Geram karena Tulisan Dijiplak

MAYANGAN – Tole, 51, warga Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, mendadak muntab. Ia berang setelah melihat tulisannya di portal berita online dijiplak oleh Brudul, 50. Tole semakin meradang, ternyata Brudul menjadikan berita itu sebagai advertorial. Padahal, ia tak pernah mendapatkan advertorial dari tulisannya sendiri.

Bagai besi yang dipanaskan di atas tungku, wajah Tole merah padam. Ia yakin bahwa tulisan yang dijadikan advertorial oleh Brudul itu adalah hasil karyanya. “Ini tidak bisa dibiarkan. Kok ada penulis asal comot seperti itu. Apalagi tidak izin memakai tulisan saya untuk kepentingannya sendiri,” katanya.

Tentu saja, hal itu memunculkan kegaduhan di antara sesama penulis. Tole langsung meminta pertanggungjawaban Brudul. Hanya saja, pertanggungjawaban yang diminta Tole tak mendapat respons positif. Semula, Brudul masih menjawab pertanyaan-pertanyaan Tole seputar tulisan itu di WhatsApp Grup. Hanya saja, jawaban Brudul tidak memuaskan.

Brudul beralasan tulisan yang dijadikannya adverotial adalah tulisan anak buahnya. Hanya saja, saat ditanya siapa anak buahnya, Brudul bungkam. Tole juga tidak percaya dengan penjelasan Brudul. Pasalnya, saat melakukan penggalian data, Brudul maupun anak buahnya tak ada di lokasi.

“Dia dan anak buahnya tidak datang, kok malah ada beritanya. Apalagi beritanya sama persis seperti berita yang saya tulis. Tak oleh pesse pole (Apalagi tidak dapat uang, Red),” umpat Tole. Karena tak kunjung mendapat respons positif, Tole lantas menemui instansi yang menerima tulisan itu untuk dijadikan advertorial.

Saat mendatangi instansi yang memberi advertorial pada Brudul, Tole hanya ditemui oleh staf. Karena tak berhasil menemui pejabat di instansi tersebut, Tole melampiaskan kemarahannya serta ngedumel pada staf tersebut. “Ini plagiat, kok bisa jadi iklan. Saya saja yang nulis tak pernah dapat iklan,” kata Tole tak terima.

Tak cukup sampai di situ, usai mendatangi instansi tersebut, Tole kemudian mendatangi instansi lainnya. Di sana, Tole kembali menumpahkan unek-uneknya. Melihat Tole marah-marah, Mithul, 35, staf di instansi tersebut yang memiliki alat tensi darah, langsung mengecek tensi darah Tole.

Meski dalam kondisi marah, Tole menerima tawaran itu. Hasilnya, darah Tole berada di angka 180/120. Karena tak percaya tensi darahnya begitu tinggi, Tole kembali minta dites. Dan hasilnya tetap.

Khawatir ambruk, Tole berusaha menenangkan diri. Namun, kontemplasi yang dilakukan Tole hanya bertahan sekitar 1 jam saja. Setelah itu, dia kembali marah-marah. “Saya hanya minta penjelasan dari dia. Jangan kabur, dia harus bertanggung jawab,” katanya dengan nada tinggi. (rpd/sid)