Akhiri Pencarian Dua Awak Kapal Cahaya Bahari, Polair Andalkan Patroli Rutin

CARI KORBAN: Tim gabungan saat melakukan pencarian awak kapal Cahaya Bahari. Usai sepekan menyisiri laut lepas, pencarian akhirnya dihentikan mulai Senin (29/10). (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

MAYANGAN – Upaya pencarian dua awak kapal Cahaya Bahari Jaya yang belum ketemu, dihentikan mulai Senin (29/10). Penghentian itu dilakukan usai tim gabungan menyisiri laut lepas sepekan lamanya.

Penghentian pencarian itu juga udah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) SAR. Dalam SOP SAR, pencarian korban tenggelam di lautan setelah seminggu, akan dihentikan.

Hal itu disebutkan AKP Slamet Prayitno, Kasatpol Air Polres Probolinggo. Menurutnya, untuk pencarian memang dihentikan ketika sudah melebihi 7 hari pencarian.

“Untuk timgabungan sudah dihentikan. Tetapi bagi kami sendiri, kami masih akan terus melakukan pencarian terhadap dua awak kapal yang hilang itu. Hanya saja pencarian itu dengan cara patroli rutin,” terangnya.

Slamet sapaan akrab kasat menjelaskan, bukan tanpa asalan SOP itu dibuat. Sebab, menurutnya, hal itu sesuai dengan kondisi mayat saat berada di laut. Ketika jenazah berada dilaut diatas diatas dua dua hari, maka tubuh mayat akan mengambang. Namun, saat memasuki hari keenam dan seterusnya maka mayat itu akan kembali tenggelam.

“Ketika kembali tenggelam itu akan sulit mencarinya. Oleh karena itu, maka pencarian melebihi hari ketujuh itu dihentikan. Kembali lagi, tetapi kami akan tetap melakukan pencarian meski melalui patroli,” ujarnya.

Sampai sejauh ini, Polair masih belum bisa menyebutkan secara pasti kejadian yang menimpa kapal Cahaya Bahari Jaya itu. Sebab, pihak kepolisian sendiri masih belum menemukan bukti. “Untuk bukti fisik kapal belum ada. Sedangkan yang ikut dalam kapal itu meninggal semua dan dua masih belum ditemukan yaitu Marwan dan juga Wahyu. Jadi kami menyimpulkan kejadian itu masih belum bias terungkap,” ungkapnya.

Menurutnya, surat izin kapal itu sendiri masih aktif. Hal itu didapatnya saat meminta keterangan dari pada otoritas yang menangani kelayakan kapal setempat. “Informasi dari Syahbandar, surat kapal masih hidup saat kejadian. Tetapi dua hari setelah kejadian yakni perkiraan Senin (22/10) itu telah mati,” terangnya.

Sementara ini, kesimpulan yang didapat hanya sebatas kapal tenggelam. Namun, tenggelamnya karena apa, pihaknya masih mengatakan tidak mengatahui. Sehingga, hingga pencarian dihentikan, masih belum ada kepastian terhadap tragedi yang menewaskan 8 orang awak kapal dan juga nahkoda Cahaya Bahari Jaya.

“Kesimpulan sementara tenggelam. Tenggelamnya karena apa belum tahu,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kapal Cahaya bahari Jaya, milik Mattari, warga Mayangan, hilang kontak sekitar Sabtu (20/10) lalu. Kapal tersbut memuat 7 orang ABK dan satu nakhoda. Hilang kontaknya kapal tersebut diperkirakan di sekitar perairan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Selang sehari kabar itu berhembus, nelayan Pamekasan Madura menemukan mayat jenis kelamin laki laki. Setelah di cek, mayat itu adalah Rohim, 56, Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Baru sekitar dua hari kemudian ditemukan lagi mayat lainnya hingga terkumpul 6 mayat, yakni Nanang, Windi, Tomi, Iwan dan terakhir adalah Tomi. Sedangkan untuk Wahyu dan juga Marwan masih belum ditemukan. (sid/fun)