Persoalan Teman Lama

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Oleh: Ken Hanggara


JARANG-jarang Mudakir mampir ke rumahku seperti sore itu. Ia duduk di kursi teras dan menyapaku begitu mesin motor kumatikan. Aku turun dari motor dan langsung saja menyambut jabat tangannya.

Kami tetap duduk di kursi teras, karena Mudakir meminta demikian. Sejak tiba ke rumahku sejam yang lalu, istriku memintanya duduk di ruang tamu, tetapi tamu kami ini bersikeras duduk di teras rumah.

Karena tadi menolak suguhan teh atau kopi sebelum aku tiba di rumah, istri pun ke dapur untuk membuatkan minum. Setelah minuman disuguhkan, aku bertanya apa yang membuat Mudakir berubah?

Teman lamaku itu menunduk malu, karena selama ini kami jarang bertemu meski rumah kami tidak terlalu jauh. Aku sering mampir ke tempat Mudakir, sekadar ingin ngobrol atau mengajaknya mancing ketika libur, tetapi dia sering kali tidak sempat atau tidak ada di rumah.

Atas pertanyaanku, Mudakir mungkin sungkan. Keberadaan kami sebagai teman lama sama sekali tidak terlihat begitu, karena segala kesibukan dan alasan-alasan lain yang membuatnya tak pernah dapat menemuiku. Ia pun dengan jujur mengakui mampir ke rumahku sore ini demi sebuah keperluan.

“Aku tahu aku bukan teman yang baik,” katanya, “tetapi aku tidak tahu lagi harus ke mana.”

Kukatakan pada Mudakir bahwa keadaan di antara kami selama dua tahun terakhir ini tidaklah jadi soal. Aku memaklumi kesibukannya sebagai pegawai suatu perusahaan asuransi, sehingga kami bahkan tak lagi dapat nongkrong seperti dulu. Lagi pula kami sudah bukan anak muda lagi. Kami sudah berkeluarga dan kegiatan nongkrong memang sudah sepatutnya agak dikurangi demi keluarga masing-masing.

Mudakir hanya menunduk malu dan tampaknya gesture ini sulit berubah, karena ia belum benar-benar menyampaikan masalahnya. Tetapi, bahkan setelah dia bercerita soal pengurangan pegawai di kantornya yang bangkrut akibat tersandung persoalan hukum, ia tetap saja menunduk. Rasa-rasanya, aku dapat melihat air mata Mudakir yang coba ia sembunyikan, tetapi aku berpura-pura untuk tidak melihatnya menangis. Kedatangannya kemari sore ini berkait masa depannya. Istri Mudakir sedang hamil, dan ia tidak mampu mengaku pada sang istri kalau sudah dua hari ini ia menganggur.

“Kiranya ada sesuatu yang dapat kukerjakan, Bung,” katanya pelan.

Aku tidak dapat menjawab apa-apa selain memberinya semangat dan motivasi agar dia tetap fokus. Di luar sana ada banyak peluang kerjaan untuk orang yang usianya tak setua Mudakir. Tetapi, agaknya teman lamaku ini bingung, karena dia bukannya datang untuk sekadar meminta saran, tetapi juga peluang-peluang.

Aku mafhum. Persoalan Mudakir bukan hanya mengganggur, tapi juga memiliki kemampuan serba terbatas. Pekerjaannya di perusahaan asuransi tidaklah berhubungan dengan hal-hal yang menyita pikiran. Aku tidak bertanya lebih lanjut tentang deskripsi pekerjaan tersebut sebelumnya, namun tanpa dia bercerita lebih detail pun, aku dapat menebak-nebak bahwa perkerjaan Mudakir yang sebelumnya tak setinggi yang selama ini dia ceritakan.

Yang kutahu sebelum ini, Mudakir kerja di kantor asuransi dengan gaji yang tinggi dan kedudukan berpengaruh. Itu cerita kudengar di mana-mana dan aku sendiri tidak berpikiran apa-apa. Aku hanya percaya teman lamaku yang terkenal suka membolos dan tidak disiplin ini sudah pasti berubah drastis sejak menikah. Saat kuliah, mungkin ia masih tidak serius pada hidupnya sampai-sampai drop out. Tetapi, kupikir lain persoalan setelah menikah.

Rupanya kisah kesuksesan di kantornya bualan belaka. Mudakir mengakui itu, dan kini butuh bantuan. Sebelum datang padaku, dia ditolak beberapa teman semasa kuliah dan sekolah, karena ucapan-ucapannya yang selalu meninggikan diri. Karena tidak tahu harus ke mana lagi, dia pun datang kepadaku.

Aku, yang tidak pernah berpikiran buruk kepada Mudakir, meski kini tahu betapa semua yang dia banggakan adalah palsu, tetap menganggapnya teman lamaku. Kubilang padanya, “Kucoba semampuku.”

Sejak itu, Mudakir sering mampir. Butuh seminggu sampai dia dapat kerjaan di kantor periklanan tempatku kerja. Ternyata usaha membantu Mudakir tidak sesederhana yang kupikir. Dia diberhentikan perusahaan asuransi sebagai petugas kebersihan adalah karena kedapatan mencuri uang perusahaan. Jadi, soal perusahaannya yang bangkrut itu tidak benar. Ia tidak diseret ke kantor polisi, tetapi dapat sangsi pemecatan dan riwayat kelakuan buruknya tercatat di asosiasi pekerja hingga membuat pria itu sulit mendapat pekerjaan baru.

Saat mengetahui perihal ini, aku hanya dapat berkata, “Sebaiknya kau katakan apa pun yang perlu kau katakan.”

Mudakir meminta maaf dan bersumpah, selain yang sudah kuketahui, tak ada lagi rahasia yang dia sembunyikan.

Atasanku memiliki perasaan dan pikiran positif bahwa Mudakir mungkin saja bisa berubah, sehingga akhirnya temanku pun mendapat pekerjaan di tempat kami. Mudakir tidak lagi memberi jarak padaku seperti dulu begitu bekerja di tempatku. Ia pun juga tidak lagi bersikap tinggi hati sebagaimana yang sudah-sudah. Ketika suatu sore mata Mudakir tampak memerah, kuajak dia pergi ke kantin dan bertanya ada apa lagi?

Mudakir enggan menjawab, tetapi setelah kudesak, dia pun bercerita. Istrinya yang tidak lama lagi melahirkan, memintanya cerai. Aku tidak tahu ada masalah apa lagi di hidup temanku ini.

Mudakir tidak menjelaskan secara mendetail, dan hanya berkata bahwa dialah yang salah dan layak mendapatkan semua ini. Selama dua hari berikutnya, Mudakir tak pergi kerja, dan sepulang kerja di hari ketiga aku menemukannya duduk di warung dekat terminal dengan ekspresi orang kebingungan.

Pada saat itu Mudakir mengaku, ia bermain mata dengan penyanyi dangdut amatir di kafe remang-remang, dekat rumah teman bekerjanya di tempat lama. Ia keterusan dan berselingkuh dengan penyanyi amatiran itu. Begitu istrinya tahu, tentu saja, perempuan itu meminta hubungan mereka diakhiri.

Setelah mengakui itu, Mudakir lagi-lagi menunduk sebagaimana dulu ketika kami bertemu di teras rumahku pada sore hari. Hanya saja, kali ini Mudakir tidak memintaku saran atau bantuan. Ia hanya meminta padaku agar terus mengingatkannya jika saja dia keluar dari jalan yang lurus.

“Aku tidak tahu, Kir,” kataku dengan putus asa. “Kita sama-sama telah dewasa dan kupikir kau sendiri pasti tahu segala yang kau perbuat pasti ada konsekuensinya.”

Mendengar itu, Mudakir hanya diam seribu bahasa. Tentu saja dia menangis, tetapi tidak lagi menyembunyikan air matanya seperti dulu. (*)

 

Gempol, 2014-2018