Desa Kesulitan Air Bersih Bertambah saat Puncak Kemarau, Pemkab Tambah Anggaran

LUMBANG – Bulan ini merupakan puncak musim kemarau. Di Kabupaten Pasuruan, desa yang terdampak kekeringan bertambah satu. Tidak hanya itu. Di sejumlah desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menambah intensitas pengiriman air bersih.

Bakti Jati Permana, kepala BPBD Kabupaten Pasuruan menjelaskan, awal Oktober ini masih menjadi puncak musim kemarau. Memang, hujan sempat turun beberapa kali di bulan September. Namun, itu tak berdampak langsung kepada sumber air ataupun sungai di Kabupaten Pasuruan.

“Saat ini pengiriman air bersih masih rutin kami lakukan ke 20 desa di 8 kecamatan yang kesulitan air bersih sejak bulan Juni. Dan, sejak sepekan lalu, bertambah satu desa yang terdampak kekeringan. Yaitu, Desa Kedung Pengaron di Kecamatan Kejayan,” jelasnya.

Menurutnya, Desa Kedung Pengaron sejatinya tidak termasuk desa yang rawan kekeringan saat musim kemarau. Hanya saja, saat ini ada kerusakan pompa air di sana. Warga setempat pun mulai kesulitan mendapat air basih. Karena itu, sejak seminggu terakhir, Dinas PU Cipta Karya Kabupaten Pasuruan menyuplai air bersih ke Kedung Pengaron.

Selain itu, menurut Bakti, pihaknya menambah intensitas pengiriman air bersih sejak pertengahan September ke beberapa desa. “Ada yang kami tambah intensitas pengiriman air bersih. Kalau dulu dua kali sehari, bertambah menjadi tiga kali sehari. Penambahan intensitas ini khususnya di Kecamatan Lumbang, Winongan, dan Pasrepan,” jelasnya.

Intensitas kiriman air bersih ditambah karena jumlah dusun yang terdampak kekeringan di sejumlah desa, bertambah. “Sebelumnya, dalam satu desa hanya 2 sampai 3 dusun yang terdampak. Sekarang bertambah menjadi 3 sampai 4 dusun yang terdampak. Sehingga, kebutuhan air bersih menjadi lebih tinggi,” lanjutnya.

Di sisi lain, menurutnya, pengiriman air bersih juga dibantu instansi lain. Seperti Dinas Sosial, Dinas Perumahan, PDAM, PMI, dan CSR perusahaan.

Bakti menyebut, prediksi hari tanpa hujan menurut BMKG, masih berlangsung sampai akhir Oktober. “Harapannya, awal November sudah mulai turun hujan. Sehingga, tidak menyulitkan masyarakat mendapatkan air bersih,” pungkasnya.

Kesulitan air yang melanda beberapa desa, membuat anggaran untuk penyediaan air bersih membengkak. BPBD Kabupaten Pasuruan pun mengajukan tambahan anggaran hingga Rp 300 juta untuk penyediaan air bersih, bulan ini.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana menuturkan, anggaran untuk penyediaan air bersih yang dialokasikan sebelumnya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam penyaluran air bersih. Padahal, dana yang disiapkan cukup besar. Yaitu, sekitar Rp 300 juta dialokasikan untuk Juli – September 2018.

Menurut Bakti, kemarau yang masih melanda, membuat kebutuhan akan penyaluran air bersih menjadi tinggi. Imbasnya, ia kembali mengajukan anggaran yang akan dipakai untuk bulan Oktober.

“Kami semula menyiapkan dana Rp 300 juta untuk penyaluran air bersih. Estimasinya, Oktober sudah tak lagi ada krisis air. Kenyataannya, kemarau masih melanda. Sehingga, membuat kebutuhan akan penyaluran air bersih masih terjadi,” bebernya.

Ia mengaku, pengajuan tambahan anggaran tengah diusulkan. Nilainya mencapai Rp 300 juta. Dana itu dialokasikan untuk memenuhi permintaan akan air bersih di bulan ini.

Kebutuhan terbilang tinggi karena intensitas penyaluran air bersih semakin ditingkatkan. “Setiap hari kami salurkan air bersih,” tambahnya.

Dikatakan Bakti, krisis air bersih melanda 20 desa di lima kecamatan yang ada di Kabupaten Pasuruan. Kelima kecamatan yang mengalami krisis air bersih itu, mulai dari Lumbang, Winongan, Lekok, Pasrepan, dan Gempol. Dan saat ini, bertambah satu desa di Kecamatan Kejayan. (eka/fun)