contoh gerakan pada Yudis untuk diikuti atau ditirukan. Sebaliknya bukan teori, karena terkendala komunikasi,” imbuhnya.

Pada saat latihan maupun pertandingan resmi, Yudis selalu didampingi oleh ayahnya. Nama Samsul pasti menjadi ofisial Yudis. Samsul memang tak pernah absen dari kecil hingga remaja sekarang, untuk mendampingi Yudis. Termasuk tampil di luar daerah.

Samsul sendiri selama ini menjadi guru olahraga di Madrasah Aliyah Darut Taqwa, Sengonagung, Purwosari. Sementara ibunya menjadi PNS guru di SDN Karangrejo I Purwosari.

Sang ibu jarang mendampingi, karena kalau ikut mendampingi, Yudis malu dan ogah bermain. Sehingga sang ibu pilih tak ikut mendampingi, meski Yudis berlatih maupun pertandingan resmi.

Dari tenis meja, Yudis tak hanya mendapatkan trofi. Fresh money atau reward lainnya, juga dia dapat. Nah, semuanya Yudis kumpulkan untuk ditabung dan oleh orang tuanya dimanfaatkan untuk pemenuhan Yudis di tenis meja. Diantaranya beli bet, kaos dan sepatu sport, bola, juga masih banyak lainnya.

“Kami sebagai orang tua, terus mendukung karirnya di cabor tenis meja untuk terus berprestasi. Cita-citanya ingin menjadi juara dunia tenis meja,” katanya. (fun)