Dirjen Migas Datang, Bupati Probolinggo Wadul Listrik

TONGAS – Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari memanfaatkan kedatangan Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto, untuk curhat perihal listrik di Pulau Gili. Pasalnya, warga kabupaten di pulau tersebut tidak 24 jam menikmati aliran listrik.

Padahal, di Kabupaten Probolinggo terdapat pembangkit yang menaungi Jawa-Bali. Warga Gili, hanya bisa menikmati listrik 6 jam saja. Yakni, pukul 17.00-00.00. itu pun melalui Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan bahan bakar solar. Tak hanya di Gili, sejumlah dusun dan desa di kabupaten juga belum teraliri listrik.

“Sampaikan salam saya ke Pak Menteri (Menteri ESDM Ignasius Jonan, Red) terkait masalah listrik yang ada di Pulau Gili dan desa lainnya di kabupaten,” terang Bupati Tantri.

Djoko Siswanto yang mendapat curhatan itu, berjanji akan menyampaikannya pada menteri. Hanya saja, tahun ini kementerian masih fokus memasang jaringan listrik di Indonesia bagian timur.

“Tahun depan kami berharap Indonesia bagian timur ini sudah teraliri listrik hingga 99 persen. Sehingga, nantinya kami bisa alihkan fukos pada daerah lain yang belum tergarap,” terangnya. Bahkan, Djoko berencana datang lagi ke Probolinggo guna melihat kondisi riilnya.

Sementara itu, kedatangan Dirjen Migas Rabu itu untuk memberikan bantuan paket konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke elpiji pada 494 nelayan. Penyerahan bantuan itu dilakukan Rabu (31/10) sekira pukul 10.00 di pantai Bahak, perbatasan antara Desa Curah Dringu dan Desa Dungun, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.

Selain Djoko, sejumlah pejabat juga ikut hadir dalam kunjungan itu. Di antaranya Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Ridwan Hisyam, Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mashud Hamid, serta GM Marketing Opration Region V Ibnu Qoldum. Para forkopimda juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Djoko mengungkapkan, distribusi konverter kit sudah dilakukan dua kali. Tahun sebelumnya sebanyak 345 paket. Paket itu disalurkan ke seluruh nelayan kecil atau nelayan dengan kapal berkekuatan 5 gross tonage (GT) di Kabupaten Probolinggo. Data yang dimiliki Dinas Perikanan setempat, 75 persen dari 11 ribu nelayan adalah nelayan kecil.

Adapun konverter kit yang dibagikan, satu unitnya terdiri atas mesin motor penggerak, konverter kit beserta aksesori pendukungnya, dua buah tabung elpiji 3 kg beserta isinya, dan AS panjang, baling-baling, serta aksesorinya.

Menurutnya, dengan adanya konversi BBM ke elpiji, diharapkan mampu menekan biaya operasional. “Terbukti dari hasil evaluasi, konversi ini lebih hemat 30 hingga 50 ribu per hari dibandingkan dengan menggunakan BBM,” bebernya.

Tak hanya pada nelayan, bantuan ini juga diberikan pada petani. “Ke depannya, kami masih kembangkan agar tak hanya nelayan saja, tetapi juga petani untuk menggerakan mesin traktornya. Mengingat daya yang dihasilkan tabung elpiji sama dengan bensin pada kapal kecil 5 GT. Lebih lagi emisi yang dikeluarkan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bensin,” bebernya.

Menyikapi masalah kelangkaan elpiji, menurutnya, saat ini Indonesia tidak sedang langka elpiji. Bahkan, pada tahun ini saja sudah ada 8 ribu agen elpiji baru. Dengan harapan elpiji dapat tersebar ke seluruh Indonesia.

Disinggung kemungkinan elpiji harganya makin mahal, ditampik Djoko. “Selain lebih murah, gas lebih bersih dibandingkan dengan bensin. Sehingga, emisi yang dikeluarkan lebih sedikit,” bebernya.

Ridwan Hisyam sendiri mengatakan, langkah yang diambil pemerintah sebaiknya juga ditularkan lewat daerah. Sehingga, program tersebut tak hanya mengambil dari APBN saja, melainkan juga dari APBD “Harapan kami program ini juga didukung oleh daerah dengan menggunakan APBD. Sehingga, tak hanya menggunakan ABPN,” bebernya. (rpd/rf)