Hutan yang Terbakar Sudah Mencapai 300 Hektare, Saat Ini Masih Rawan

PRIGEN – Kebakaran hutan di Pasuruan, memang tidak lagi terjadi dalam sepekan terakhir. Namun, kebakaran masih rawan terjadi. Baik di wilayah Perhutani, maupun Tahura R. Soerdjo. Mengingat, hujan belum juga turun.

Karena itu, pengamanan hutan (pamhut) terus memperketat patroli. Untuk mengantisipasi kebakaran hutan yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

Seperti yang disampaikan Dedi Hadiana, kepala seksi UPT Tahura R. Soerdjo wilayah Malang di Pasuruan. Menurutnya, saat ini hujan belum turun. Andai turun pun, intensitasnya masih sangat rendah. Karena itu, kondisi hutan memang kering. Baik di wilayah Perhutani, maupun Tahura R. Soerdjo. Dengan kondisi yang sangat kering, maka kebakaran masih bisa terjadi kapanpun.

“Di puncak dan lereng gunung memang sempat turun hujan, tapi sudah jarang. Otomatis vegetasi yang ada masih banyak yang kering. Jadi, kebakaran hutan masih rawan terjadi,” ungkapnya.

Sementara itu, menurutnya, kebakaran hutan yang terjadi sepekan terakhir di awal bulan ini, telah membakar 300 hektare lahan. Penyebabnya ada dua faktor.

Kebakaran hutan di bawah atau di wilayah Perhutani, terjadi akibat pembukaan lahan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Sedangkan kebakaran di atas atau di wilayah Tahura R. Soerdjo, terjadi karena perburuan liar.

Para pemburu, sengaja membakar vegetasi yang ada. Tujuannya, agar hewan buruannya keluar dan terlihat. Sehingga, mereka bisa lebih mudah menangkap hewan yang diburu.

“Mudah-mudahan kasus serupa tidak terjadi lagi, cukup yang kemarin saja. Saat ini kami memaksimalkan Pamhut patroli rutin. Sehingga bisa mengantisipasi kebakaran yang mungkin terjadi,” bebernya.

Tak hanya itu. Pihaknya juga gencar dan aktif melakukan sosialisasi ke masyarakat. Utamanya warga di desa penyangga hutan.

“Kami minta warga menjaga kelestarian hutan. Termasuk menjaga hutan dari kebakaran hutan adalah tugas bersama. Kami tidak bisa sendirian, tapi juga melibatkan masyarakat,” cetusnya. (zal/fun)