Sum

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Oleh: M. Arif Budiman


“Mestinya tak usah kau kursuskan Intan menari di sanggar itu. Tak ada gunanya.”

”Biarkan saja, Bu. Toh itu kegiatan yang positif.”

“Positif apanya. Yang ada ia nanti akan apes seperti aku,” Sum lantas masuk rumah, mencoba menutup luka lama.

Rupanya peristiwa setengah abad silam, masih melekat kokoh dalam ingatan Sum. Sebuah peristiwa yang telah membawanya ke dalam trauma berkepanjangan. Kegemarannya menari saat itu seolah telah menjerumuskannya ke dalam jurang yang mahagelap.

Sum memang senang menari. Bakatnya sudah terlihat sejak kecil. Selepas lulus dari Sekolah Rakyat, ia belajar lebih tekun dan mendalami tari-tarian pada neneknya, hingga kemudian takdir mengubah Sum menjadi seorang ronggeng.

Kala itu, pagi baru saja mengembang. Seperti biasa di halaman rumah, Sum mengajarkan tari pada anak-anak kecil yang ditinggal sementara orang tuanya pergi ke huma dan pasar. Ketika sedang mengawasi anak-anak latihan, lima orang lelaki berbaju hitam dan bersepatu lars mendatangi Sum. Mereka bertanya nama serta pekerjaan Sum. Setelah mereka bercakap-cakap, kemudian orang-orang berbaju hitam itu meminta Sum untuk ikut bersama menuju sebuah pos untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sum pun turut, namun terlebih dahulu berpamitan pada anak-anak untuk jaga diri hingga orang tua mereka datang menjemput.

Mereka berangkat menggunakan sebuah mobil jip menyusuri jalan desa. Sesampainya di jalan utama, ternyata mobil mengarah tak sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang yang membawanya. Sejak saat itu Sum merasa curiga.

Sum digelandang menuju sebuah bangunan tua. Sesampainya di dalam, ternyata sudah ada beberapa perempuan berkumpul. Sebagian Sum mengenal mereka karena masih satu desa, sebagian lagi ia tak mengenalnya. Sum melihat beberapa di antara mereka merintih kesakitan dengan wajah penuh lebam.

Sum dibawa kesebuah ruangan yang cukup lebar. Dipersilakan duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki yang tak berbeda jauh dengan lelaki yang menjemputnya. Perbedaannya hanya lelaki yang baru ia temui itu memiliki kumis tebal. Anak buah mereka memanggilnya komandan.

“Apa benar kamu bernama Sumirah?” tanya lelaki berkumis.

“Ya, saya Sumirah.”

“Apa benar kamu berasal dari Desa Karangjati?”

“Benar.”

“Apa benar kamu ronggeng yang mengajarkan anak-anak menari?”

“Ya, benar.”

Lelaki berkumis mengangguk-angguk.

“Apa hubunganmu dengan kelompok G?”

“Kelompok G?” Sum berpikir sejenak, “Kelompok G mana ya, Pak? Saya tak pernah ikut kelompok apa pun.”

“Tak usah bohong!”

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Sum.

“Saya tak bohong, Pak!”

Sum gemetar. Perlahan butiran air mata meleleh di pipinya. Kemudian rentetan pertanyaan bertubi-tubi datang memburunya. Namun Sum tetap pada jawaban yang sama. Lelaki berkumis itu tak mudah percaya. Ia pukulkan sebilah rotan di meja interogasi.

“Kau tak usah menyangkal! Kau dan beberapa temanmu telah membunuh pimpinan kami kan! Kau dan beberapa temanmu telah menyuguhkan bergelas-gelas arak, kemudian menarikan tarian setan itu hingga pimpinan kami terpedaya. Setelah mereka terpedaya, kau bunuh ia dengan cara-cara keji. Kau potong telinga dan kelaminnya. Itu benar kan? Hah!”

“Tidak! Saya benar-benar tak paham apa yang Bapak ucapkan. Ya, saya memang tahu dengan kelompok itu, tapi hanya sebatas lewat radio dan bendera-bendera di pinggir jalan. Tak lebih!”

Plak! Rotan kembali mendarat di meja interogasi.

“Kau dusta!” laki-laki itu menatap Sum setajam belati, “Kau juga pernah ikut latihan baris-berbaris di lapangan S kan?!”

“Tidak! Saya tak pernah ikut kegiatan apa pun! Kegiatanku sehari-hari hanya mengajarkan anak-anak menari. Kalau pun meronggeng, jika ada panggilan saja.”

“Ya, aku tahu,” lelaki berkumis mengelilingi Sum yang tertunduk lesu menahan perih di pipi. “Kau juga ajarkan mereka tentang lagu itu kan? Setiap kau ajari mereka menari, kau selalu putarkan lagu jahanam itu kan? Lagu perjuangan kalian kan? Jawab!”

“Lagu?” Sum berpikir sejenak, “Ya, saya memang putarkan lagu itu berulang kali karena anak-anak memintanya. Tapi bukankah lagu itu sedang tenar saat ini. Dan semua orang pun tahu.”

“Aku tak percaya. Sekarang berdirilah!” pinta lelaki berkumis.

Sum beranjak dari tempat duduknya.

“Sekarang kau ngibing. Menarilah apa yang biasanya kau ajarkan pada anak-anak itu.”

Sum terdiam.

“Cepat! Kau tuli ya!”

Dengan iringan air mata, Sum pun menurut. Ia menarikan tarian yang biasa ia ajarkan pada anak-anak. Sementara Sum menari, lelaki berkumis dan beberapa anak buahnya menonton dengan tatapan mesum. Mata mereka seakan melucuti tiap helai kain pada tubuh Sum dan menggerayangi tiap lekuk tubuhnya.

“Berhenti!” teriak lelaki berkumis.

Sum menghentikan tariannya. Lelaki berkumis mendekat dan menyodorkan wajahnya ke wajah Sum.

“Jelas sudah sekarang. Kaulah orangnya. Pengkhianat!” ucap lelaki berkumis, lantas pergi.

Setelah diinterogasi, Sum kemudian digelandang dan dimasukkan ke sebuah kamar lembap tanpa dipan dan kasur. Hanya sebuah tikar usang yang terhampar. Sum kini sadar, ia telah ditangkap atas tuduhan sebagai dalang matinya pemimpin mereka. Ia ditangkap lantaran menjadi seorang ronggeng yang kerap memutar lagu yang dianggap mereka sebagai lagu pemberontakan.

Sum termenung. Ia baringkan tubuhnya di atas tikar untuk melemaskan tiap sendi yang kaku. Tatapan matanya menghunus langit-langit yang hampir ambruk. Bayangannya mampir ke rumah. Menampilkan wajah ibu dan bapak yang penuh dengan kecemasan. Hingga kemudian kelopak matanya benar-benar letih untuk terjaga.

Keesokan harinya, Sum kembali diinterogasi. Namun puluhan bahkan ratusan pertanyaan yang dilontarkan orang-orang berbaju hitam itu rasanya sia-sia belaka. Tak satu pun pertanyaan yang mereka lontarkan mendapatkan jawaban yang diinginkan. Dan itulah faktanya. Dari rentetan pertanyaan orang-orang berbaju hitam itu memang tak satu pun pernah Sum lakukan.

Kembali Sum mendekam dalam ruang dingin itu. Beberapa luka lebam kembali melekat diwajahnya. Rasa perih dan ngilu menjalar di sekujur tubuhnya. Sementara lapar dan haus kian menggerogoti perut dan kerongkongannya secara perlahan, sebab hampir dua hari tak tersentuh makanan dan minuman. Hanya air liur yang mulai mengering sebagai pengobat dahaga.

Beberapa hari kemudian, Sum dan perempuan yang lain diangkut menuju sebuah rumah besar. Di sana ia kembali diinterogasi oleh orang-orang yang tak jauh berbeda. Dijejali berbagai pertanyaan yang tak Sum pahami. Tamparan serta pukulan berulang kali ia terima untuk sebuah pengakuan yang tak pernah ia lakukan.

Suatu malam seusai menginterogasi, kepala penjaga mengabarkan bahwa Sum dan beberapa perempuan akan dipindahkan ke rumah besar yang lain. Ia beralasan rumah yang ditempati sekarang sudah terlalu penuh. Sum dan beberapa temannya akan ditempatkan di sebuah rumah besar di luar kota. Mereka akan berangkat dua hari lagi.

***

Hari penjemputan telah tiba. Malam itu Sum dan beberapa perempuan yang senasib dengannya akan dipindahkan. Sum menatap pedih keluar jendela. Dilihatnya rembulan berwarna tak seperti biasanya. Dalam tatapan Sum, rembulan berwarna merah darah. Lamunannya kembali membayang pada ibu dan bapaknya. Tak berapa lama kepala penjaga datang dan meminta para perempuan untuk bersiap-siap. Mereka digelandang menuju sebuah truk. Akan tetapi lain halnya dengan Sum. Ia dibawa dua orang berbadan tegap dan dimasukkan ke sebuah mobil jip.

Truk dan jip jalan beriringan meninggalkan rumah besar. Namun di sebuah perempatan, jip berbelok ke kanan dan mengarah ketempat lain.

“Aku mau dibawa kemana?” tanya Sum penasaran.

“Lebih baik kau diam saja,” jawab salah seorang berbadan tegap.

Sejak saat itu Sum menghuni rumah besar yang lain. Ia dijadikan gundik oleh komandan berkumis tebal selama beberapa tahun. Namun di atas segala penderitaan batin Sum di rumah besar, ia merasa beruntung. Sebab seminggu setelah peristiwa malam itu Sum mendapat kabar bahwa perempuan-perempuan lain yang menaiki truk telah bernasib tragis. Mereka dibawa ke tepi hutan jati. Di sanalah akhir dari kisah perjalanan hidup mereka. Napas mereka direnggut paksa oleh pelor senapan regu tembak.

Kudus, September 2013-2018