Dinsos Kota Probolinggo Data Warga Jadi Korban Gempa-Tsunami Palu

PROBOLINGGO – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Probolinggo masih mendata korban gempa Palu yang berasal dari Kota Probolinggo. Masih belum diketahui pasti berapa jumlah korban, baik yang kembali ke Kota Probolinggo atau masih bertahan di Sulawesi.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinsos Kota Probolinggo Zainullah pada Jawa Pos Radar Bromo, Senin (8/10). “Saat ini masih proses pendataan. Staf sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial serta BPBD Jawa Timur,” terangnya.

Sejauh ini, dari informasi yang diterima, Erfan Afandi, 43, warga Jalan Cokroaminoto, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, yang bekerja di Palu hingga kini belum memberikan kabar pada keluarga. Hal ini membuat keluarga gelisah.

Yulita, 39, adik Erfan mengatakan, sang kakak bekerja di perusahaan rokok Sampoerna di Palu mulai 2005 lalu. Selanjutnya, pada tahun 2007, ia pulang ke Kota Probolinggo dan menikah dengan Indri Mariana, 37, asal Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. “Istrinya diboyong ke Palu pascanikah,” terangnya.

Sepekan sebelum terjadi gempa, Yulita mengaku masih bisa berkomunikasi dengan Erfan. Saat itu, Erfan mengaku tengah berada di Bali untuk urusan kantornya. “Dia ngabari melalui melalui WA keluarga,” tambahnya.

Pada saat terjadi gempa dan tsunami di Palu, pihak keluarga berupaya menghubungi Erfan beserta keluarganya. Sayangnya, nomor HP milik Erfan dan istrinya tak bisa dihubungi.

Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk menghubungi pihak Sampoerna Probolinggo. Pihak perusahaan juga telah melakukan kontak dengan manajemen Sampoerna di Palu.

“Pihak Sampoerna Probolinggo sudah ke rumah saya. Sampoerna Palu juga sudah menghubungi saya. Mereka masih mencari keberadaan kakak dan keluarganya,” terangnya. Ia berharap, Erfan dapat segera ditemukan, sehingga pihak keluarga tidak resah dan panik lagi. (put/rf/mie)