Dukung Wisata Konservasi Hiu Tutul, Ini Langkah Dinas Perikanan

DRINGU – Wacana Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI membangun wisata konservasi hiu tutul di perairan Kabupaten Probolinggo, disambut positif Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo. Dukungan itu tidak lepas dari upaya meningkatkan perkonomian masyarakat.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Wahid Noor Aziz mengaku, pihaknya akan mendukung adanya destinasi wisata di daerahnya. Terutama, di bidang kelautan.

Dengan syarat, tidak merusak ekosistem laut. “Harapan kami sederhana, dapat mengembangkan ekonomi kerakyatakan. Dukungan kami disesuaikan dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dari kedinasan kami,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP RI Andi Rusandi datang ke pesisir pantai Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Ia datang untuk melihat langsung kawanan hiu tutul dan menghitung siklus kedatangannya.

Dalam kunjungannya itu, Andi Rusandi mengatakan, munculnya hiu tutul di perairan Probolinggo, diharapkan bisa dijadikan wisata konservasi dengan memanfaatkan penduduk lokal. Rupanya, wacana ini mendapat dukungan dari Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo.

Wahid mengatakan, dengan adanya wacana itu, pihaknya nanti bisa memanfaatkan para nelayan. Perahu nelayan yang sebelumnya digunakan untuk mencari ikan, juga bisa digunakan untuk mengantar tamu yang hendak melihat kawanan hiu. Sehingga, mereka bisa mendapatkan keuntungan.

“Nantinya kami juga akan lakukan pengadaan perahu nelayan. Harapannya, selain untuk menangkap ikan juga dipergunakan untuk mengantar wisatawan melihat hiu tutul. Atau, juga bisa mengantar pemancing di waktu tidak melaut,” ujarnya.

Menurutnya, kawanan hiu tutul ini biasanya hidup bermigrasi. Selama 2 tahun terakhir, dari pantauan Dinas Perikanan, keberadaan mamalia ini selalu berpindah-pindah. Mulai perairan Kecamatan Tongas, Kecamatan Gending, dan perairan Kecamatan Paiton. Karenanya, menurutnya, semua pihak harus saling menjaga.

“Mereka dijumpai di Probolinggo dari perairan Tongas, Gending, dan Paiton pada bulan November sampai dengan awal tahun, antara April sampai Mei. Setelah itu, mereka migrasi kembali,” jelasnya.

Pihaknya kembali mengingatkan kepada warga pesisir pantai, terutama para Pokmaswas, bila hiu tutul itu dilindungi. Karenanya, pihaknya berharap semua pihak menjaga kelestariannya. “Jangan sampai diburu, ditangkap, atau dibunuh. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk dilihat dengan catatan jangan sampai mengusik dan mengganggu keberadaannya,” ujarnya. (sid/rud)