Makam KH Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari Dongkrak Ekonomi Warga

LENGANG: Suasana gang di Kauman, Bangil yang nampak sepi. Saat ada haul KH Muhammad Syarwani Abdan Albanjari, jalan setempat ramai dijubeli pedagang dan peziarah. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Keberadaan makam KH. Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari atau lebih dikenal Mbah Syarwani benar-benar mendongkrak ekonomi warga. Karena banyak pendatang dari luar Kabupaten Pasuruan, berbondong-bondong ziarah, ketika haul tiba. Hal inipun, membuat warga sekitar ketiban berkah.

IWAN ANDRIK, Bangil

Jalan kampung Kauman memang tengah sepi. Kondisi itu akan berubah, ketika memasuki penyelenggaraan haul Mbah Syarwani. Ribuan pendatang akan menggruduk kampung setempat.

Jalan yang semula lengang, akan berubah dipenuhi warga. Tentu bukan hanya dari Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga dari luar kota. Terutama Banjarmasin, Kalimantan.

Lurah Kauman, Kecamatan Bangil, Matsaid menguraikan, kondisi itu hampir berlangsung setiap tahunnya. Ketika masa haul tiba, luberan manusia menghiasi Kauman. Jalanan akan sulit dilewati, lantaran saking banyaknya pengunjung yang datang.

“Mereka datang dari berbagai daerah. Terutama Kalimantan,” ungkap Matsaid saat ditemui di kantornya.

Ia menambahkan, hal tersebut jelas memberi keuntungan bagi warga. Karena dagangan mereka bisa laris manis diburu pembeli. Tak heran jika Kauman ketika haul tiba, dijubeli pula oleh pedagang. Para pedagang bisa memasarkan pakaian, makanan dan berbagai oleh-oleh lainnya untuk pengunjung. Bahkan, mereka juga bisa menyewakan rumahnya dengan tarif jutaan rupiah.

Mulai dari pedagang pakaian, makanan dan sejumlah oleh-oleh lainnya. Pedagangnya pun, tidak hanya semata-mata warga Kauman. Karena bisa juga, datang dari luar Kauman yang mencoba peruntungannya.

“Karena banyaknya kunjungan, tentu menarik minat pedagang untuk berjualan. Menariknya, bukan hanya warga kami, tetapi juga dari desa atau kelurahan lain yang memperdagangkan barangnya,” tambah dia.

Ternyata bukan hanya soal dagangan yang diserbu pengunjung. Mereka juga menyerbu penginapan. Khususnya, tempat-tempat yang berdekatan dengan makam.

Hal ini juga menjadi keuntungan tersendiri bagi warga. Tak heran, warga Kauman menyediakan rumahnya untuk disewakan. Mereka memilih ngungsi ke kerabat untuk sementara. Sementara rumahnya dihuni orang luar daerah.

Tingginya permintaan sewa ruangan itu, bukan tanpa sebab. Membludaknya pengunjung menjadi alasan. Bayangkan, ada sektiar 7 ribu orang yang datang, ke Kauman ketika haul tiba.

“Mereka biasanya tinggal dua hari. Makanya, selama di sini, mereka menginap di rumah yang disewakan warga,” tuturnya.

Diuraikan Matsaid, warga rela menyewakan rumahnya, tentu bukan tanpa alasan. Tarif sewa yang tinggi, menjadi alasannya. Bayangkan, biaya sewa tersebut, bisa sekitar Rp 2 juta. Nilai tersebut, hanya untuk dua hari hingga tiga hari.

“Banyak pengunjung yang tak keberatan. Bahkan, biasanya mereka saling berebut. Makanya, pemesanan dilakukan jauh-jauh hari. Bila tidak, bisa tidak kebagian,” bebernya. (fun)