Musim Kemarau Lebih Banyak Sedot Anggaran Kedaruratan

BANGIL – Sering dilanda bencana membuat anggaran kedaruratan yang digunakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, cukup besar. Sampai bulan ini, dana yang digunakan untuk menangani bencana telah mencapai Rp 1 miliar.

Penggunaan dana itu lebih banyak saat kemarau. Sejauh ini, anggaran yang digunakan selama kemarau mencapai Rp 600 juta. Sedangkan, ketika dilanda bencana selama musim hujan pada awal 2018, menelan anggaran Rp 400 juta.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana mengatakan, dana kedaruratan itu digunakan untuk kegiatan yang sifatnya langsung kepada masyarakat saat terjadi bencana. Seperti, untuk pembuatan dapur umum, kegiatan pembersihan, pembangunan sandbags, sampai pengiriman air bersih.

“Dana yang digunakan memang untuk kegiatan darurat dan langsung ke penanganan. Paling banyak untuk membuat dapur umum dan kemarau ini untuk pengiriman air bersih,” ujarnya.

Menurutnya, selama musim hujan di awal tahun ini didominasi bencana banjir. Bencana ini rutin terjadi di 11 kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Disusul bencana longsor dan angin kencang. Dari bencana saat musim hujan itu menyedot anggaran kedaruratan sekitar Rp 400 juta.

Sedangkan selama kemarau ini pengiriman air bersih sudah dilakukan sejak Juni lalu. Sampai awal bulan ini pengiriman air rutin dilakukan ke 21 desa di 8 kecamatan. Karena kemarau lebih panjang dari tahun lalu, pengiriman air juga lebih tinggi. Namun, masalah ini juga dibantu oleh Dinas Sosial, Dinas Perumahan, PDAM, PMI, dan sejumlah perusahaan.

“Untuk musim kemarau ini penggunaan dana kebencanaan sudah mencapai Rp 600 juta. Dana itu paling banyak untuk pengiriman air ke daerah kesulitan air bersih,” ujar Bakti.

Selama dua musim itu, sejauh ini dana kedaruratan yang sudah digunakan mencapai Rp 1 miliar. Jumlah ini diprediksi akan bertambah karena musim kemarau masih berlanjut. Memasuki hujan akhir tahun ini, Kabupaten Pasuruan juga menjadi daerah rawan banjir dan longsor.

Bakti mengatakan, tahun ini pihaknya mendapatkan anggaran dana kedaruratan Rp 170 juta. Anggaran itu untuk belanja langsung jika ada bencana. Sedangkan, jika ada kebutuhan mendesak, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak lain. Seperti rekanan dan dinas terkait. Setelah itu, jika perlu dana tambahan baru diklaimkan ke Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Pasuruan. (eka/rud/mie)