Tsurayya Fathma Zahra, Santri Yapi yang Sabet Juara 2 di Ajang Speech Contest Jawa-Bali

JADI KEBANGGAAN: Dari kiri, Ustad Mukmin, kepala SMA Al Ma’hadul Islami YAPI Bangil; Tsurayya Fathma Zahra, peraih juara; dan Nila Widi Lestari, guru pembimbing Bahasa Inggris YAPI. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Tsurayya Fathma Zahra benar-benar tak menyangka bisa menjadi juara 2 di ajang speech contest di Universitas Brawijaya, Malang, pada 20 -21 Oktober lalu. Maklum, dara 16 tahun ini merasa persiapannya sangatlah kurang. Apalagi, ketika disuruh untuk membuat pidato humor.

IWAN ANDRIK, Bangil

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Tapi, Tsurayya Fathma Zahra belum juga bisa berangkat ke Malang untuk mengikuti lomba. Padahal, sesuai jadwal, lomba akan dilangsungkan pukul 07.00. Ia tak bisa menahan rasa gelisah. Hingga kemudian ia pasrah jika nantinya dianulir gara-gara telat datang ke lokasi.

Perasaannya saat itu berkecamuk. Dalam benaknya, tak mungkin Bangil-Malang bisa ditempuh hanya dengan waktu setengah jam. “Saya benar-benar panik, bercampur pasrah. Karena pasti terlambat untuk mengikuti kompetisi,” kata Tsurayya -sapaan akrabnya- saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo (2/11).

Usut punya usut, penyebab terlambatnya keberangkatan ke Malang, gara-gara sopir yang hendak mengantar ke Malang kena diare. “Pak sopir bolak-balik ke kamar mandi. Akibatnya, kami tidak bisa berangkat sesuai rencana awal,” katanya. Benar saja, ketika sampai di Universitas Brawijaya, waktu sudah menunjuk pukul 08.30. Memang terlambat dari jadwal.

Namun, ia masih beruntung. Karena ternyata acara belum dimulai. “Ternyata, ada beberapa peserta lain yang juga terlambat,” aku perempuan 16 tahun asal Bogor tersebut. Ia menambahkan, awal lomba membuatnya deg-degan. Ia harus bersaing dengan 14 peserta yang lain. Tidak hanya pelajar tingkat SMA, tetapi juga anak kuliahan.

Mereka tampak mahir-mahir berbahasa Inggris. “Nervous juga awalnya. Tapi, saya mencoba untuk tenang,” kenangnya. Lomba yang dihelat dalam rangka English Annual Student Tournament, itu diikuti tak hanya peserta dari Jawa. Karena perlombaan tersebut diikuti pula peserta dari Bali.

Ada tiga babak yang harus dilalui pelajar SMA Al Ma’hadul Islami YAPI Putri Bangil. Babak pertama adalah penyisihan. Di sini, ia harus mempresentasikan tema wajib berupa pengorbanan terbesar untuk anak cucu serta tema yang diundi. Ia mengaku, mendapatkan tema mimpi terbesar dalam hidup.

“Kami memang sudah mempersiapkan narasinya di awal. Tapi, tidak bisa saya hafal semua karena waktunya mepet. Saya ambil inti-intinya saja dan penjelasan yang lain, mengalir apa adanya,” jelasnya. Dari beberapa peserta itu, ia akhirnya lolos ke babak semifinal.

Melaju ke babak semifinal, membuatnya makin grogi. Bahkan, ia nyaris putus asa. Pasalnya, Tsurayya tak bisa menyiapkan materi dengan baik. “Tema yang saya dapat tentang empati. Saya hanya dikasih waktu satu jam. Waktu singkat itu, tak cukup sebenarnya untuk membuat teks. Makanya, saya hanya pasrah kalaupun harus gagal melangkah,” tambah dia.

Namun, siapa sangka, hasilnya justru di luar dugaan. Ia lagi-lagi dinyatakan lolos ke babak final dengan tiga peserta lainnya. Di babak inilah, ia benar-benar dibuat bingung. Karena harus membuat pidato yang lucu ala komika stand up comedy. Padahal, selama ini ia tak bisa melucu.

“Saya tidak bisa humor. Saya benar-benar bingung bagaimana untuk melucu,” ungkapnya. Meski begitu, Tsurayya tak mau menyerah karena ia sudah melangkah jauh ke final. Sebisa mungkin, ia berusaha untuk membuat juri dan penonton tertawa. Meski ia tak yakin, lawakan humor berbahasa Inggris-nya benar-benar lucu.

“Tapi, sempat saya melihat juri nyengir. Meski tak yakin guyonan saya lucu,” terangnya. Ia menceritakan kalau mendapatkan tema tentang masa depan. Dalam materi yang ia bawa, menceritakan seorang anak yang bertanya tentang cita-cita sang ayah.

Dalam guyonan berbahasa Inggris itu, sang Ayah pun menjawab kalau bercita-cita menjadi pilot. Lalu, sang anak pun balik bertanya. Kenapa kok tidak jadi pilot? Sang ayah yang mulanya hanya bercanda, membalikkan pertanyaan itu. “Apa kamu tidak melihat. Badan segede gini, masak jadi pilot? Kalau pesawatnya jatuh gimana?” tuturnya menceritakan narasinya saat di atas panggung.

Guyonan itulah, yang sempat membuat juri nyengir. Meski akhirnya, ia tak bisa menjadi juara pertama. Karena juara pertama direbut peserta lain. “Dari mana peserta juara pertama itu, saya lupa,” ulasnya. Meski begitu, ia mengaku bangga bisa merebut juara 2. Apalagi jika melihat kompetitifnya kompetisi itu.

Sementara itu, Kepala SMA Al Ma’hadul Islami YAPI Bangil Ustad Mukmin mengaku bangga dengan prestasi anak didiknya. Karena dari situlah, diharapkan bisa menjadi motivasi bagi peserta yang lainnya. (rf/fun)