Uniknya Karnaval Sungai di Kejayan yang Mengambil Tema Peduli Satwa Lindung

KEJAYAN – Aneka satwa lindung mengapung diatas sungai Complong, Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Sejumlah satwa itu bergerak mengikuti arus sungai sepanjang ratusan meter. Namun, puluhan satwa lindung itu bukan dalam bentuk sebenarnya.

Pemandangan itu tersaji dalam karnaval diatas sungai atau Carnival on The River, Minggu (28/10). Ya, pagelaran karnaval yang dihelat tiap tahun kali ini memperagakan busana diatas air dengan tema satwa nusantara.

Puluhan rakit didesain berbentuk aneka satwa lindung. Sebanyak 42 rakit yang ada, dihiasi properti berbentuk satwa seperti harimau Sumatera, jalak Bali, merak, elang, kasuari, primata, buaya dan satwa lainnya.

Peragawan dan peragawati berdiri dengan mengenakan kostum senada dengan masing-masing rakitnya. Untuk bisa mengapung diatas air, rakit-rakit itu terbuat dari drum dan bambu. Setiap rakit digerakkan oleh sedikitnya delapan orang.

Satu per satu rakit hias itu bergiliran memasuki garis start. Kemudian diberangkatkan menyisiri sungai sepanjang 500 meter. Ratusan warga yang telah menanti sejak pagi pun bersorak sorai menyambut keberangkatan rakit hias itu. Antusiasme penonton semakin riuh tatkala pengendali rakit hias itu bermanuver dengan memutar-mutar arah rakit.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, ada sebanyak 42 rakit hias yang dilibatkan dalam karnaval itu. Dari jumlah itu, sebanyak 32 rakit merupakan peserta dari SMAN 1 Kejayan. Sisanya, merupakan peserta dari SMA/SMA di Kabupaten Pasuruan.

Inisiator Carnival on The River, Edy Santoso menguraikan, karnaval tersebut telah memasuki tahun kesembilan. Tujuan utama gelaran yang diprakarsai pelajar SMAN 1 Kejayan itu tak berubah. Yakni mengkampanyekan pelestarian sungai dan lingkungan sekitar.

KAMPANYE POSITIF: Karnaval yang digelar dalam rangka hari jadi Kabupaten Pasuruan itu, juga untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. (Foto M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Lantaran itu, seluruh bahan yang digunakan untuk rakit hias maupun busana yang diperagakan, memanfaatkan barang-barang bekas. “Sejak awal kegiatan ini digagas untuk membangun kesadaran siswa dan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai. Properti yang digunakan juga berasal dari barang daur ulang,” urai Edy Santoso.

Ia menerangkan, tema yang diusung tiap tahunnya terus berubah. Mulai dari bunga, alam, busana adat hingga ragam budaya nusantara lainnya. Tahun ini, temanya ialah satwa nusantara.

“Melalui tema yang diusung kali ini, kami ingin mengajak masyarakat turut berperan dalam melestarikan satwa-satwa yang dilindungi undang-undang,” imbuh pria yang juga Guru Seni Budaya SMAN 1 Kejayan itu.

Ivoni Betrikasari, salah satu pergawati mengaku senang bisa berpartisipasi dalam karnaval itu. “Senang, bisa turut serta melestarikan kesenian dan budaya Indonesia. Saya berharap, tahun depan tetap digelar dan lebih meriah,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan oleh peragawati lain bernama Rahmatika Putri Dewi. “Harapan saya, sungai ini bisa tetap terjaga kebersihannya. Dan juga bisa turut serta menjaga kelestarian satwa lindung sesuai dengan tema yang diangkat tahun ini,” tutur belia berparas ayu itu. (tom/fun)