Santri Dalwa Mendominasi dalam Pekan Arabi 2018 di UM

BERPRESTASI: Dari kiri penanggung jawab prestasi santri Ponpes Dalwa Raci, Ustad M. Junaidi, Reja Dwi Alfian, M. Saiful rizal (sebagai ofisial atau pendamping), dan Fikri Haikal Nurrouhillah. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Santri-santri Ponpes Darullughoh Wadda’wah (Dalwa), Desa Raci, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, membawa pulang empat piala dalam Pekan Arabi 2018 yang digelar di Universitas Negeri Malang. Empat piala itu menahbiskan Dalwa sebagai juara umum.

IWAN ANDRIK, Bangil

Muhammad Fikri Haikal Nurrouhillah, 18, ingat betul detik-detik sebelum dirinya mengikuti lomba Muhadharah Ilmiyah. Waktu terasa begitu cepat. Ia dibuat gelisah lantaran tak bisa segera sampai ke lokasi tujuan. Lomba sejatinya digelar sekitar pukul 07.30. Sementara ia masih berada di jalan. Macet, menjadi kendala baginya datang tepat waktu.

Saat tiba di lokasi lomba, acara sudah dimulai. “Saya benar-benar panik karena waktu itu saya datang terlambat sekitar lima menit saat babak penyisihan dimulai,” kisah Fikri -sapaan akrabnya-. Fikri mengaku makin inferior, melihat penampilan para kompetitornya.

Meski begitu, Fikri dan dua rekannya yakni Reja Dwi Alfian, 18 dan Jauharu Abdillah Addayan, berusaha untuk tetap tenang. Mereka bertiga berupaya untuk menyelesaikan setiap babak. “Dalam hati saya, sempat ada rasa down melihat peserta lain. Mereka bagus-bagus,” sambungnya.

Perasaan tak jauh berbeda diungkapkan Reja Dwi Alfian. Ia merasa grogi melihat penampilan peserta lainnya. Menurut Reja, debat berbahasa Arab di UM itu diikuti sebanyak 16 tim. Mereka berasal dari lembaga-lembaga MA sederajat di seluruh Indonesia. Penampilan masing-masing tim yang bagus itulah, yang sempat membuatnya merasa gugup.

Dalam debat tersebut, setidaknya ada 22 tema pilihan yang berkaitan dengan isu-isu terkini. Sistemnya acak dan setiap tim bisa mendapatkan pro atau kontra. Ada beberapa babak dalam lomba itu. Dimulai babak penyisihan, yang kemudian dilanjutkan babak perempat final, semi final, hingga final.

Di babak awal, mereka bertemu dengan MA Annur Bululawang-Malang. Tema yang didapatkan berupa pelarangan media sosial bagi remaja di bawah 17 tahun. Ketika itu, tim Reja mendapatkan bagian kontra.

“Padahal sebenarnya, kami mendukung. Kami ingin mendapatkan yang pro. Tapi, karena dapatnya kontra, mau tidak mau harus siap,” aku kelahiran 17 November 2000 tersebut.

Dalam debat tersebut, berbagai argumen dilontarkan ia dan rekan-rekan setim. Beberapa pernyataan dari pihak lawan, dikejar. Sampai pada pernyataan dari timnya, kalau penggunaan media sosial di bawah 17 tersebut tak masalah, asalkan dengan pemantauan.

Debat di babak penyisihan itu, membuat timnya mendapat nilai cukup baik. Sehingga, layak untuk melanjutkan ke babak berikutnya. Mereka masuk ke perempat final dan bertemu kembali dengan MA Annur Bululawang yang ternyata juga lolos.

Di babak ini, mereka mendapatkan tema “Membatasi Imigran Itu Sangat Efektif Mengatasi Keramaian”. Reja mengaku, tema itu benar-benar tak diinginkannya. “Karena sebenarnya, kami tidak ingin mendapatkan judul yang itu. Kami sebenarnya mau judul yang lain,” tandas dia.

Kali ini, pihaknya mendapatkan bagian pro. Artinya, ia mendukung kalau membatasi imigran bisa efektif mengatasi keramaian. Pihaknya diberi waktu 15 menit untuk persiapan. Waktu yang diberikan itulah, dimanfaatkan dengan baik dan mempelajari tema tersebut.

Saat sesi debat berlangsung, timnya diuntungkan dengan pernyataan dari pihak lawan. Di mana, mereka menyebutkan kalau penyebab keramaian itu lantaran pesatnya penduduk asli.

“Pernyataan itulah yang kami gunaan untuk menyerang lawan. Karena pernyataan itu, mendukung argumen kami. Karena jika penduduk asli banyak, maka perlu adanya pembatasan imigran untuk mencegah keramaian dalam suatu daerah,” beber remaja asal Serang, Banten, tersebut.

Berkat itu, timnya lolos ke babak selanjutnya. Mereka bertemu dengan tim Darullughoh Walkaromah Probolinggo di babak semi final. Dalam babak itu, mereka mendapatkan tema “Majelis Meyakini Bank Syariah Tidak Sesuai dengan Syariat Islam”.

Di situlah hal yang dianggapnya luar biasa. Karena ia mendapat bagian yang paling ditakutkan yakni kontra. Padahal, ia menginginkan mendapatkan bagian pro dengan tema itu. Mengingat, dari sisi pandangannya, tidak semua bank syariah di wilayah Indonesia menerapkan sesuai syariat Islam.

Karena itulah, menurut Reja, pihaknya tak hanya menggunakan pendekatan dalam penerapan bank syariah di Indonesia saja. Tetapi, juga mengambil sampel di luar negeri, seperti Qatar ataupun Yaman serta negara luar lainnya.

“MUI kan sudah mengeluarkan fatwa. Kalau bank syariah sesuai syariat Islam. Masak kita meragukan keilmuan MUI yang jauh lebih tinggi dari kita. Itulah yang kami gunakan untuk menyerang lawan, meski sebenarnya kami inginnya pro,” ungkap dia.

Rupanya, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan cukup meyakinkan tim juri untuk kemudian meloloskan timnya. Hingga akhirnya, mereka pun masuk final. Di final, mereka bertemu dengan Annuqoyah Madura.

Mereka kedapatan tema “Majelis Meyakini Hasil Tes Presiden Harus Dibeberkan ke Publik”. Kebetulan, Reja dan kawan-kawan mendapatkan bagian pro. Meski tampak mudah, justru pihaknya nyaris kalah. Masalahnya, pembuatan latar belakang masalah yang mepet. Hanya ada waktu lima menit untuk menyelesaikan latar belakang dan pandangan tentang tema tersebut.

“Waktu yang diberikan sangat mepet. Pasalnya, kami baru dapat empat baris. Tentu itu sangat tidak cukup bagi kami ketika presentasi,” tambah dia. Untungnya, mereka mampu memaparkan latar belakang. Meski hanya empat baris, bisa membuat kalimat yang efektif dan efisien. Sehingga, cukup untuk memberikan kejelasan atas argumen-argumen yang mendukung tema.

“Rakyat kan harus tahu kesehatan presiden. Jadi, harus diumumkan ke publik,” ulasnya. Lomba itu pun akhirnya berakhir. Hingga tanggal 18 September kemudian, hasil lomba diumumkan. Hasilnya, mereka memenangi lomba dan layak mendapat predikat juara pertama. “Alhamdulillah, kami menang. Ini merupakan kado bagi pimpinan pondok, Habib Zain yang lahir tanggal 14 September,” tambahnya.

Penanggung Jawab Prestasi Santri Ponpes Dalwa Raci, Kecamatan Bangil, Ustad M. Junaidi mengaku, prestasi ini sangat membanggakan. Ia menegaskan, kalau santri Dalwa tidak hanya meraih juara pertama di lomba debat bahasa Arab. Karena ada tiga lomba lainnya yang berhasil menyabet juara.

Dua di antaranya bahkan juara pertama. Yakni, lomba Qiroatus Syi’ir atau lomba baca puisi dan lomba Qiroatul Akhbar atau baca berita. Sementara satu lomba lainnya, diraih dengan juara tiga berupa, lomba kaligrafi. “Lomba baca puisi ditorehkan oleh Hasan Alhabsyi, sementara lomba baca berita diraih oleh Alfi. Dan, untuk lomba kaligrafi disumbang oleh Fatkhur Rohman,” urainya. (rf/mie)