Regulasi Anyar BPJS: Rujukan Berjenjang, Bikin Bingung Pasien

PROBOLINGGO – Kebijakan baru BPJS Kesehatan terkait rujukan berjenjang, dinilai menyulitkan pasien. Pasalnya, warga yang selama ini sudah terbiasa ke rumah sakit tipe B, kini harus ke tipe D dulu.

Terlebih bagi pasien yang rumahnya jauh dengan rumah sakit tipe D. Suwartini, 55, misalnya. Perempuan asal Kelurahan/ Kecamatan Mayangan itu dibuat bingung dengan sistem yang baru diterapkan ini.

Selama ini, ia selalu membawa ayahnya yang sakit stroke dan diabetes ke poli RSUD dr Mohamad Saleh. Begitu ada aturan baru itu, ia mengeluh.

Lah, saya tidak tahu (RS) tipe D itu dimana? Ada yang bilang kalau di RSUD Tongas atau RS Wonolangan. Kan malah jauh dari rumah. Apalagi kalau sampai rawat inap, kalau terlalu jauh dari rumah kasihan yang jaga. Yang jaga itu lebih capek daripada yang sakit,” katanya saat ditemui di RSUD Mohamad Saleh, Kamis (18/10) lalu.

Hal senada juga diungkapkan Sutiah, 50, warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan. Ia mengaku heran dengan kebijakan tersebut.

Menurutnya, pembagian kelas rumah sakit justru membingungkan pasien. “Mau sampai kapan seperti ini?” katanya serius. “Sampai saat ini sosialisasi pada pasien tidak ada yang begitu, makanya saya heran,” katanya.

Sementara itu, Bagian Komunikasi Publik BPJS Agung Kurniawan mengatakan, kebijakan yang masih dalam tahap uji coba itu merupakan program BPJS pusat. “Acuannya di Permenkes, namun nomor berapa saya tidak ingat. Uji coba ini sudah karena yang menentukan pusat,” terangnya.

Agung –sapaan akrabnya– mengklaim, rujukan berjenjang ini memudahkan masyarakat. “Misal, yang awalnya membawa surat rujukan dari puskesmas, kini tak perlu lagi. Cukup ke puskesmas menyerahkan kartu BPJS dan dari puskesmas nantinya dicarikan rujukan melalui aplikasi yang sesuai dengan penyakitnya,” jelasnya.

Di dalam aplikasi itu sudah terdata, poli yang ada di tiap rumah sakit, dokter, termasuk jam praktiknya. “Jika memang di tipe D tidak ada, maka akan langsung disarankan ke tipe B, semisal penyakit jantung,” katanya. Namun yang pasti, setiap penanganan wajib melalui fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama.

Berbeda jika sifatnya emergency, maka pasien dibolehkan berobat ke rumah sakit manapun. “Jika sudah emergency, maka tahapan harus ke faskes pertama itu gugur. Semisal korban patah kaki, tangan, dan lainnya ataupun kejang-kejang akibat jantung,” bebernya.

Agung sendiri mengakui, banyak keluhan yang masuk pada pihaknya terkait lokasi rumah sakit tipe D yang jauh dari rumah pasien. “Harus tetap ke tipe D dulu, walaupun jaraknya lebih jauh. Ini, yang masih menjadi kendala memang,” akunya. (rpd/rf)